Transendental (2) - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Data Google. Image Digital Collection Tasch 2022

Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juni 2022

Kamis, 29 September 2022 07:46 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Transendental (2)

    Halo sahabat Indonesiana. Cerpen Transendental (2) Episode Desertir Marginal. Dia desersi karena suatu sebab. Cerita pendek tentang kasih sayang. Hanya itu. Salam baik saudaraku.

    Dibaca : 497 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Episode Desertir Marginal.

    Selesai sudah tugas terakhir. Stop. Tidak ada lagi tujuan pada target tertentu. Senjata di petikemas masuk box privat, tak ada tugas pembunuhan. Tamat. 

    Tobat. Tuntas. Marcel, menutup semua pintu hatinya, untuk kejahatan masa lalu. Tak terhitung korbannya, siapa saja, dari kalangan mana saja. Bayar, lakukan tugas. Bunuh. 

    Kecepatan menembaknya juara. Dia disayang tapi diburu sistemnya sendiri, kini. Tak ada tempat sembunyi sesungguhnya, baginya, selain tetap bertahan. Setiap saat dia bisa mati. Dimanapun. Kapanpun. 

    **

    Dia, menuju sekolah anak perempuannya, amat disayang sepenuh cintanya. Meski dia tak pernah menyentuhnya. Tak ikut membesarkan, sejak kelahiran putri tunggalnya. 

    Tak satupun tahu, dia, punya anak perempuan, kecuali istrinya, terakhir, memberi nomor akta kelahiran anaknya. Identitas istrinya sudah dibersihkan, dinyatakan gugur dalam satu tugas penting. Sejak itu, dia, bergeser jauh dari kehidupan istrinya, demi putri tunggalnya, Margaux. Kini telah mejadi remaja cantik. 

    Sampai sudah di sekolah kejuruan. Marcel, duduk di kejauhan menunggu jam pulang. Hanya ingin melihat, Margaux, putri tercinta dari kejauhan, tak mungkin mendekat. Penuh risiko. Putrinya, belum tentu pula mengenalnya, sekalipun, dia, ayah kandung Margaux. 

    Dia, berdarah campuran. Leluhur, Marcel, mantan perwira menengah komando infanteri, tentara bentukan perlawanan terhadap kaum zaman kolonial, masa agresi kedua. Tersisa dari keluarganya, seorang ayah keturunan asing, istri tercintanya wafat, mempertahankan jiwaraga dalam tugas penting negara. 

    Ayahnya memilih tinggal di lereng gunung tersyahdu terindah dekat kota penuh kenangan kala bersama isteri tercinta. Mengasuh tiga anak. Marcel, bungsu si cerdas, nilainya senantiasa peringkat satu sejak di sekolah dasar, hingga mencapai gelar khusus di akademi militer.

    ** 

    Demi keselamatan ayahnya. Marcel, tak pernah kontak dalam bentuk apapun, meski ayahnya menjamin, aman, di wilayah itu, tak satupun tahu, domisili, latar histori keluarganya. 

    Dua kakak kandung, pendidiknya, mati, sebagai penembak jitu bayaran, profesinya dilanjutkan Marcel, mantan dari tim inti keselamatan negara. 

    Ada babak konspirasi diketahui Marcel. Tak ada penyelesaian, kecuali, dia, bersegera meninggalkan tim inti itu. Demi keselamatan diri juga keluarganya, itupun, tak sepenuhnya menjadi jaminan dalam bentuk apapun.

    Marcel, tak mungkin, bisa menyelamatkan negara sendirian, dari pola konspirasi itu. Profesinya, tak ada pilihan mundur, sesungguhnya. 

    Dia memilih jadi pemburu, pembunuh bayaran independen, kontrak mati dihidupnya. Keputusannya telah mutlak, kini, stop sudah. Terlalu lama dia jadi juara. 

    Lelah sudah. Dia, hanya ingin menikmati hidup sebagaimana wajarnya. Kadang kala tersirat dipikirannya untuk pulang ke lereng gunung itu. Apa mungkin. Dia, khawatir pada sebuah risiko.

    **
    Marcel, duduk adaptif di antara penjual penganan eceran, di celah antara gerobak humberger. Posisinya tepat diagonal, bisa memandang Margaux, keluar, dari gerbang sekolahnya. 

    Dia, menyimpan nomor akta kelahiran putrinya, foto kecil putrinya telah masuk di otaknya, dia, piawai membaca perubahan wajah, sekalipun jarak jauh. Dengan nomor akta itu, Marcel, bisa melacak setiap kali Margaux, pindah sekolah, dari sekolah dasar hingga sekolah kejuruan, kini. 

    Waktu, pukul 14:30 WIB, tak muncul putri kesayangan, di antara kerumunan para siswa, keluar dari gerbang sekolah itu.

    Kini telah pukul 15:27 WIB. Margaux, putri cantiknya, tanpa nama belakang kedua orang tuanya. Nama aslinya menjadi, Margaux Rahmani Ananda Ayuning, nama belakang, berbeda dari nama orang tuanya. 

    Hal itu dilakukan demi keselamatan putri tunggal mereka, dari kejaran musuh masa lalu, kini maupun akan datang para pemburu kaum desersi marginal, terus melacak keberadaan keluarganya. 

    Tak ada tanda kemunculan, Margaux, di antara kelompok siswa, kesekian kalinya, keluar dari gerbang sekolah itu. Waktu telah pukul 16:33 WIB.

    Marcel, mantan komando sunyi tingkat tinggi klasifikasi khusus. Siaga pada titik waspada. Kangen pada putri tunggalnya. Situasi tak boleh berakhir tanpa melihat apapun. 

    Para pedagang telah sepi. Dia menepi, di salah satu sudut aman. Menanti kesempatan menyelinap ke sekolah putrinya. Tekadnya, apapun akan terjadi, terjadilah. 

    Sejak sebelum keberangkatan ke sekolah putrinya, dia, dengan perasaan gamang. Nalurinya mengisyaratkan, membawa senjata dengan kelengkapan prima. Meski nurani Marcel menolak. Refleknya, berhasil menjawab nalurinya, memutuskan membawa senjata. 

    Marcel, secara bertahap berhasil menyelinap ke dalam gedung sekolah Margaux. Dia, tim inti penyelamatan negara, klasifikasi khusus, anonim. Kecepatannya tak dapat dipantau oleh mata telanjang, awam. 

    Dia, masuk ruangan satu persatu. Setiap inci dari setiap ruangan diperiksa oleh akurasinya. Ruang lab, ruang guru, kepala sekolah, menelusuri kelas ke kelas. Toilet pria, wanita, gudang sekolah, masuk ke dalam atap sekolah. 

    Nihil, tak ditemukan satupun tandatanda mencurigakan keberadaan putri tunggalnya, Margaux. Terakhir, dia masuk lewat dapur kantin sekolah, secara saksama, setiap celah di belakang benda apapun terbaca olehnya, tak ada tandatanda ruangan mencurigakan, menjelaskan kemungkinan, telah terjadi sesuatu pada Margaux. 

    “Clear area ...” Itu perasaannya sementara. Agak tenang, tetap kritis, waspada menajam pada indera gaibnya.

    Dia, menelusuri ulang semua sudut sekolah Margaux, koridor, membaca halaman dengan mata inframerah dalam gelap waktu malam. 

    “Blink!” Sesuatu memantulkan kerlip. Melewati arah balik, dia, menuju benda itu. Kini berjarak tiga meter ke benda itu, dari tempatnya merapat ke dinding bagai cicak. Dia, memeriksa lagi dengan mata inframerah, di jarak pandang itu. Ragu, penasaran. 

    Tampaknya itu sebuah benda milik perempuan. Keraguan memberinya pertimbangan. Dia menuju benda itu, di pinggir lapangan basket, bebas hambatan. “Tenangkan jantungmu Marcel,” itu suara di benaknya. 

    “Baiklah kawan, fokus, tenang, dalam hitungan cepat, menyergap benda itu,” suara di benak, mendorongnya berbuat sesuatu. 

    Dia, melakukan gerakan supercepat. “Tap!” Benda itu di genggamannya, dengan posisi tubuh tetap bertiarap. Membuka telapak tangannya pelahan. Benar. Sebuah benda milik perempuan.

    Salah satu antinganting perempuan, dia curiga, tapi tak bisa menduga tepat. Apakah antinganting itu milik Margaux. Dia, tidak pernah tau kebenaran dari kebiasaan putrinya. 

    Memakai antinganting atau tidak. Hobi mengenakan celana panjang atau rok, suka makan apa, nonton apa, sungguh, Marcel, tak tau kebiasaan putrinya, buta data. 

    Pikiran, dugaan, perdetik itu. Terperangkap sniper, dari berbagai arah, tanpa dia ketahui, sudut, datangnya, arah tembak. “Jlep!” Beberapa peluru bersarang, tepat, di jantungnya.

    ***

    Jakarta Indonesiana, September 28, 2022.

    Ikuti tulisan menarik Taufan S. Chandranegara lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.