8 Komponen Penyembuhan dari Penyakit Mental Serius - Humaniora - www.indonesiana.id
x

image: IItm

Suko Waspodo

... an ordinary man ...
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 30 September 2022 19:52 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • 8 Komponen Penyembuhan dari Penyakit Mental Serius

    Apa yang tercakup dalam perjalanan penyembuhan dari penyakit mental yang serius?

    Dibaca : 658 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dari trauma hingga transformasi, penelitian memetakan bagaimana pemulihan psikologis terungkap.

    Poin-Poin Penting

    • Respon koping seperti disosiasi bisa bermata dua, itu menghambat perkembangan regulasi emosi yang sehat dari waktu ke waktu.
    • Mengalami trauma sering menghambat perkembangan konsep diri yang positif.
    • Bagi sebagian orang, memiliki penyakit mental dapat menyebabkan tekad untuk memahami akar masalah tersebut dan mengeksplorasi trauma masa lalu.

     

    Apa yang tercakup dalam perjalanan penyembuhan dari penyakit mental yang serius?

    Ini adalah pertanyaan utama dari sebuah penelitian yang dipimpin oleh Dr. Xiafei Wang, sekarang dari Universitas Syracuse, dan rekan-rekannya. Lebih khusus lagi, mereka tertarik pada perjalanan pemulihan melalui lensa trauma dan pertumbuhan pasca-trauma. Karena orang dengan kondisi psikologis yang serius lebih cenderung memiliki riwayat trauma di mana mereka mengalami peristiwa yang membanjiri sumber daya mereka untuk mengatasinya, Wang dan timnya berusaha untuk mengeksplorasi peran trauma dan pertumbuhan pasca-trauma dalam memicu, mengembangkan, dan menyembuhkan dari penyakit serius. kondisi kesehatan jiwa.

    Untuk mengejar eksplorasi ini, para peneliti mulai dengan merekrut peserta yang telah didiagnosis dengan penyakit mental yang serius, termasuk skizofrenia, gangguan bipolar, dan/atau gangguan depresi berat; individu yang telah diberi resep obat psikotropika tetapi tidak menggunakannya selama setidaknya satu tahun; individu yang memenuhi kriteria untuk pemulihan; dan individu dengan riwayat trauma.

    Dari sana, para peneliti meminta para peserta untuk menceritakan "kisah" mereka tentang kehidupan sebelum dan sesudah mereka didiagnosis, bagaimana mereka mengatasi penyakit, sumber daya apa yang mereka gunakan untuk pulih, dan kesehatan mental mereka saat ini. Cerita para peserta kemudian dianalisis dan diberi kode.

    Hasilnya sangat mengejutkan. Para peneliti menemukan delapan komponen yang disebutkan peserta sebagai bagian dari perjalanan penyembuhan mereka. Temuan penelitian diuraikan di bawah ini.

    1. Memengaruhi disregulasi

    Para peserta melaporkan bahwa trauma membuat regulasi menjadi sulit. Sebagai tanggapan, banyak yang menggunakan represi dan disosiasi sebagai strategi bertahan hidup untuk mengatasi perasaan menyakitkan mereka. Namun, ini adalah pedang bermata dua, karena pendekatan ini juga menghambat perkembangan regulasi emosi yang sehat dari waktu ke waktu.

    Seorang peserta berbagi: "Semua sistem kepercayaan dan persepsi saya menjadi sangat cair. Itu sangat intens, dan saya tidak bisa tidur. Semua hal yang saya tekan sejak kecil dan sebelumnya dalam hidup saya mulai membanjiri kesadaran saya. , dan kemudian saya merasa benar-benar kewalahan."

    2. Konsep diri dan konsep lain yang terdistorsi; kesulitan hubungan

    Trauma juga menyebabkan pandangan yang menyimpang tentang diri sendiri dan orang lain, termasuk merasa tidak dicintai dan tidak layak, merasa ditolak, dan mengalami kesulitan dengan kepercayaan dan kedekatan dalam hubungan.

    Seorang peserta mengungkapkan: "Karena masa kecil saya sendiri, saya sulit mempercayai siapa pun. Saya punya teman baik, dan mereka memang membantu. Saya hanya berhati-hati dengan apa yang saya ungkapkan kepada mereka. Dan saya akan menerima bantuan mereka sebanyak yang saya bisa. , berdasarkan apa yang sebenarnya akan saya bagikan."

    3. Ketidakberartian

    Trauma dapat menghancurkan asumsi dunia yang bermakna, dengan kontinjensi orang-hasil (yaitu, keyakinan bahwa peristiwa tidak terjadi secara acak, dan ada hubungan antara seseorang dan apa yang terjadi pada mereka). Untuk beberapa peserta, kurangnya makna ini menyebabkan perasaan bahwa mereka tidak memiliki kendali, tidak berdaya, tidak memiliki tujuan hidup, dan memiliki pandangan yang lebih pendek tentang masa depan.

    4. Ketakutan eksistensial

    Beberapa trauma peserta adalah karena menyaksikan kematian anggota keluarga. Pengalaman itu menyebabkan ketakutan akan "pemusnahan" dan sifat hidup yang tidak kekal. Menjadi saksi kematian juga dikaitkan dengan melukai diri sendiri dan perubahan suasana hati.

    Seorang peserta merefleksikan: "Saya mengalami depresi yang gelisah tepat setelah kematian ibu saya karena saya memiliki masa kanak-kanak yang cukup traumatis dan hubungan dengannya."

    5. Penerimaan diri: merangkul emosi dan mengubah persepsi gejala

    Transformasi bagi beberapa peserta dimulai dengan melihat gejala mereka dari sudut pandang baru—mereka tidak lepas kendali, negatif, atau tidak berarti seperti yang mereka yakini dulu. Sebaliknya, peserta mulai merasa lebih mengontrol gejala mereka, yang pada gilirannya menumbuhkan pemberdayaan diri.

    6. Eksplorasi diri: terhubung dengan trauma masa lalu

    Bagi sebagian orang dalam penelitian ini, memiliki penyakit mental adalah titik balik yang mengarah pada perjalanan penyembuhan mereka, dan tekad mereka untuk memahami akar masalah kesehatan mental mereka. Sementara perjuangan itu menyakitkan, akhirnya mengarah pada eksplorasi trauma mereka, dan gejala yang mereka timbulkan. Tapi itu membuat hubungan antara trauma masa lalu dan gejala kesehatan mental mereka saat ini yang memungkinkan mereka untuk mengembangkan koping yang lebih sehat dan mengintegrasikan kembali diri mereka yang retak.

    7. Harga diri: mendefinisikan ulang konsep diri dan hubungan diri dengan orang lain

    Mengalami trauma sering menghambat perkembangan konsep diri yang positif, yang mengarah ke berbagai tantangan psikologis. Namun beberapa peserta juga mengembangkan rasa harga diri yang lebih besar, yang merupakan inti dari pemulihan dan transformasi mereka.

    Seorang peserta mengungkapkan: "Apa yang hilang dari saya? Saya kehilangan rasa diri, harga diri, dan harga diri saya. Apa yang saya pulihkan? Saya. Saya memulihkan diri saya sendiri. Semakin saya memulihkan diri, dan semakin kuat saya datang, semakin saya menyadari bahwa jawaban yang dicari semua orang ada di dalam diri kita."

    8. Pemenuhan diri: melayani orang lain, komunitas, dan kemanusiaan

    Pertumbuhan pasca-trauma mendorong beberapa peserta untuk berkomitmen untuk merawat orang lain, terlibat dalam pelayanan masyarakat, dan mengadvokasi keadilan sosial. Transformasi ini, menurut para peneliti, melampaui penyembuhan individu. Sebaliknya, pemenuhan diri ditemukan dalam meningkatkan kehidupan orang lain dan kemanusiaan pada umumnya.

    ***
    Solo, Jumat, 30 September 2022. 1:49 pm
    'salam hangat penuh cinta'
    Suko Waspodo
    suka idea
    antologi puisi suko

    Ikuti tulisan menarik Suko Waspodo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.