Obrolan Panjang di Malam yang Pendek - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Dok pribadi

Dien Matina

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Agustus 2022

Sabtu, 1 Oktober 2022 07:09 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Obrolan Panjang di Malam yang Pendek


    Dibaca : 786 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kepada Engkau, Sang Penguasa hatiku.. 

    Hai, Tuhan, mari berbincang-bincang. Di sini di bangku dekat jendela saja, di malam yang mendung, tapi aku tak peduli itu. Dua cangkir cokelat panas dan beberapa tangkup roti tawar manis sudah kusiapkan di meja. Janganlah terburu-buru berlalu sebab nanti akan kubacakan sebuah sajak untukMu. 

    Iya, sebuah saja. Aku tak ingin Kau bosan, Tuhan. Ah, sebenarnya aku hanya ingin menumpahkan keresahan, tapi ini bukan kesedihan ya. Aku tak bersedih, aku cukup bersyukur bahwa aku masih baik-baik saja sampai saat ini. 

    Tuhan, kedatangan dan kepergian telah Engkau jatuhkan pada mereka, juga kepadaku jauh sebelum perasaan ini Kau hidupkan. Kau pasti juga mengerti, belasan tahun setelahnya rinduku tak juga surut. 

    Serupa lautan ia penuh menyeluruh dalam dada. Kadang bergelombang membuat degub dada tak beraturan. Menyesakkan. Kadang membuat riang. Pertemuan kami mungkin hanya sebatas lalu dan tak untuk saling menemukan seperti yang kupikirkan. Suatu waktu langkahku teramat berat, sebab segalaku memikul rindu yang kepadanya saja beralamat. 

    Tuhan, Engkau tak menciptakan mata dan kaki kan pada rindu? Tapi dengan caranya ia tahu ke mana harus kembali. Melepaskan diri dalam sungai-sungai kehidupan yang Kau ciptakan. Berkelok-kelok di antara keras bebatuan dan licinnya lumut sepanjang jalan. 

    Tuhan, mencintainya apakah semacam karma bagiku? Mungkin aku berbohong untuk mengatakan aku baik-baik saja. Telah tumpah segala dalam isak yang kusembunyikan pun dari diriku sendiri. Ini bukan hari terburuk kan, Tuhan, ketika rengkuhku hanya menemukan bayang-bayangnya? Serupa menenggak kopi tanpa gula, pahit. Akulah cangkir yang berdenting sendirian. Menanggung sepi yang paling sunyi. 

    Kumohon, Tuhan, jika waktu tak membawaku kepadanya, letakkan ikhlas sebagai alas. Engkau pahamkan aku tak selalu sekuat itu menerima segala, apalagi memanggul rasa yang semakin hari semakin saja. Apalagi yang bisa kulakukan selain menangisi rindu yang herannya tak selesai-selesai. Aku benci mengapa aku harus seperti ini. 

    Tuhan, sungguh aku lelah, teramat lelah. Mungkin aku harus segera tidur tanpa memimpikannya lagi. Dan sebelum Engkau pergi, dengarkan sajak sederhana untuk perasaan yang rumit kepadanya.

     

    Ribuan malam yang tertinggal tetap tak menemukan jawab dari pertanyaan sederhana, kau di mana? 

    Dingin jalanan aspal. Lampu-lampu saling tatap dalam cemas sebab langkah menapak getir. Gugurlah gugur, dedaunan. Layulah layu, rekah kamboja merah muda. Dan wangimu jatuh diantaranya.  

    Pelukan panjang, sayang, terlanjur kutukar dengan kehilangan yang kusiapkan sendiri. Untuk esok yang entah, biarkan musim yang asing membawaku kepadamu, sekali lagi. 

    Maka atas nama kehidupan yang membawaku kepadamu, gugurkan sendu. Takdir semesta. Aku mencintaimu, selalu. 

     

    *

     

    Karena kelelahan aku tertidur. Lelap, tanpa bermimpi apa-apa. Tetapi rupanya semesta mencatat peristiwa, saat Tuhan tersenyum dan mengusap kepalaku berkali-kali seraya berkata, "Kau lebih kuat dari yang kau sangka, anakKu. Ingatlah Aku mencintaimu selalu. Kuberkati kau dengan selembar cinta yang lebih abadi dari waktu."

     

     

    200916

    Dear mbak Emi, cintamu hebat! Peluk ❤️ 

     

    Ikuti tulisan menarik Dien Matina lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.