Kreator Seni Bakal Pameran Bareng di ICAD 2022. - Analisis - www.indonesiana.id
x

Foto Koleksi Visioner Seni, Hardiman Radjab 2021-2022

Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juni 2022

Minggu, 2 Oktober 2022 07:09 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Kreator Seni Bakal Pameran Bareng di ICAD 2022.

    Pada ajang Indonesian Contemporary Art and Design-ICAD, 19 Oktober-27 November 2022, segera berlangsung, di wilayah Jakarta Selatan. Kreator seni nasional, bakal pameran bareng di ICAD 2022.

    Dibaca : 761 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Karya seni, tak perlu direka terka, tak perlu pula analisis formal, akan membuat blur peta kreatifnya, tak akan pula ditemukan esensi natural kejernihan inteligensi kreatornya. Demikian pula dengan karya seni Hardiman Radjab, salah satu visioner seni barang bekas terkini.

    Karya Hardiman, realitas seharihari, peristiwa sekitar tak jauh dari hidup ini, secara umum. Koper. Kloset. Telepon, Buku, Mobil, Motor, semua benda barang bekas, memiliki nilai, makna historis kreativitasnya, termasuk mobil Fiat kesayangan tahun 1948, milik keluarganya, tempo dulu.

    Hardiman, tidak menyeni asal keren asal laku. Dia, tidak di wilayah itu. Tidak pula sekadar eksentrikisme, mode on lifestyle-agar terlihat indie, segagah oncom pepesan kosong hambar tanpa bumbu tradisional, sok metal, mengkritik kiri-kanan, bergaya hamberger, namun, kecut berhadapan dengan diri sendiri-tabu melihat perbedaan di tengah kekayaan seni-keberagaman kultur nan indah negeri ini. 

    **

    Hardiman, tidak membangun karya dalam tempurung formal. Dia hadir, ada, di tengah lingkungannya, pernah menjabat ‘Rukun Tetangga alias Pak RT’, bersahaja saja, seiring karyanya pun hanya dari barang bekas sejauh perjalanan meluas, berakhir kelak.

    Pengakhiran, mungkin kehidupan lanjutan dari proses kreatif menuju wilayah kreativitas lomptan waktu penciptaan karya lanjutan. Karya seni bukan soal modern ataupun kontemporer, klasik, nonklasik, atau indie, nonindie, atau tempe ataupun pecel. 

    Seni-sensibilitas trans-informasi antar kultur berkelanjutan. Ketepatan presisinya ada pada jiwa publiknya bukan pada analisis formal.

    Hardiman Radjab, tak melakukan karya protes jingkrakjingkrak, euforia jumpalitan bikin macet jalanan. Dia sosok guru bagi muridnya, hanya memberi tak harap kembali, pelajaran alternatif, dari pelakon hidup sejak dia lahir, 13 Juli 1960, kini, terus melaju menempuh waktu estetis pengaryaan, menembus sekat-mazhab, anasir, tafsir kitabkitab seni lampau.

    Pembebasan. Kebebasan ruang kreatifnya, menjelma kesejukan imaji paripurna natural. Melangkahi kelaziman teoritis bak setara filosofis pencatatan sejarah seni kutipan-textbook, menyodorkan identitas alien sebagai sandaran ke.isme.an seni anu, ini, itu.

    Lupa, bahwa tanpa makanan cepat saji pun. Tetap survive, hidup sehat, bergizi bersama tempe, tahu bacem, rebusan lalapan, sambel tomat, toge goreng, bubur kacang ijo, buahbuahan katulistiwa negeri agraris hebat ini. 

    Jangan kesasar. Mau ke Pasar Baru, muncul di tengah benua tanpa peta. Bak aktor panggung kehilangan peranannya di antara layarlayar. Tak mampu merasakan ruh di badan tengah menggerakkan tubuhnya.

    **

    Pameran terakhir, Hardiman Radjab, beberapa waktu lalu, bertajuk 'Curtain Call', proscenium di dalam koper pengadeganan. Perinci jarak antara benda, aktor, adegan ciptaannya. Penceritaan wawasan kultural scene by scene. Kesatuan jiwa di badan, inteligensi, inheren peranan ide.

    Ketika curtain call, umumnya stage, terlihat para pemain gembira karena, end off the scene. Di karya seni koper Hardiman, koper-arena pertunjukan, mencapai, end off too the next scene-itulah kebenaran dari curtain call. Sesungguhnya, adegan, tak pernah selesai. 

    Kisahkisah tak terbatas di skenario-tapal batas penyutradaraan, penulisan. The scene, pengadeganan cerita peranan, bukan, sematamata selesai setelah, curtain call, sekadar pentas, memainkan peranan pendramaan dalam kejaran kasih tak sampai.

    **

    Hardiman Radjab, membawa bola, fokus, kontrol pada rasa syukur senantiasa, dalam kesederhanaan diri seorang 'Arema-Arek Malang', mampu menggebrak Jakarta, tanpa ditemani label cara pandang. 

    Dia, memainkan harmoni nada violin malaikat putih, di pengaryaannya. Meneteslah embun tatanan karya. Tidak melalui panggung imitasi, seolaholah paradigma-padahal slogan receh, sekadar seni kritik bermain dalam kolam ikan hias, malumalu kucing. 

    Panggung, Hardiman Radjab, sejak pameran awalnya hingga ke tema curtain call, mungkin tengah menuju pola penciptaan pengadeganan kehidupan tak kunjung selesai jua di dalam kopernya-tak berjarak dengan kearifan lokal, kesetaraan, keberagaman, esensi, kultur negeri agraris ini. 

    Curtain call, di dalam koper, berlanjut pada inti perilaku, perwatakan, hidup berkelanjutan. Salah satu sumbangsih pemikiran Hardiman untuk negeri cantik nian ini. Rumah bagi seni kebijaksanaan bergotongroyong.

    **
    Pada ajang Indonesian Contemporary Art and Design-ICAD, 19 Oktober-27 November 2022, segera berlangsung, di wilayah Jakarta Selatan. Kreator seni nasional, bakal pameran bareng di ICAD 2022.

    Salah satunya, Hardiman Radjab, akan kembali tampil pameran barengan-kreator peserta di bidang arsitektur-desain.

    Tak terbayangkan setelah nyaris tiga tahun, patuh, pada karantina kesehatan nasional. Mereka akan kembali tampil, para maestro seni, arsitektur-desain, dengan teknologi terkini, terbaru banget.

    Sila, apabila berkenan hadir di ajang pameran tersebut. Salam Indonesia Kreatif. 

    ***

    Jakarta Indonesiana, Oktober 01, 2022.

    Ikuti tulisan menarik Taufan S. Chandranegara lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.