Kiamat Telah Tiba (40): Topeng 3D - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Meteoroids are billions of years old

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 23 September 2022 19:45 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Kiamat Telah Tiba (40): Topeng 3D

    "Tidak mengherankan jika Mireille bisa membedakannya,” kata Vivienne, “walaupun ada saja pasangan yang tertipu untuk sementara.” “Agak membingungkan,” kata Mireille saat dia menatapku dan kemudian melihat agen DGSI Fabrice Rahim, yang masih mengenakan topeng lateks bertekstur kulit yang mirip denganku. "Terlihat sangat nyata," lanjut Mireille. "Kalau aku tidak mengenal Jules dengan baik, aku tidak akan berpikir ada sesuatu yang aneh."

    Dibaca : 317 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    23 April

     

    "Tidak mengherankan jika Mireille bisa membedakannya,” kata Vivienne, “walaupun ada saja pasangan yang tertipu untuk sementara.”

    “Agak membingungkan,” kata Mireille saat dia menatapku dan kemudian melihat agen DGSI Fabrice Rahim, yang masih mengenakan topeng lateks bertekstur kulit yang mirip denganku. "Terlihat sangat nyata," lanjut Mireille. "Kalau aku tidak mengenal Jules dengan baik, aku tidak akan berpikir ada sesuatu yang aneh."

    “Apakah badan-badan intelijen sering melakukan ini?” tanyaku.

    “Teknologi printer 3D dengan mudah memproduksi topeng-topeng. Jadi telah banyak digunakan, tidak hanya oleh kami, tetapi juga oleh mereka yang kami kejar,” jelas Vivienne. “Sangat mungkin wajah Arcarius yang Anda lihat melalui videocall dan dalam foto-foto George Ames dibuat dengan cara itu. Menjelaskan mengapa kami tidak dapat menemukan kecocokan dengannya di database mana pun.”

    "Topeng ini dapat dipakai atau dilepas dalam waktu sekitar dua menit," tambah Fabrice Rahim.

    "Jadi, kau akan pergi ke Washington menggantikanku dengan Robin Marsh," kataku pada Fabrice.

    “Masuk akal pada tahap ini,” kata Elena. “Kita perlu berdiskusi dengan Gedung Putih untuk mencoba mengklarifikasi apa yang mereka pahami tentang CASH, Arcarius, asteroid dan rudal nuklir, dan apa yang ingin mereka lakukan. Kami menduga bahwa George Ames bermaksud membunuh Jules atas instruksi dari kelompok AS tingkat tinggi dan terselubung, terbukti dengan kekebalan diplomatik Ames. Jadi kami benar-benar membutuhkan agen terlatih untuk menggantikan Anda, Jules.”’

    "Artinya aku dan Jules tidak ke mana-mana terkurung di sini," kata Mireille, memandang Vivienne.

    "Saya ingin Anda berdua pergi ke Larroque," kata Vivienne kepada aku dan Mireille. "Saya pikir apa yang dikatakan Mireille kepada saya sebelumnya benar," tambah Vivienne. “Kita dalam keadaan yang sangat aneh. Waktu tidak berada di pihak kita, dan kita harus menggunakan keahlian orang-orang yang kita miliki dengan sebaik-baiknya. Solange dan Blanc, misalnya, sedang memeriksa uskup Viktor Sakarov dan Mikail Johansonn.”

    “Blanc?” kataku terkejut.

    "Kejadian-kejadian berlangsung cukup cepat saat ini," jawab Vivienne. “Blanc untuk sementara meninggalkan tanah pertanian dan ternak domba dan bergabung dengan DGSI.”

    "Kamu ingin aku dan Jules pergi ke Larroque untuk menyelidiki Adam Hollander," kata Mireille.

    “Oui, s’il vous plait,” kata Vivienne. “Walaupun sebenarnya saya ingin Elena pergi bersama Anda berdua sebagai cadangan dan juga juga mengajarkan bagaimana mendapatkan informasi.”

    "Ada satu masalah," kataku. “Siapa pun yang terkait dengan CASH mungkin akan mengenali aku dan Mireille.”

    Vivienne melihat ke sudut ruangan, tempat pemindaian laser berdiri yang dapat merekam profil wajah yang tepat dalam waktu kurang dari satu menit. Di sampingnya ada printer 3D yang tidak hanya dapat menghasilkan topeng lateks, identik dalam setiap detailnya dengan wajah yang dipindai, tetapi juga menyediakannya dengan alas yang pas dengan fitur wajah asli pemakainya.

    “Benar,” kata Vivienne menjawab kekhawatiranku. “Anda ingin menjadi siapa?”

    ***

    “Kamu menikmati ini, bukan?” kataku pada Mireille saat kami kembali ke kamar kami.

    "Aku selalu merasa bahwa ada sesuatu yang kurang di kehidupan Outreau," katanya dengan nada serius.

    “Seperti kelompok penganut agama fanatic gila, plot internasional, dan tabrakan asteroid,” kataku.

    "Itu kan, baru-baru saja terjadi," jawabnya, tersenyum. Dia memegang lenganku. "Ada hal lain yang juga kurang."

    “Apa itu?” tanyaku.

    'Dengan semua penyamaran yang realistis ini,” Mireille menjawab, “kita sebagai mata-mata tidak bisa terlalu berhati-hati setiap saat. Maksudku, sebelum aku mengulangi kata-kataku, bagaimana aku tahu bahwa yang kepegang ini Jules yang sebenarnya?”

    Dia memutar kunci dan membuka pintu kamar kami. "Hanya ada satu cara aku bisa yakin bahwa kamu adalah dirimu yang kamu katakan," lanjutnya, menatap mataku. "Aku ingin membuktikannya sepanjang malam di tempat tidur bersamamu."

     

    BERSAMBUNG

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.




    Oleh: I. Jepris Mitang

    22 jam lalu

    Ruang Makan

    Dibaca : 120 kali


    Oleh: I. Jepris Mitang

    22 jam lalu

    Hotel Mewah

    Dibaca : 113 kali






    Oleh: Merta Merdeka

    1 hari lalu

    Pamit!

    Dibaca : 146 kali