The Shape of Water - Hiburan - www.indonesiana.id
x

Pinterest

Dien Matina

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Agustus 2022

Kamis, 29 September 2022 17:00 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • The Shape of Water


    Dibaca : 1.936 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    The Shape of Water (2017), bukan film super istimewa, tetapi salah satu di antara film-film sci-fi tentang sosok alien yang mengesankan. Setidaknya buat saya. Bukan alien dari langit dengan segala macam kecanggihan teknologinya, tapi semacam mahluk dari negeri bawah laut antah-berantah. 

    The Shape of Water, dongeng yang dibuat penuh cinta oleh pak Guillermo del Toro. Ada erotisnya, ada romansamya plus fantasi dengan suasana dark magis. Jalan cerita yang tidak rumit dan cenderung mudah ditebak cukup menghibur keriweuhan hari-hari saya. 

    Berlatar eranya baby boomer tahun 60an—masa perang dingin Amerika dan Soviet, maka sepanjang film dihadirkan musik dan lagu klasik dari piringan hitam dan tv hitam putih. ⁣Mendengarnya saya dejavu, lalu perasaan diaduk-aduk haru, suka, romantis, miris teriris. 

    Film ini menarasikan pandangan cinta yang berbeda, antara Elisa Esposito (Sally Hawkins) dan mahluk air misterius seperti manusia (Doug Jones). Absurd tapi apik sih, meski endingnya sudah ketahuan, happy! ⁣Tahukah anda, saat Elisa jatuh cinta dan bahagia, hati saya pun penuh sukacita berbunga-bunga. 

    Ngomong-ngomong Sally Hawkins ini artis Amerika yang tidak secantik atau sebohay artis-artis Hollywood kekinian. Tetapi gesturnya pas, sebagai mbak-mbak tukang bersih-bersih yang tuna wicara dan berkomunikasi dengan bahasa isyarat. ⁣ 

    The Shape of Water juga mengangkat isu-isu sosial. Elisa yang kesepian dengan segala keterbatasannya. Sahabatnya Zelda (Octavia Spencer) perempuan kulit hitam dan Giles (Richard Jenkins) pelukis tua yang gay. ⁣Ketiganya mewakili minoritas, di mana tahun itu menjadi kaum marjinal. Dan saya suka apartemennya Elisa, dark syahdu saat hujan, dengan jendelanya yang besar-besar. ⁣

    Yang cakep, di akhir cerita ada puisi milik penyair Sunni Persia—Hakim Sanai.⁣ Google bilang, 'You' di sini bisa berarti Tuhan, tapi merujuk apa yang ingin disampaikan sutradara, maka 'You' bisa diartikan cinta. Manis! 

    Unable to perceive the shape of You, i find You all around me. ⁣Your presence fills my eyes with Your love. It humbles my heart, for You are everywhere. ⁣ 

     

    Lewat seorang Guillermo del Toro saya diajak memahami cinta yang tak selalu itu-itu saja. Romansa welas asih. Cinta yang tak hanya cinta kepada sesama manusia tapi juga kepada sesama mahluk hidup. Bertumbuh bersama dan saling memberi ruang pada masing-masing untuk menjadi diri sendiri. Cinta yang meluaskan, yang tak selalu harus didefinisikan. Dibiarkan mengalir seperti air, memenuhi seluruh kita laksana udara. 

    Elisa dan alien air itu bagai menemukan sesuatu yang menenangkan tanpa terlalu banyak 'jika'. Memahami bahagia dari sisi yang berbeda. Tak perlu banyak menerka apa-apa yang memang sudah seharusnya ada.  

    Kepada kita, jika tidak bisa mencintai, setidaknya jangan pernah menyakiti. Apalagi memberi janji-janji yang tidak bisa dipenuhi. Jangan! 

    Ikuti tulisan menarik Dien Matina lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.






    Oleh: Bayu Lukmana

    Selasa, 8 November 2022 17:43 WIB

    Lagu Satu Jiwa Lambang Toleransi Keragaman

    Dibaca : 818 kali