Mati Sunyi (4) - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Data from google.

Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juni 2022

Jumat, 30 September 2022 09:20 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Mati Sunyi (4)

    Mati Sunyi (4). Hidup tak terduga, salah benar hidup mati. Adikuasa hancur juga. Tak ada kebal senjata apapun. Waktu mati tak tertunda. Cerpen. Komunikasi literasi. Tak ada pembaca tak ada cerpen. Tak ada publik, tak ada seni tontonan. Kreativitas bareng di gerbang edukasi. Salam baik saudaraku.

    Dibaca : 526 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Mati Sunyi (4)
    Seri (4): Metamorfosis.

    Sosoksosok berjalan ke Utara. Dia berjalan ke Selatan. Sosoksosok berjalan ke Barat dia berjalan ke Timur. Sulit diduga tujuan dari sosok dia. 

    Selain ciri pada mulutnya, terus menerus komatkamit, seperti merapal mantra, seperti sedang menghapal sesuatu, mungkin juga hanya, kata di hatinya, hanya dia memahami dirinya. Mungkin pula, ini mungkin loh, karena pengaruh dari atmosfer kelebihan oksigen, dia menjadi seperti itu, ada pula dugaan dari sejumlah pakar multisains, salah satunya, akibat dia selalu melawan arus sendirian. Tak peduli apa kata kultur sekitarnya. 

    Dijawab atau tidak dijawab. Sosok dia, selalu bertanya. Baginya bertanya bukan kritik, jikalau mungkin kritik dianggap membahayakan tetangga sekitarnya loh, mungkin juga dia seperti itu karena kritik mendadak dianggap jadi tabu di ranah abstraksi profesional, maka dia memilih selalu bertanya. 

    Entah pula kalau bertanya pun ditabukan, mungkin sosok dia, malah akan memilih berteriakteriak tanpa kritik ataupun bertanya. Tapi dia enggan memilih mati. Meski mati juga merupakan sebuah kemenangan terbesar dalam hidupnya.

    “Di manakah sesuatu itu.” Setiap sosoksosok berpapasan dengannya, dia selalu bertanya seperti itu. Tak peduli apapun di waktu atau di tempat dimanapun. Jika kebetulan dia ditanya oleh sosoksosok, kebetulan berpapasan dengannya, dia akan menjawab dengan pertanyaan pula.

    “Apakah sesuatu itu ada.” Sosok dia, hanya senyumsenyum lalu melambaikan tangan, semacam to say good bye, atau dia hanya menjentikkan jarijarinya. Meski kadangkadang jarijarinya mendadak hilang, mendadak muncul.

    **
    Keberlangsungan hidup semacam itu terus menerus dia lakukan sepanjang hidupnya. Entah dia hidup normal atau tidak tentu tak satupun tahu. Dia berkeluarga, bersanak famili atau beranak pinak juga tak satupun sosoksosok berpapasan dengannya, mengetahui tentang hidupnya. Sebab jika ditanya, dia, selalu balik bertanya, meski itu jawaban baginya, tapi bukan, barangkali, bagi sosoksosok berpapasan dengannya.

    Ketika penulis dalam kisah ini mencoba mewawancarainya. Dia hanya menjawab dengan senyuman simpatik seraya berdehem saja, lalu menggeram seperti makhluk sedang mules sakit perut. Pada suatu waktu dikemudian hari ada percakapan di antara sosoksosok, senantiasa berpapasan dengan sosok dia, mencoba saling bertanya sekaligus menjawab sendirisendiri. 

    “Apakah dia mati. Katanya tidak.” 

    “Tapi kadangkadang dia mati, meski sejenak.” Kedua kalimat seperti itu terjadi berulangulang, berabadabad, dari generasi ke generasi. Pada waktu tertentu di masa tertentu. Hingga terjadi keriuhan, kekacauan. Mereka berebutan saling memakan tubuh, nyaris mirip kanibalisme namun tak serupa.

    Setiap kali sosoksosok itu saling memakan, apapun dari dirinya, tangan atau lengan atau mata atau hidung atau mulut atau kepala atau isi perut mereka, dalam keadaan sudah dimakan, salah satu organ atau anggota tubuh itu, tumbuh lagi seperti sedia kala. Awalnya mereka gembira, menjadi euforia jingkrakjingkrak, pola berbagai tingkah laku mereka lakukan demi kesenangan melihat salah satu anggota tubuh sudah hilang dimakan, bertumbuh lagi. 

    Seiring waktu lama kelamaan mereka bosan juga, dengan perilaku itu. Dari masa ke masa. Dari percakapan kepercakapan. Dari generasi kegenerasi, terus berlangsung, berbagai variasi kejadian, baik secara kultural edukatif maupun secara rintisan kebudayaan masa datang, jelasnya seperti apa atau bagaimana, itupun selalu hanya dia mengetahui seluk beluk peristiwa apapun itu. 

    **

    “Jadi dia ke mana.” Kata sosok lain. 
    “Dia sudah pergi.” Kata sosok lain lagi. 
    “Loh. dia pergi ke mana.” Kata sosok lainnya lagi. 
    “Siapa namanya.” Kata sosok lain lagi. 
    “Apakah sesuatu itu ada.” Kata sosok lainnya lagi. 
    “Sesuatu itu di mana?” Kata sosok lain lagi.

    Keadaan seperti itu tak membuat sosoksosok berpapasan dengan dia, dulu ataupun hingga kini, tak membuat mereka jera. Malah semakin menjadi. Semakin gilagilaan, semakin seronok seronokan. Semakin bermomentum. 

    Ketika keadaan sudah tak terkendali seperti biasa terjadi. Setelah keriuhan terjadi, semasa lewat, semasa kembali, semasa pergi. Tetap kejadiannya terulang lagi, dengan pertanyaan sama. 

    “Di manakah sesuatu itu.” Hadir lagi dengan wajah tak seperti biasanya. Memakai perlengkapan perang masa depan tercanggih by modern system, agak serupa makhluk terduga alien dari angkasa planet lain, tapi tak sebenarnya mirip. Agak sulit digambarkan bentuk sekarang dengan bentuk aslinya dulu. 

    “Siapa bertanya.” Sosok dia, bertanya pada sosoksosok berpapasan dengannya. 

    “Apa atau siapa, ada di mana sih.” Dia berkatakata sendiri. Sosoksosok berpapasan dengan dia. Hanya menjawab dengan mengangkat bahu kiri atau bahu kanan, lantas menyeringai, memperlihatkan gigi putih mereka, bagusbagus, berbaris, seperti gigi ikan mas koki. 

    “Benar adanya...” Dia tak juga menemukan dari pertanyaan, juga jawaban, baik dari dalam maupun dari luar dirinya. 

    Sosoksosok berpapasan saling menjawab pertanyaan dari dia, akhirnya, memejamkan mata tanpa klausul diagnosis di suatu masa kurun zaman. Lalu dia pun memilih beku bersama sosoksosok itu, selalu, terlalu sering, berpapasan ataupun bagi mereka ketika itu enggan menjawab. Tapi dia tidak mati, hanya mati sementara waktu saja, konon. 

    Dikurun waktu kemudian seluruh sosoksosok, tanpa kecuali sosok dia pun, menyulih rupa menjadi kepompong.

    ***

    Jakarta Indonesiana, September 29, 2022.

    Ikuti tulisan menarik Taufan S. Chandranegara lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.