Tentang Embun - Fiksi - www.indonesiana.id
x

BW Photography by Tasch 2021

Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juni 2022

Senin, 3 Oktober 2022 12:55 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Tentang Embun

    Cerpen Tentang Embun. Cercah cahaya terlempar dari kejauhan di belakang para embun itu. Mengagumkan sekali. Keren. Suara girang tertahan senyum antara tangis terkesima, ingin semua perasaan sejak tadi mengekspresikan logika di lensa ini. Cerpen. Komunikasi literasi. Tak ada pembaca tak ada cerpen. Tak ada publik, tak ada seni tontonan. Kreativitas bareng di gerbang edukasi. Salam baik saudaraku.

    Dibaca : 559 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Area luas semirip Kebun Raya 1908. Sejuknya kabut tipis di antara pepohonan purba, pukul enam pagi lewat delapan belas menit waktu setempat. Bayangbayang pepohonan purba magis menghipnotis cuaca kabut pagi. Menguning kehijauan jingga secercah memerah mencipta garisgaris vertikal diagonal di tepian batangbatang pepohonan itu.   

    Cahaya lembut membias membelah antara pepohonan purba, membentuk nuansa di ujungujung pohonan perdu liar berbunga putih berhias warna nila di kelopaknya, kuncup-kuncup lembab membasah menguapkan rinai notasinotasi simfoni semesta.   

    Dedaunan di antara hutan pohonan purba lembab hijau lumutan. Cahaya pagi itu secantik putri melati menarinari kian kemari. Pepohonan seakanakan terus menuju ke atas, seakan hendak menjangkau ketinggian metafisis metronom terpadukan mencipta lagu bianglala setelah hujan rintik tak pasti.

    Terlihat di antara bingkai bumi nan langit. Biasan cahaya entah, meski matahari perdetik perlahan pada kepastian garis edarnya, tak juga mau terbit di ufuknya. Seraya menanti cahaya lain di balik embun. 

    **

    Memandangi daundaun di hijau pepohonan purba, menerbitkan tanya dalam kalbu. “Mengapa hari ini matahari terasa lambat memberi sinarnya pada daundaun. Barangkali matahari hari ini sedang tak mau bersekutu dengan bumi. Apa mungkin begitu. Kamu sedang ngambek ya. Ijinkanlah matahari terbit, sejenak saja, untuk manusia ganteng seperti aku. Oke kah.” Tengadah hatinya pada langit.

    Jika hal itu terjadi, matahari mungkin marah dengan bumi. Kalau mereka tak mau saling menyapa, kemana perginya mencari cahaya matahari lain ya. Ke rembulan atau kepada planet terdekat dari keduanya. Sulit menentukan. 

    Meski matahari memiliki komponen cahaya terbesar di antara planetplanet di jagad raya kesabaran. Hanya dengan kesabaran menunggu matahari menerbitkan cahaya untuk para embun berumah di dahandahan di daundaun di kelopakkelopak bungabunga pohonan beragam kepurbaan itu.

    **

    Dengan kesabaran, duduk di antara pepohonan, di antara ranting bersusunan dedaunan, bersama harapan sedikit waktu lagi akan menjadi indah. Menjadi impian pemirsa karyanya, menjadi gambargambar imaji dunia baru. 

    Warnawarni akan memancar dari akibat pencahayaan matahari dari belakang para embun itu memantulkannya di cembungan embun bagai pecahan wajah cahaya matahari kelak. Fantastis, bagai pantulan cahaya ratna mutu manikam membiaskan beterbangan ke udara pada sejuk waktu ini.

    Sistem memainkan peranan dalam persoalan waktu antar jeda imajinasi, bumi ataupun matahari, kedua benda planet tercipta dari gumpalan periode organisme zat, menjadi padat membentuk struktur material sains mineral metalurgi kosmik. 

    Mempercayai aksioma molekuler inti pada titik didih, memaksimalisasikan alfa dalam bentukan bilangan gama memecah diri menjadi mata rantai gravitasi benda terlindung oksigen meruang di kosong antar eksak metafisis asalnya meruang sains Ilahiah.

    Dalam kesadaran diorama penciptaan tak sekadar takdir benturan, ledakan, guncangan jagat raya bagaikan kumparan mesin cuci berputar terbolakbalik, meletupkan zat zat padat hingga terbentuknya para planet, konon demikian adanya naturalism the science of art. 

    **

    Namun mengapa hingga tengah hari matahari kini tak jua menyingsing. Tak ingin bertanya pada, kesabaran, sekarang sedang menanti waktu itu tiba membawa pesan cahaya kepada embun seharusnya secara alamiah. 

    “Mengapa tak jua terjadi?”

    Meski telah memeriksa semua hal diperlukan untuk menyelesaikan tugas hari ini menemui embun si nuansa matahari. Keduanya harus hadir serentak. Agar dari momen itu tercipta visual estetis, eksotis cahaya gemerlap perupaan gemercik air back lighting, keren banget. 

    “Tapi mana mataharinya?” 

    **

    Embun sudah sejak dini waktu menunggu. Seperti solis orkestra oleh satu gerakan partitur dirigen mengalu lah irama membentuk mozaik renda menghias bingkai peradaban, tanpa filter sensor sistematis akalakalan mencoba mengurangi rentangan warna akalbudi. Alam memiliki caranya menemui iman kekasihnya hakikat kebenaran hakiki, menepis akal bulus makhluk hidup nonestetis.

    Kesabaran masih menemani waktu, meski tak tau kapan menghentikan jarum jam itu. Apakah waktu masih memberi garis edar antar planet, untuk embun ataupun matahari dari sudut belakang pencahayaan dinanti. Tak guna memikirkan itu, sekalipun detik bertambah di titiktitik waktu setiap kali detak mengolah nafas pada degup.

    Panorama masih sama sejak tadi, matahari tak jua muncul seperti harapan membentang di dalam pesona perasaan jiwa. Harapan pada keindahan akan tampil, ketika awal cahaya matahari memberi makna dari belakang embun-back lighting, pada eskalasi puncak mistis tak semudah ditemukan di lain waktu dimomen serupa sekalipun.

    **

    Cercah cahaya terlempar dari kejauhan di belakang para embun itu. “Mengagumkan sekali. Keren!” Suara girang tertahan senyum antara tangis terkesima, ingin semua perasaan sejak tadi mengekspresikan logika di lensa ini.

    Cahaya itu terus melemparkan efeknya pada embun, kerlapkerlip seperti kunangkunang di malam hari. Mendekati para embun itu amat pelahan, cahaya di belakang embun itu bukan cahaya matahari seperti lazimnya. 

    “Apakah itu?” Belum selesai kagumku pada cahaya itu. Terasa pipi seperti di tepuktepuk beberapa kali. 

    “Bangun Bung! Jangan tidur di kursi taman,” dengan aksen unik terasa asing. Aku terkejut bukan kepalang, kesadaranku belum merata di kepala, terlihat jelas sosok di depan mataku itu mirip sebuah gambar di literatur sejarah negeriku.

    Ya! Pernah aku melihatnya di museum kota tua arah menuju pelabuhan kolonial tempo dulu, sama persis dengan lukisan di sudut museum itu. Perawakannya tinggi besar. Gambaran seorang Eropa berseragam lengkap semirip tokoh pejabat tinggi tempo dulu. Aku mencoba bangun pelahan terhuyunghuyung beberapa kali, mengerjabkan mata berulangulang. 

    Sosok itu, membantuku berdiri, menatapku sejenak, matanya biru kehijauan seperti kelereng bening. Tersenyum tak jelas benar, lalu dia sirna secepat detik, di antara pohonan purba, tak sempat aku memotretnya. Setelah menunggu momen berharihari, dia raib begitu saja bagai embun menguap.

    ***

    Jakarta Indonesiana, Oktober 02, 2022.

    Ikuti tulisan menarik Taufan S. Chandranegara lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.