Mengenal Wisata Halal - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Senin, 26 September 2022 11:19 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Mengenal Wisata Halal

    Jumlah kedatangan wisatawan muslim pada 2019 ada 160 juta orang. Angkanya di masa pandemi surut drastis. Pada tahun 2023 diperkirakan ada 140 juta orang dan pada 2024 diperkirakan naik menjadi 160 juta orang wisatawan muslim.  Sungguh angka yang menggiurkan. Sayangnya mayoritas dari mereka belum memilih Indonesia sebagai destinasi utamanya. Malaysia masih menjadi tujuan utama mereka. 

    Dibaca : 959 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang  Udoyono, penulis buku

     

    Pengantar 

    Dunia pariwisata, seperti lazimnya bidang lain, mengalami dinamika yang lumayan baik.  Dulu kita hanya mengenal istilah wisata saja. Paling kepanjangannya pariwisata. Belum ada embel embel kata halal.    Sekarang ada berbagai istilah.  Selain wisata halal, ada istilah sharia tourism alias wisata syariah. Ada juga istilah wisata Muslim. Ada juga Muslim friendly tourism (pariwisata ramah muslim)

    Belum semua anggota masyarakat paham dengan istilah ini. Lebih parah lagi ada orang yang sudah bertindak hanya berdasarkan ketidakpahaman. Tidak salah kalau orang menyebutnya ngawur.   Maka pertanyaannya, apakah wisata halal itu?

    Wisata halal / ramah muslim

    Secara gampangnya wisata halal adalah kegiatan wisata yang mengakomodasi kebutuhan dan kewajiban muslim.  Apa itu kewajiban dan kebutuhan muslim?

    Muslim diwajibkan solat lima waktu sehari semalam setiap hari sepanjang hidup mereka. Karena itu mereka membutuhkan tempat dan waktu solat.  Muslim juga diwajibkan makan dan minum yang halal. Maka mereka membutuhkan makanan dan minuman yang halal. Jadi selama perjalanan mereka butuh rumah makan halal.

    Rumah makan halal ini ada beberapa kategori. Idealnya adalah rumah makan halal yang sudah memiliki sertifikat halal dari lembaga yang memiliki kewenangan.  

    Muslim dilarang berbuat maksiat seperti berjudi, berzina, dan semua kegiatan maksiat. Jadi itinerarynya harus baik. Selama tour harus tidak ada kunjungan ke rumah judi, prostitusi, dukun, dan semua yang dilarang Islam.

    Mereka butuh kegiatan wisata yang positif dan mencerahkan.  Jadi mereka butuh destinasi wisata yang bersih dari kegiatan maksiat. Lebih baik lagi jika destinasi wisatanya bersih dari Islamophobia. 

    Jadi destinasi wisata yang ramah muslim idealnya harus ada toilet dan kamar mandi yang bersih. Fasilitas untuk solat juga idealnya harus ada. Termasuk tempat wudhu yang bersih, aman dan nyaman.  Artinya ada tempat duduk untuk wudhu dan air bersih yang mengalir agar wisatawan muslim aman.

    Lebih ideal lagi di destinasi wisata ada masjid. Paling tidak tempat solat yang bersih dan cukup luasnya untuk menampung para peserta tour.
    Sebaiknya fasilitas yang bersahabat untuk muslim itu tersedia di banyak tempat. Bandara sebaiknya memiliki musola. Sekarang sudah banyak bandara di manca negara yang memilikinya meskipun di negeri yang mayoritas non muslim.  Demikian juga rumah makan halal idealnya tersedia di banyak tempat seperti bandara, di kota atau wilayah yang dilalui. 

    Hotel atau tempat penginapan juga harus yang bersahabat dengan muslim. Syaratnya banyak, antara lain, ada kolam renang yang terpisah antara laki laki dan perempuan. Makanan yang disajikan juga harus halal. Kemudian tidak ada kegiatan maksiat atau musyrik. 

    Potensi wisata halal

    Menurut Global Muslim Travel Index wisatawan muslim berasal dari 200 negara. Jumlah populasi Muslim di tahun 2022 ada 2 milyar orang lebih. Pada tahun 2030 diperkirakan populasinya bertambah menjadi 2,3 milyar orang.   Sekitar 23% dari mereka adalah kaum milenial.

    Jumlah kedatangan wisatawan muslim pada 2019 ada 160 juta orang. Angkanya di masa pandemi jelas surut drastis. Pada tahun 2023 diperkirakan akan ada 140 juta orang dan pada 2024 diperkirakan akan ada 160 juta orang wisatawan Muslim. 

    Sungguh angka yang menggiurkan. Sayangnya mayoritas dari mereka belum memilih Indonesia sebagai destinasi utamanya. Malaysia masih menjadi tujuan utama mereka. 

    Pengeluaran wisatawan muslim adalah 12% dari pengeluaran wisatawan global.  Wisatawan Saudi Arabia mengaluarkan 17,8 juta dolar, Iran 14,3 juta dolar, Emirat Arab 11,2 juta dolar, Qatar 7,8 juta dolar, Malaysia 5,7 juta dolar, Rusia 5,4 juta dolar, Turki 4,5 juta dolar, Nigeria 4,4 juta dolar. (The World Halal Travel Summit)

    Melihat potensi yang menggiurkan tersebut, apakah kita akan ribut terus atau menyiapkan dengan lebih serius lagi agar mendapat ‘kue’ lebih banyak?  

    Situasinya sudah jelas, pilihannya terserah Anda. Tapi kalau pikiran yang rasional mestinya memilih menyiapkan pariwisata ramah muslin dengan lebih baik lagi agar kita mendapat porsi ‘kue’ yang lebih besar lagi. Toh ‘kue’ itu bisa dinikmati oleh smeua golongan. Tentu saja yang siap memberilakan layanan prima kepada wisatawan muslim.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.