Bukan Dongeng - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Digital Photogtaphy by Tasch 2022

Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juni 2022

Kamis, 29 September 2022 16:58 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Bukan Dongeng

    Cerpen Bukan Dongeng. Cerita pendek tentang kasih sayang dalam doa keluarga. Hanya itu. Salam baik saudaraku.

    Dibaca : 497 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Seperti biasa adik pulang sekolah menggosok gigi, mencuci tangan, kaki, setelah istirahat sorenya menyiapkan bukubuku untuk pelajaran esoknya ke sekolah.

    Malamnya kakak sedang asyik menemani adik belajar di sudut ruang tamu dari rumah sederhana itu. Ayah berbincang dengan ibunda, di ruang makan tentang banyak hal, di antara suara bahagia keduanya.

    Di luar rumah terdengar suara ributribut beberapa orang. Ayah menuju ke ruang tamu mendengar suara beberapa dikenalnya. Ayah membuka pintu. 

    “Pak Cok! Ada apa?” Suara ayah kepada beberapa orang di antaranya penjaga kompleks perumahan tempat keluarga Togar tinggal.

    “Oh! Ini Pak Togar ada musang liar lari ke kolong got, Pak Togar.” Suara Pak Cok penjaga kompleks perumahan, menjelaskan.

    “Musang? Besar atau kecil?” Tanya ayah lagi.

    “Besar Pak.” Suara Pak Cok singkat. 

    Adik langsung berlari mendengar kalimat “Musang ...” Dia meninggalkan meja belajar, kaget hatinya mendadak protes. Adik menyela di samping ayah masih di pintu ruang tamu rumah. Kakak menyusul mengintip dari jendela ruang tamu. 

    Bunda juga ikutan menyela di sebelah ayah berdampingan dengan adik, posisi adik menjadi di tengah antara bunda dengan ayah. Menyaksikan kegaduhan tengah berlangsung di hadapan mereka, sekelompok orangorang itu bersama Pak Cok. 

    Terlihat mereka mengepung menutup kedua sisi lorong got dengan potongan kayu lapis cukup tebal, mereka membawa pentungan ada juga membawa bambu, juga karung siap menangkap. Adik memeluk Bunda. 

    “Bunda kasihan musangnya enggak bisa napas.” Sedih nada suara adik. 

    Kakak menjawab seraya menghampiri adik berbisik. Selintas bunda hanya mendengar bisikan kakak di kata “Doa ...” Lalu kakak bersama adik kembali ke meja belajar. Bunda menyusul keduanya. Adik memandang bunda penuh harap.

    “Bunda ikut berdoa yuk. Semoga musangnya selamat.” Bunda senyum kecil saja. Mengambil kursi makan, duduk di samping keduanya. 

    “Ayo ... Kita berdoa,” suara bunda sejuk. 

    “Bunda memimpin doa ya,” suara adik memohon. Bunda menganggukkan kepala. 

    “Ayah ikut!” Suara ayah menyilang berdiri di samping kursi bunda. Lanjut suara bunda. 

    “Nah! Ayah harus memimpin doa. Semoga musang itu selamat.”

    “Sip!” Kata Ayah singkat. Keluarga Togar berdoa dengan khusyuk seperti keinginan kakak-adik. 

    “Berdoa selesai.” Suara ayah singkat.

    Serentak keluarga Togar, kembali persis seperti posisi awal masingmasing kembali menyaksikan kelompok Pak Cok.

    “Semoga musangnya lolos Tuhanku. Please deh …” Suara hati adik. Kakak dari balik jendela suara hatinya sama dengan adik. 

    Bunda juga suara hatinya sama dengan kalimat adik. Ayah menghela napas lagi, terdengar desah samar dari gumam ayah. “Tuhan … Ampuni …” 

    Suasana masih menegangkan, kelompok Pak Cok semakin ketat mengepung lorong samping got depan rumah Pak Togar. “Tok! Tok!” Ada yang mengetukngetuk bagian atas got, jalan masuk menuju, carport rumah Pak Togar, ketukan itu bermaksud menakutnakuti musang. Semakin tampak jelas dari arah pintu rumah keluarga Pak Togar, pengepungan mengerikan itu.

    Keluarga Togar terus mengikuti jalannya pengepungan musang itu. Pak Togar, bersama keluarga terus berdoa untuk keselamatan musang itu.

    “Semoga lolos ...” Suara adik perlahan. Bunda membelai kepala adik. 

    “Sabar … Kita terus berdoa ya,” bisik suara bunda singkat pada adik.

    “Bang Cok! Jangan!” Teriak Adik, melihat Pak Cok mulai menyodok bagian samping ke arah dalam lorong got dengan bambu agak panjang, beberapa orang melempari batu ke arah dalam lorong got tempat terduga musang itu bersembunyi.

    “Tenang adik. Nanti musangnya kaget,” suara kakak perlahan mencoba menenangkan adik. 

    Keluarga Togar masih terus menyaksikan, mengawasi pengepungan mengerikan itu, bayangan di benak adik, tapi, adik tak tega membayangkan jika musang itu tertangkap pasti disembelih deh.

    Terdengar adik terisakisak pelahan, bahunya terguncang sedikit demi sedikit. Ayah menggendong adik, memeluk sebentar, adik diturunkan lagi di samping ayah, terus memeluk adik dengan lengan kuatnya.

    “Tuhanku … Selamatkan musang itu …” Suara adik. Bunda berlutut di samping adik, meraihnya kepelukannya.

    Ayah menghampiri kakak ke jendela. Mendengar suara desah terisakisak sedikit dari kakak. Ayah langsung memeluk kakak.

    “Kakak harus tenang. Ayo! Terus berdoa. Semoga musangnya lolos.” Suara ayah pelahan.

    Mendadak terdengar suara gaduh dari kelompok Pak Cok serentak dengan para pengepung musang itu. Pak Togar kaget bukan kepalang. Semua orang sedari tadi, mencegat, mengepung kedua mulut lorong got itu.

    “Waduh! Kok Bisa lolos ya!” Suara Pak Cok terdengar keras ke telinga adik. 

    “Amin … Terima kasih Tuhanku,” suara adik amat pelahan di hatinya.

    ***

    Jakarta Indonesiana, September 29, 2022.

     

    Ikuti tulisan menarik Taufan S. Chandranegara lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.