Kasus Ferdy Sambo dan Kisah Firaun - Analisis - www.indonesiana.id
x

Irjen Pol Ferdy Sambo ditahan di Mako Brimob Polri, Sabtu sore, 6 Agustus 2022.Foto-Ist.

trimanto ngaderi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 September 2022

Jumat, 23 September 2022 19:35 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Kasus Ferdy Sambo dan Kisah Firaun

    Kasus pembunuhan Brigadir Joshua merupakan pembuka jalan (entry point) bagi terungkapnya berbagai kasus-kasus lain yang lebih besar dan lebih berdampak terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Dibaca : 485 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    KASUS FERDY SAMBO DAN KISAH FIR’AUN

     

    Siapa sih yang tidak mengenal Fir’aun. Namanya diabadikan di dalam kitab suci tiga agama samawi. Di dalam Al Qur’an, sosoknya diceritakan secara detail dan berulang-ulang, terutama kisah yang berkaitan dengan seorang Rasul Tuhan, yaitu Musa. Seorang raja yang agung, kuat, dan kaya-raya yang berakhir dengan tragis, mati tenggelam di Laut Merah.

    Kisah Fir’aun tidak melulu soal penentangannya terhadap dakwah Nabi Musa as yang mengajaknya kepada agama tauhid, akan tetapi lebih besar dan lebih kompleks daripada itu. Adalah kisah seorang penguasa yang zalim dan tiran. Penguasa yang menindas rakyatnya demi mempertahankan kekuasaan dan menumpuk kekayaan dengan menghalalkan berbagai cara. Penguasa yang melakukan diskriminasi yaitu memperbudak bangsa Ibrani (Bani Israil) untuk berbagai kepentingan.

    Sebagai bangsa pendatang di tanah kerajaan Mesir, Bani Israil mendapatkan perbedaan perlakuan dan penindasan. Bahkan, ketika Fir’aun bermimpi bahwa tahtanya akan digulingkan oleh seorang bayi laki-laki yang akan lahir dari Bani Israil, maka dengan sadisnya ia memerintahkan setiap bayi yang lahir harus dibunuh di tempat tanpa perikemanusiaan.

    Pemerintahan Fir’aun sekalipun terlihat agung dan megah, namun pada dasarnya di dalamnya keropos dan lemah. Orang-orang yang berada di seputar kekuasaan adalah para penjilat, koruptor, para mafia, termasuk juga para tukang sihir. Tuhan sengaja mengutus Musa untuk mengingatkan Fir’aun dan para pembantunya agar kembali kepada jalan yang benar, meninggalkan paganisme dan berlaku adil.

    ***

    Demikian halnya pada kasus Ferdy Sambo, ini tidak hanya sebatas soal pembunuhan Brigadir Joshua semata, melainkan lebih luas dari itu. Sejauh berita dan pengamatan yang saya ikuti selama ini, terungkap juga adanya kasus perjudian, korupsi, suap, penyalahgunaan wewenang, Satgassus, mafia Polri dan Kejaksaan Agung, dan lain-lain yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu. Termasuk juga jika dihubungkan dengan kepentingan politik dan ekonomi.

    Di sini saya tidak akan membahas lebih jauh terkait kasus FS dan kasus-kasus ikutannya. Saya hanya ingin menggarisbawahi bahwa kasus pembunuhan Brigadir Joshua merupakan pembuka jalan (entry point) bagi terungkapnya berbagai kasus-kasus lain yang lebih besar dan lebih berdampak terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Terbongkarnya kasus FS dan kasus ikutannya sudah menjadi kehendak Tuhan. Barangkali  Tuhan sudah teramat geram melihat kezaliman di negeri Nusantara ini. Ketidakadilan, penindasan, kesewenang-wenangan, penipuan, pengkhiatan, manipulasi, rekayasa, dan semacamnya dalam berbagai bidang kehidupan telah begitu menggurita; bagaikan lingkaran setan (the circle of satan) yang telah membelenggu para penguasa dan penegak hukum negeri ini  dengan begitu kuat dan kokoh.

    Tuhan ingin menyentil negeri ini lewat kasus Duren Tiga. Kita semua sebagai warga negara yang berasaskan Pancasila ini sudah begitu lelah dengan berbagai kasus besar, skandal dan kejahatan, pelanggaran HAM, suap dan korupsi, dan berbagai tindak kriminal lainnya. Kita semua berharap agar ada keadilan di negeri ini, ada penegakan hukum yang tidak tebang pilih, ada keteladanan dari para penguasa dan penegak hukum, serta hukum dapat dijunjung tinggi di negeri ini.

    Buat apa ilmu hukum dipelajari hingga S3. Untuk apa pula dibentuk lembaga hukum seperti Mahkamah Agung, Kejaksaan Agung/Tinggi, Pengadilan Tinggi, Komas HAM, Komnas Perempuan, dll. Sekiranya hukum hanya untuk dipermainkan. Jikalau hukum hanya untuk direkayasa dan dimanipulasi. Apabila masih ada oknum yang kebal hukum. Jika hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

    ***

    Begitulah, mengapa Fir’aun diabadikan oleh Allah di dalam kitab sucinya. Bahwa Fir’aun bukan sekedar nama belaka, namun merupakan sebuah karakter atau sifat. Oleh karena itu, sampai akhir zaman nanti akan selalu muncul Fir’aun-Fir’aun baru baik itu seseorang yang memiliki kekuasaan maupun orang biasa. Wallahu a’lam bish-shawab.

    Ikuti tulisan menarik trimanto ngaderi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.