Apel untuk Istriku - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Sumber ilustrasi: freepik.com

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 23 September 2022 13:22 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Apel untuk Istriku

    Dalam perjalanan pulang setelah seharian mencoba mengajarkan tata bahasa kepada anak-anak kelas sembilan, aku mampir di minimarket. Istriku menyuruhku untuk membeli apel matang yang sudah siap untuk dimakan, bukan jenis yang perlu disimpan dulu selama berhari-hari.

    Dibaca : 282 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dalam perjalanan pulang setelah seharian mencoba mengajarkan tata bahasa kepada anak-anak kelas sembilan, aku mampir di minimarket. Istriku menyuruhku untuk membeli apel matang yang sudah siap untuk dimakan, bukan jenis yang perlu disimpan dulu selama berhari-hari.

    Itulah yang terjadi terakhir kali. Jadi aku mengambil setiap apel, memeriksanya dengan menekan di antara ibu jari dan jari telunjuk untuk memastikan bahwa itu sudah matang. Apel jenis manalagi dari Malang, kesukaan istriku. Bulan lalu aku tidak sengaja membeli Granny Smiths impor dari Amerika. Dia benci apel jenis ini, lebih karena nama daripada rasanya. "Aku belum menjadi nenek," teriaknya. Dia bukan lagi wanita yang sama saat menikah denganku sejak aku membawa anjingnya jalan-jalan dan ditabrak oleh ambulans.

    Aku membawa keranjang belanja berisi apel ke konter dan berdiri mengikuti antrean. Kasir sedang berbicara dengan pelanggan tentang harga yang naik dan betapa buruknya kinerja pemerintah. Aku melihat ponseku untuk mengetahui berapa banyak waktu yang tersisa sebelum keretaku berangkat. Sembilan menit.

    Seorang pria dan wanita saling berteriak di luar kios. Mereka kurus dan sama-sama mengenakan pakaian olahraga, tetapi mereka bukan atlet. Rambut pria gondrong dan kusut sedangkan wanita rambutnya dicat putih.

    Mereka berdiri berhadap-hadapan, melompat-lompat di atas kaki mereka. Wanita berkali-kali mengatakan bahwa dia akan sukses besar kali ini. Pria mengatakan padanya bahwa si wanita akan memberinya sukses besar berupa pukulan di wajah. Keduanya saling menyumpah, banyak mengulangi kata-kata umpatan yang sama berulang-ulang. Pria bersumpah setelah setiap kata ketiga dan wanita bersumpah di awal dan akhir setiap kalimat. Mereka terus bertengkar sambal menyeberang jalan.

    "Silakan," kata kasir lagi.

    "Maaf," jawabku, mengalihkan pandanganku dari sepasang pengacau itu.

    Kasir menimbang apel.

    "Ini sudah cukup matang untuk langsung dimakan?"

    “Kami hanya menjual apel yang bagus. Perlu kantong plastik?”

    Aku melihat kantong plastik di tangannya. Aku ingin mengatakan bahwa masukkan saja ke dalam kantong plastik sialan itu, tetapi yang keluar dari mulutku malah, malah berkata, “Tidak, terima kasih.”

    "Bagaimana Anda akan membawanya, dengan tangan?"

    "Baiklah, kantong plastik juga boleh," kataku, merasakan pipi panas karena malu. Aku memberinya uang kertas lima puluh ribu dan bergegas pergi tanpa menunggu kembalian.

    "Hei," teriaknya tapi aku terus berlari.

    Di stasiun, aku melihat pasangan itu bersandar di dinding. Mereka berdua menatap kosong seolah-olah mereka baru saja saling berbagi pukulan, dan ini melegakan karena aku tidak ingin mendengar mereka berteriak lagi.

    Kereta berderak masuk dan aku bergabung dengan kerumunan orang untuk naik.

    Wanita itu tersandung saat dia melangkah ke kereta. Aku berada di belakangnya dan melihat lututnya tiba-tiba menekuk tanpa alasan yang jelas. Dia jatuh ke arahku dan menjatuhkan kantong apel dari tanganku. Buah apel jatuh menggelinding ke celah antara kereta dan peron.

    "Sial!" kataku sambil mengintip apel yang tergeletak di dekat roda kereta.

    Pria itu meraih tangan wanitanya dan menyeretnya ke dalam kereta. Aku duduk beberapa kursi dari mereka.

    Wanita itu berbaring di paha pria di kursinya, menghadap ke atas dengan mulut terbuka. Matanya tertutup dan wajahnya pucat pasi. Pria itu mengguncangnya beberapa kali dan aku melihat air mata mengalir di pipinya. Dia terlihat agak yang gila, tidak fokus pada apa pun. Pria menepuk kepala wanita dan mencium rambutnya.

    “Overdosis narkoba,” pikirku.

    Aku mencoba melihat apakah dadanya bergerak, tetapi tidak tampak adanya gerakan naik atau turun.

    Wanita itu tampaknya sudah mati dan aku tahu aku juga akan mati begitu tiba di rumah tanpa membawa apel untuk istriku.

     

    Bandung, 23 September 2022

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.




    Oleh: I. Jepris Mitang

    22 jam lalu

    Ruang Makan

    Dibaca : 121 kali


    Oleh: I. Jepris Mitang

    22 jam lalu

    Hotel Mewah

    Dibaca : 114 kali






    Oleh: Merta Merdeka

    1 hari lalu

    Pamit!

    Dibaca : 147 kali