Produksi Meningkat Selama Pandemi, Harga Telur Sempat Anjlok - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

telur ayam

slow lifestyle

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 27 September 2022

Selasa, 27 September 2022 13:07 WIB

  • Peristiwa
  • Topik Utama
  • Produksi Meningkat Selama Pandemi, Harga Telur Sempat Anjlok

    Telur merupakan sumber protein sehingga banyak dijadikan alternatif masyarakat. Namun, pada masa pandemi harga telur mengalami penurunan.

    Dibaca : 674 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

       Telur adalah salah satu bahan makanan yang bisa diandalkan dan kerap dijadikan sebagai menu sarapan. Selain praktis, telur juga mengandung berbagai macam nutrisi yang penting untuk tubuh. Telur dikenal sebagai sumber protein tinggi dan penghasil komponen bioaktif. Oleh sebab itu, telur bisa meningkatkan imunitas tubuh. Hampir semua lapisan masyarakat dapat mengkonsumsi telur sebagai sumber protein hewani. Hal ini disebabkan karena telur merupakan bahan makanan yang mudah diperoleh, mudah diolah, dan harganya relatif terjangkau.

       Pada masa pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia pada Maret 2020 dan pemerintah menetapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kebijakan ini pada awalnya memberikan pengaruh pada kegiatan distribusi bahan baku dan kegiatan industry yang terganggu. Namun, seiring berjalannya waktu, kebijakan ini memberikan dampak pada dua pilar ekonomi lainnya yaitu konsumsi dan produksi. Hal ini dapat dilihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional yang turun tajam pada triwulan II-2020 terhadap triwulan II-2019 sebesar 5,32%.  

       Menurut line chart data dari publikasi jumlah produksi telur ayam petelur oleh BPS, produksi telur ayam petelur pada tahun 2016-2021 mempunyai trend yang naik. Pada tahun 2016 produksi telur ayam petelur sebesar 1485687 ton dan produksi telur ayam petelur terus naik dari tahun ke tahun. Pada range tahun 2016-2019 produksi telur ayam petelur mengalami peningkatan yang cenderung sedikit. Sedangkan pada tahun 2020 produksi telur ayam petelur sebesar 5.141.570 ton yang artinya produksi telur ayam petelur mengalami peningkatan sebesar 388,188 ton dari tahun sebelumnya yang mana produksi telur ayam petelur pada tahun 2019 sebesar 4.753.382 ton.

       Meningkatnya produksi telur pada masa pandemi sebenarnya tidak memberikan keuntungan yang berarti bagi para peternak telur. Hal ini dikarenakan adanya ketidakstabilan antara supply dan demand.Menurut publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) berjudul Statistik Harga Konsumen Perdesaan Kelompok Makanan tahun 2020 harga telur di Bengkulu sempat mencapai Rp 17.653,00 per kilogram.

       Konsumen sangat diuntungkan dengan turunnya harga telur di pasaran. Namun sebaliknya, peternak telur sangat dirugikan. Banyak peternak mandiri menutup usaha ternak telur ayam petelur. Hal ini dikarenakan turunnya harga telur namun tidak dengan harga pakan ayam petelur. Bahkan untuk harga jagung yang mana adalah pakan campuran untuk ayam petelur malah naik. Begitu juga dengan pakan lainnya.

       Untuk mengatasi masalah tersebut, Kementrian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) berupaya untuk menstabilkan harga telur ayam petelur. Upaya penstabilan harga telur ayam petelur dilakukan dengan koordinasi Kementrian/Lembaga dan Pemerintah Daerah untuk melakukan penyerapan telur ayam petelur. Misalnya dengan cara memasukkan telur ayam petelur ke dalam bagian bantuan sosial. Upaya lainnya yang dilakukan adalah menurunkan dan menstabilkan harga jagung atau pakan ayam. Dengan dilakukannya upaya-upaya di atas diharapkan harga telur ayam akan stabil dan konsumen serta peternak telur ayam petelur mendapatkan keuntungan.

    Ikuti tulisan menarik slow lifestyle lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.