Delapan Ironi - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Muhammad Faisal DH

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 11 Agustus 2022

Minggu, 2 Oktober 2022 07:12 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Delapan Ironi

    sebatas puisi yang entah ke mana tujunya

    Dibaca : 378 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    1

    (Wong cilik)

     

    Syairku adalah pemberontakan

    Tercipta dari tetes keringat pekerja serabutan

    Bait demi bait,

    dirujuk dari hasil air mata

    dan pedih tulang akibat ber ton-ton pikulan,

    Kilo mil cangakulan.

    Sayatan, memar, linu, sampai patahan;

    kumpul menyatu

    Rimaku adalah suara keluh kesakitan

    Kesakitan ditindas, dirampas, diretas

    Oleh pegiat retorika pesiasat dusta ...

     

    2

    Termanung, saat itu...

    Gemuruh yang biasanya di langit berpindah di tepian telinga

    Entah bagaimana

    Sunyi saat ini adalah gemuruh itu sendiri

    Suatu siasat, saat saut sayap sayup,

    susuri setapak jalan negri

    Tanpa alas tanpa kompas

    sasari kota-kota

    “Cari apa?” kata bunda.

    “Cari api hangat. Desa sekarang, sudah dingin semua; termasuk pada apinya.”

     

    3

    Daun, rimbunmu kuinginkan dalam 'ku'

    'Depan', jarakmu menarikku untuk kembali

    'Belakangku membuah,

    mengomando kaki kakiku menapaki jalan sepi

    Untuk apa?

    Sekadar menutup rumpangnya jejak diri dan duri di tumpukan jerami

     

    4

    Fenomena saat ini ...

    Lampu yang nyala, terang yang dipuja. Gelap hingap, kawah berseteru. Sampul yang basah isi yang meranum. Titik kosong dihenti; garis cepat berlaju ...

     

    5

    (Aku), ujung dari dua utas tali yang sudah disimpul mati.

    (Ia), sepasang jiwa dan badan yang tak sempat menepi.

    Kemudian (Kamu), adalah diri sejati yang bagaimana pun memeragakan peran yang tak kunjung terganti.

    Tapi, tapi—harap diingat,

    dalam goresan ini (Aku, ia dan kamu) hanya kata ganti

    yang suatu saat lenyap, membentuk gelagat-gelagat simponi

     

    6

    Mataku sedang hujan

    Oleh batu dan rimbunan asa

    yang, basah di sana

    Rintih tergema di sini

    "Au" A mengisyaratkan 'aku'

    dan U tunjuk pada 'usia'

    Aku dan usia, akan lepas

     

    7

    Bila sampai waktuku,

    aku ingin pergi ke dasar jurang;

    mengambil bongkahan kasih cinta tanpa atribut

    yang sempat kau punya di masa kecil;

    lalu kaubuang di tengah perguruan arang akibat pertarungan sengitmu,

    menggunakan api sebagai senjata

     

    8

    'Dor' tembakmu

    Apakah ini tanda akan dekatnya hari raya(?)

    Banyak gerlap, entah emas entah perak

    Banyak kesah, entah asih entah asah

    Kutanya pada semua yang berkenan ditanya

    Hay, masihkah ada hari besok (?)

    Belum sempat menjawab; gelaplah dunia

     

    (Faidhumi)

    Mranggen, 17 September 2020

    Ikuti tulisan menarik Muhammad Faisal DH lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.