Tragedi Kanjuruhan akibat Fanatisme Berlebihan - Analisis - www.indonesiana.id
x

Suporter Arema FC memasuki lapangan setelah tim yang didukungnya kalah dari Persebaya dalam pertandingan sepak bola BRI Liga 1 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu, 1 Oktober 2022. ANTARA/Ari Bowo Sucipto

trimanto ngaderi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 September 2022

Senin, 3 Oktober 2022 06:05 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Tragedi Kanjuruhan akibat Fanatisme Berlebihan

    Jika kita boleh berandai-andai, sekiranya para Aremania bisa menerima kekalahan dan tidak turun ke lapangan, mungkin tragedi maut itu tidak akan terjadi.

    Dibaca : 1.123 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    TRAGEDI KANJURUHAN AKIBAT FANATISME BERLEBIHAN

     

    Tidak hanya tragedi kemanusiaan, ada juga tragedi persepakbolaan. Tragedi terbesar dalam sejarah persepakbolaan di Indonesia. Setidaknya ada seratus orang lebih yang meninggal dunia sia-sia dalam laga pertandingan BRI Liga 1 antara Arema Malang dan Persebaya Surabaya dengan skor 2-3, Sabtu malam lalu di Stadion Kanjuruhan, Malang. Kita semua prihatin dan berduka tas peristiwa naas itu.

    Musibah itu bermula dari kekecewaan dari para supporter Arema FC Malang, yang lazim disebut Aremania (atau disebut juga Singo Edan). Intinya mereka tidak bisa menerima kekalahan tim kesayangannya, sebab sudah 23 tahun lamanya tim mereka tak  pernah terkalahkan di kandang sendiri. Hal tersebut membuat ribuan Aremania turun ke lapangan untuk menemui para pemain dan ofisial.

    Di sini saya tidak akan lebih jauh membahas detail peristiwa dan kronologinya. Saya akan mencoba melihat ihwal suporter Aremania dari sudut pandang sosiologis maupun psikologis.

     

    Sejarah Singkat Terbentuknya Aremania

    Berdirinya Aremania tak bisa lepas dari sosok dan peran Yuli Sumpil . Bagi para para pemain Arema dan Aremania, Yuli Sumpil merupakan sosok yang cukup disegani. Loyalitasnya kepada Arema FC memang sudah tak perlu dipertanyakan lagi. Entah sudah berapa banyak uang yang ia keluarkan dan berapa kali menyambangi stadion lawan demi mendukung klub kebanggannya. Bahkan ia dapat dikatakan sebagai salah satu founding father di balik terbentuknya Aremania sebagai salah satu kelompok suporter yang paling disegani di Indonesia. Ia kemudian dikenal sebagai dirijen legendaries di Aremania.

    Menurut Yuli Sumpil, Aremania terbentuk secara alami. Sekitar tahun 1994, beberapa suporter datang ke stadion. Akan tetapi mereka belum mengenal satu dengan lain, kecuali sebagian kecil saja. Sebelum terbentuk Aremania, suporter sepal bola di Malang termasuk yang paling brutal di Indonesia. Mereka masuk ke stadion dengan cara memanjat tembok dan tidak bayar. Toko-toko di sekitar stadion juga pada tutup karena merasa takut. Termasuk jika ada kendaraan dari plat rival, akan dirusak.

    Dari fakta itulah, Yuli dan kawan-kawan mulai memberikan arahan kepada para supporter yang sering membuat onar. Hal itu bertujuan untuk menjaga harga diri sebagai suporter Arema. Sampai pada akhirnya, kesadaran itu muncul dengan sendirinya. Akhirnya Yuli dkk membuat undangan kepada mereka untuk kumpul.

    Setelah berhasil menyatukan kelompok suporter yang ada di kota Malang, Yuli pun merasakan sebuah perubahan yang sangat besar. Menurutnya, kehadiran Aremania sebagai sebuah komunitas berhasil menekan angka krimininalitas dan tawuran antarkampung/antarsekolah yang biasa terjadi di Malang.

    Di mata warga Malang Raya, Aremania memanglah menjadi sebuah pemersatu. Aremania tak hanya dipandang sebagai kelompok suporter Singo Edan tetapi, juga sebagai sebuah simbol kebanggaan warga Malang. Hal yang sama juga menjadi sebuah arti penting kehadiran Aremania di mata Yuli Sumpil. Ia pun mengatakan bahwa Aremania, Arema dan Malang merupakan sebuah kesatuan yang tak bisa dipisahkan.

    Sekalipun tidak ada aturan tertulis, baik di dalam stadion maupun di luar stadion, para Aremania mampu menjaga nama baik dan harga diri mereka. Sebab dari awal, komunitas mereka dibangun atas dasar keikhlasan, ketulusan, dan kebersamaan. Ketiga pilar itulah yang membuat mereka tetap eksis dan menjadi simbol pemersatu warga Malang Raya.

    Setidaknya, itulah faktor sosiologis yang menjadi latar belakang berdirinya Arema. Mereka merasa seia-sekata, senasib-seperjuangan, senang-susah dirasakan bersama, seduluran saklawase (bersaudara selamanya), juga adanya ikatan emosional yang sangat kuat antarsesama supporter. Sehingga apabila salah seorang anggota komunitas yang disakiti, mereka kompak untuk membela dan memberikan balasan. Hal ini bisa dilihat dari jejak rivalitasnya dengan supporter Persebaya.

    Sikap Fanatisme Berlebihan

    Tidak ada salahnya mencintai klub kesayangan. Tidak ada kelirunya memiliki rasa bangga terhadap tim pujaan. Tiada pula berdosa jika bersikap fanatik terhadap Arema FC. Itu merupakan bentuk loyalitas dan kesetiaan yang seharusnya memang demikian halnya.

    Pada kenyataannya, para supporter Arema tidak hanya berasal dari daerah Malang Raya saja. Mereka juga berasal dari kabupaten/kota di sekitar daerah Malang. Bahkan, ada yang berasal dari tempat yang cukup jauh, seperti dari Blitar, Lumjang, hingga Jember. Mereka yang fanatik rela bersusah-payah melakukan perjalanan jauh menggunakan sepeda motor dengan bekal seadanya. Capek, panas, atau hujan tak lagi mereka hiraukan demi bertemu klub pujaan dan memberikan dukungan saat bertanding.

    Namun, yang perlu digarisbawahi bahwa apabila sikap fanatiknya sudah berlebihan , maka akan berdampak kepada sikap dan perbuatan yang membabi-buta. Mereka menjadi tak bisa berpikir secara jernih. Segala perkataan dan tindakannya lebih banyak dikendalikan emosi dan perasaannya ketimbang nalar dan logika.

    Fanatisme berlebihan terkadang mendorong mereka berbuat anarkis, kekerasan, penganiayaan, permusuhan, bahkan balas dendam. Tiada lagi sikap toleransi, menghargai, dan sportivitas terhadap lawan. Sikap selalu merasa benar, ingin selalu menang, mendominasi, atau menguasai adalah kondisi psikologis yang berbahaya.

    Pada tahap tertentu, perasaan bahwa timnya adalah yang terhebat dan tak terkalahkan akan menjadi sebuah keyakinan yang berakibat fatal. Buktinya adalah tragedi Kanjuruhan itu. Tidak terima timnya mengalami kekalahan, mereka turun ke lapangan dan membuat kegaduhan.

    Padahal, jika mereka menggunakan nalar dan logika, seharusnya mereka menyadari dari awal bahwa suatu pertandingan apapun, pasti akan ada pihak yang menang dan ada pihak yang kalah. Tidak mungkin ada pihak yang menang terus, atau sebaliknya ada pihak yang kalah terus. Menang dan kalah adalah hal biasa dalam permainan. Siap menang, siap pula kalah. Itulah hukum alam, sunnatullah.

    Ibarat orang berdagang, tidaklah mungkin ia terus-menerus mengalami keuntungan. Adakalanya ia mengalami kerugian, atau bahkan bangkrut. Mau untung, mau juga rugi. Untung dan rugi adalah hukum alam orang berdagang.

    Penutup

    Menurut saya pribadi, tragedi Kanjuruhan lebih kepada musibah . Sepertinya kita tidak bisa menyalahkan siapapun atau pihak manapun. Kita hanya bisa berharap, semoga peristiwa seperti itu ke depan tidak terulang lagi. Walaupun dalam hati kecil kita amat menyayangkan ratusan nyawa yang “mati sia-sia”. Jika kita boleh berandai-andai, sekiranya para Aremania bisa menerima kekalahan dan tidak turun ke lapangan, mungkin tragedi maut itu tidak akan terjadi.

    Catatan:

    Singo Edan (Jawa, singa gila) dalam konteks peristiwa ini bisa dimaknai “perbuatan di luar nalar dan logika”

    Ikuti tulisan menarik trimanto ngaderi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.