Ruang untuk Bernapas - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Sumber ilustrasi: freepik.com

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 30 September 2022 09:20 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Ruang untuk Bernapas

    Anjing kecil itu ditambatkan di bawah sinar matahari. Dari kejauhan tampak bagai mengenakan mantel kasar. Tapi ketika aku cukup dekat untuk membelainya, di dalam kolam pasir bergelombang, ternyata cukup lembut. Kamu melarangku untuk tidak menyentuhnya.

    Dibaca : 544 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Anjing kecil itu ditambatkan di bawah sinar matahari.

    Dari kejauhan tampak bagai mengenakan mantel kasar. Tapi ketika aku cukup dekat untuk membelainya, di dalam kolam pasir bergelombang, ternyata cukup lembut.

    Kamu melarangku untuk tidak menyentuhnya. "Kutu, Simon," katamu.

    Aku menyeret tasmu ke atas bukit. Begitu banyak pakaian. Semua dari hasil trifting murah sehingga kamu terkadang harus memperbaiki mereka, sekali pakai saat santai.

    Aku berharap kamu akan menghabiskan sepanjang minggu dengan kostum renang, tetapi kamu menginginkan perubahan, banyak perubahan.

    Kamar hotel yang membuatmu kecewa. Kulkas yang berdengung mengganggu tidur. Bilasan air oilet terengah-engah dan berdeguk. Kipas langit-langit berjuang untuk mengaduk udara lebih kental dari bubur ayam.

    "Aku tidak bisa bernapas," katamu.

    Anjing kecil itu menangis sepanjang malam.

    Kamu terbakar jika di pantai, makanya berdiam di kamar. Menutupi kulit dengan krim, tetapi menolak untuk kuolesi. Aku membelikanmu lebih banyak krim pelindung.

    ‘Terlalu encer, terlalu beraroma vanila’ dari toko diskon.

    Di bawah bukit, di atas bukit.

    Kamu ingin daging rebus. Turun ke restoran, naik lagi. Lelah. Kamu ingin obat untuk membuatlu lelap. Aku memberimu beberapa.

    Tidak ada yang mengganti air minum anjing.

    Kamu menarik tirai hingga tertutup. Bilah tipis bergetar seperti tongkat es lilin pada seutas tali.

    Aku menunggu instruksi lebih lanjut: air soda, permen jeruk, sebuah buku bekas dengan ratusan halaman dan tidak menantang. Dan mulai turun lagi.

    Atap bangunan tua berwarna biru langit, menara tinggi, dinding putih susu dengan pintu yang mengelupas. Pintu yang berderit haus dan jauh di bawah, pita satin laut tempat anjing kecil itu mengikat talinya, menunggu tanganku membelai kepalanya yang hangat.

    Kamu menghabiskan minggu merencanakan perubahan besar-besaran, untuk diterapkan setelah kembali.

    Kamu akan menata taman, membuka bistro, belajar mengisi ayam kodok. Aku membuat rencana dalam napas serbuk dari hutan pinus yang sejuk.

    Menjelang hari keberangkatan, setumpuk bahan viscose yang berlebihan kusut di sudut ruangan, keranjang rotan kosong.

    Aku membawa tas besarmu dan duduk di pasir sepanjang malam, untuk memastikan mengejar penerbangan fajar. Aku memberimu obat yang lebih kuat tadi malam.

    Di pesawat, pemandangan di bawah tidak seindah langit hampa, jarak murni tanpa hambatan.

    Kamu diam. Aku bersyukur dalam doa.

    Di rumah, aku membuka tasmu. Ritsleting tidak sepenuhnya tertutup, menyisakan ruang untuk udara.

    Ketika aku melipat kembali penutupnya, kamu mengeluarkan jerit malu dan berterima kasih saat aku menangkupkan wajahmu yang hangat dan lembut di tanganku.

     

    Tangsel, 29 September 2022

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.