Deteksi Gangguan Pendengaran Sejak Dini, Bantu Anak Maksimalkan Golden Age - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Menggambarkan anak tunarungu

Pipiet Palestin Amurwani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Rabu, 28 September 2022 08:45 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Deteksi Gangguan Pendengaran Sejak Dini, Bantu Anak Maksimalkan Golden Age

    Melakukan skrining pendengaran sejak dini memberi kesempatan pada anak untuk mendapatkan perkembangan golden agenya dengan maksimal, termasuk kemampuan bahasa sesuai dengan usianya. Gangguan berbahasa yang terjadi pada anak akan membawa dampak yang cukup serius dalam kehidupannya nanti.

    Dibaca : 798 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Melakukan skrining pendengaran sejak dini memberi kesempatan pada anak untuk mendapatkan perkembangan golden age-nya dengan maksimal termasuk kemampuan bahasa sesuai dengan usianya. Golden age merupakan periode penting dalam masa perkembangan anak. Masa golden age adalah masa emas pada anak-anak di awal kehidupannya yaitu pada usia 0-5 tahun. Fase ini penting untuk diperhatikan oleh orang tua karena pada fase ini pertumbuhan anak berkembang begitu pesat.

    Salah satu yang berkembang pesat pada fase golden age adalah kemampuan berbahasa. PahlavanNezhad dalam artikelnya “Comparison of the Speech Syntactic Features between Hearing-Impaired and Normal Hearing Children” mengatakan The first 36 months of a child's life are critical for language learning, and are incomparable with any other periods of life in terms of language acquisition.  Bahwa 36 bulan petama kehidupan seorang anak sangat penting untuk belajar bahasa, dan tidak bisa dibandingkan dengan periode kehidupan lainnya dalam hal perolehan bahasa.

    Orang tua seringkali merasa khawatir jika pada usia 3 tahun anak mereka belum bisa bicara. Hal itu sangatlah wajar, karena anak adalah tumpuan masa depan orang tua yang kelak diharapkan akan menjadi kebanggaan keluarga.

    Selain itu, kondisi sosial masyarakat kita yang kerap mempertanyakan mengapa anak belum bisa bicara tak seperti teman-teman sebayanya. Pertanyaan semacam itu menjadi beban psikologi bagi ibu yang memiliki anak dengan gangguan bicara. Tak seorang pun menginginkan anaknya lahir dengan kekurangan. Namun, terkadang hidup tak seperti yang diharapkan. Menurut World Health Organization (WHO), pada tahun 2019 diperkirakan terdapat sekitar 466 juta orang di dunia mengalami gangguan pendengaran, dimana 34 juta diantaranya merupakan anak-anak.

    Bahasa sebagai instrumen komunikasi berperan dalam menyampaikan pesan dari penutur kepada pendengarnya. Seperti pendapat Gorys Keraf (2004) bahwa bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Sementara komunikasi menurut kamus Macquire dalam Bunawan (1996) adalah keberhasilan dalam menyampaikan pesan/pikiran/gagasan seseorang kepada orang lain.

    Salah satu hal yang mempengaruhi proses komunikasi adalah tepatnya artikulasi seseorang. Artikulasi adalah gerakan-gerakan otot bicara yang digunakan untuk mengucapkan lambang-lambang bunyi bahasa yang sesuai dengan pola-pola yang standar sehingga dapat dipahami oleh orang lain. Proses artikulasi bahasa melibatkan sistem yang sangat kompleks dan melibatkan berbagai organ dalam tubuh manusia. Gangguan atau kerusakan pada organ tersebut bisa mengakibatkan terganggunya proses berbicara dan lebih lanjut lagi akan menyebabkan gangguan dalam berbahasa.

    Gangguan berbahasa yang terjadi pada anak akan membawa dampak yang cukup serius dalam kehidupannya terlebih dalam dunia pendidikannya. Anak yang mengalami gangguan bicara akan mengalami masalah-masalah dalam pendidikan dan juga pergaulannya. Diperlukan sikap yang bijak bagi orang tua dan juga guru untuk menangani anak yang berkebutuhan khusus tersebut. Disinilah pentingnya melakukan skrining pendengaran sejak dini pada bayi.

    Saat ini gangguan pendengaran yang dialami banyak anak terdiagnosa cukup terlambat sehingga langkah penanganannya pun terlambat. Tak sedikit anak yang baru terdeteksi gangguan pendengaran setelah melewati masa golden age nya.

    Dalam Hermina Hospitals, DR. dr. Ronny Suwento, Sp.THT-KL(K) mengatakan bahwa skrining pendengaran bayi dimulai pada usia 2 hari, diagnosa pasti usia 3 bulan dan habilitasi pendengaran sebelum usia 6 bulan. Ketulian pada bayi yang diketahui sebelum usia 3 bulan, kemudian memperoleh habilitasi yang optimal diharapkan dapat mencapai kemampuan wicara mendekati anak normal pada usia 36 bulan.

    Skrining pendengaran bayi baru lahir menggunakan pemeriksaan yang bersifat obyektif, automatis, cepat, otomatis, akurat, tanpa rasa sakit, dan sensitifitasnya mendekati 100%. Deteksi dini gangguan pendengaran pada bayi lahir mengalihkan konsep kesehatan kuratif ( pengobatan) menjadi preventif (pencegahan).

    Skrining pendengaran dilakukan pada bayi diharapkan dapat mendeteksi gangguan pendengaran sedini mungkin. Dengan demikian anak-anak dengan gangguan pendengaran akan mendapat penanganan sejak dini, sehingga bisa memiliki masa depan yang lebih cerah. Kelak mereka bisa hidup mandiri dan berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat.

     

     

     

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Pipiet Palestin Amurwani lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.