Jadilah Penonton Sepakbola yang Literat dan Menjunjung Tinggi Sportivitas - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Minggu, 2 Oktober 2022 12:25 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Jadilah Penonton Sepakbola yang Literat dan Menjunjung Tinggi Sportivitas

    Tregadi sepakbola Kanjuruhan menelan 127 korban tewas. Saatnya mempertanyakan sikap sportif suporter dan pentingnya literasi olahraga di Indonesia.

    Dibaca : 1.053 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dunia sepakbola Indonesia patut berduka, akibat tragedi usai pertandingan Arema FC vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang. Arema FC kalah dari Persebaya, 2:3, lalu penonton, turun ke lapangan, laly terjadi kekacauan yang melibatkan ribuan orang. Sangat disayangkan tragedi ini menelan korban sekurangnya 127 orang meninggal dunia, termasuk dua polisi. Bahkan kini, 180-an supporter masih dirawat dan 13 mobil dirusak.  Semoga para korban meninggal dunia mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, amiin.

    Mungkin, ini tragedi sepakbola terbesar di Indonesia sepanjang sejarah. Sepakbola yang ternoda, olahraga yang tercederai. Kekacauan dan sikap tidak sportif pun telah melanggar 4 prinsip olahraga yang harus 1) Baik, 2) Benar, 3) Terukur, dan 4) Teratur (BBTT). Lebih dari itu, Liga 1 Indonesia pun dihentikan sementara. Belum lagi potensi sanksi dari FIFA. Aksi olahraga yang memprihatinkan kok masih diperagakan di negeri ini.

    Namanya olahraga, ada menang ada kalah. Siapa pun penggemar sepakbola, pasti tahu. Bila melihat liga sepakbola di Eropa, mau bermain se-emosi apapun di lapangan tidak ada yang berakhir ricuh. Apalagi suporter atau penonton, justru begitu fanatis. Sepanjang pertandingan bernnyai dan menyemanti tim pujannya. Tapi sikap sportif tetap dijunjung tinggi. Kalah tidak emosi, menang pun tidak jumawa. Sekali lagi, namanya olahraga. Selain bersifat kompetisi, sekaligus jadi hiburan.

    Belajar dari kejadian tragedi sepakbola Kanjuruhan Malang ini sudah sepatutnya semua insan olahraga di Indonesia untuk mengambil hikmahnya. Berbenah dan memperbaiki diri agar tidak terulang lagi. Sangat disayangkan olahraga atau sepakbola yang harusnya bisa mengajarkan sikap sportif justru jadi ladang sikap anarkisme yang berlebihan.

    Bercermin dari realitas itu, sangat mendesak semua insan olahraga seperti pemain, supporter, penyelenggara dan induk organisasi olahraga untuk merevitalisasi sekaligus edukasi kembali akan pentingnya literasi sepakbola. Suporter tidak cukup hanya bermodalkan fanatisme. Saat menonton pertandingan, siapapun harus bersikap:

    1. Menjunjung tinggi sikap sportivitas. Bersifat ksatria dan mau menerima kekalahan, utamanya saat menjadi tuan rumah.
    2. Berani menerima kekalahan. Sebagai pembelajaran dan motivasi untuk memperbaiki diri dan berlatih lebih optimal.
    3. Bertindak tidak anarkis di lapangan atau stadion. Agar tidak menelan korban jiwa atau merusak fasilitas publik yang sangat merugikan.
    4. Saling mengingatkan antar supporter untuk tidak melanggar aturan dan jiwa sportivitas olahraga. Tidak perlu emosi yang berlebihan.
    5. Jangan merusak dan melukai siapapun di olahraga. Jadikan olahraga sebagai hiburan dan ajang membangun kekompakan yang positif. Bukan malah destruktif apalagi hingga hilang nyawa dengan mudahnya.

    Literasi olahraga di Indonesia memang masih jauh panggang dari api. Tapi siapapun harus sadar untuk kembali menjunjung tinggi sikap sportif di lapangan, saat berkompetisi. Olahraga apapun, harus tetap menjunjung tinggi 4 prinsip utama yaitu, baik, benar, terukur, dan teratur. Tidak boleh ada anarkisme di lapangan, tidak boleh ada tindakan yang menodai sportivitas.

    Jadilah suporter yang literat di setiap pertandingan. Maju terus olahraga Indonesia. Salam literasi

    Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.