Angin Terakhir di Jakarta - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Suasana di gerbong MRT Jakarta pada 5 Juni 2020. Tempo/M Taufan Rengganis

Orang Kubus

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 15 November 2021

Senin, 3 Oktober 2022 12:58 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Angin Terakhir di Jakarta

    Aku harap waktu-waktu terakhir ini dapat membuatmu senang.

    Dibaca : 687 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Seorang pemuda tengah duduk di sebuah kursi di sebuah kereta listrik. Pemuda itu terlihat sangat murung walaupun tubuhnya tegap dan gagah, sangat aneh melihat seorang pemuda yang gagah terlihat murung. Dia terlihat sedang duduk termenung sembari memainkan ponsel pintar tapi percuma saja, ponsel itu walaupun terlihat canggih ponsel itu ternyata tidak bisa mengakses internet, dia hanya berputar-putar mengakses galeri dan aplikasi WhatsApp selamat terus menerus. Akan tetapi dia tidak pernah merasa bosan sedikitpun.

    "Penumpang yang kami hormati. Sesaat lagi. Kereta akan tiba di Stasiun Ancol. Periksa dan teliti kembali barang bawaan anda. Terimakasih telah memilih layanan KRL Commuter Line. Dear Passengers. A moment again. The train will arrive at Ancol Station. Check and re-examine your luggage. Thank you for choosing KRL Commuter Line service.”

    Suara dari operator kereta Commuter Line tiba-tiba memecah keheningan. Pemuda itu kemudian segera berdiri, dia sudah menunggu saat ini. Saat di mana turun dari kereta untuk bertemu seseorang yang spesial. Tidak bisa diungkapkan bagaimana isi hatinya saat ini, ada rasa cinta, rasa takut, ada rasa sayang, ada rasa sedih, ada rasa bahagia, ada rasa marah. Begitu banyak emosi dalam diri si pemuda. Mungkin ada seribu atau ratusan ribu perasaan emosi yang tidak bisa diungkapkan, pemuda itu menghadapi konflik di dalam hatinya. Konflik yang sering dialami oleh anak cucu Adam.

    Akan tetapi pendirian dan keteguhan hati dari pemuda itu tetap berdiri tegak layaknya sebuah tiang bendera. Pemuda itu berjalan menuju pintu sebelah kiri, dia tetap menghadapi kenyataan yang ada, dia tidak lari terhadap realitas kehidupan, realitas yang tidak akan disangka oleh seluruh umat manusia yang berada di puncak peradaban. Sebelumnya, pemuda ini telah mengalami kehidupan yang amat panjang dan penuh dengan perjuangan dan sekarang dia akan menghadapi realitas yang menyakitkan.

    Pintu kereta kemudian terbuka. Pemuda itu melangkahkan kakinya dan seketika panasnya kota Jakarta mulai menggantikan dinginnya suhu AC dari kereta. Panasnya Jakarta dibarengi dengan panasnya suasana dari masyarakat Jakarta, nampak sekali banyak asap-asap yang membumbung tinggi ke langit, orang banyak yang membawa koper untuk mencari tempat yang lebih aman, anak-anak banyak yang ditelantarkan, dan otoritas negara tidak mampu untuk mengontrol situasi krisis yang menerpa Indonesia. Kaum agamawan bahkan sampai berkata bahwa ini adalah akhir dari dunia, begitu pula dengan kaum atheis dan kaum-kaum lainnya. Semuanya merasakan keputusasaan yang mendalam.

    Pemuda yang melangkahkan kakinya keluar kereta, dia juga merasakan keputusasaan yang sama, dia ingin menangis dengan takdir yang telah membuatnya jatuh. Kala sejarah manusia akan berakhir hari ini, tiba-tiba seseorang datang menghampiri pemuda itu, rambutnya pendek sampai sebahu dengan berwarnakan hitam yang menawan, dia berjalan sembari membawa tas selempang berwarna merah muda. Seorang yang menghampiri pemuda itu adalah seorang gadis yang sebaya dengannya dan sekarang gadis itu berhadapan langsung dengan si pemuda.

    "Kamu Okisho 'kan?"

    Persamaan dengan ucapan kalimat itu. Kereta yang sebelumnya digunakan kemudian pergi dari stasiun dengan diiringi suara desis serta bel dari pengeras suara yang terpasang. Pemuda yang bernama Okiso itu kemudian mengangguk pelan sembari tersenyum tipis, ada banyak sekali kata-kata yang diungkapkan bagi seseorang. Okiso kemudian berkata.

    "Dan kamu pasti Yui 'kan—"

    Sebelum Okiso menyelesaikan satu kalimat pertanyaan kepada gadis yang dia sangka bernama Yui, Si gadis menarik tangan kanan Okiso. Mereka berdua lalu berlari hingga keluar dari stasiun mereka keluar dari stasiun terdengar suara-suara teriakan dari orang-orang, bukan teriakan dari manusia yang meminta agar harga sembako atau BBM diturunkan melainkan teriakan putus asa yang mendalam, suasana benar-benar kacau di luar sana, para manusia yang tidak waras mengeyampingkan aturan dan norma yang telah dibentuk. Kebakaran juga terjadi di mana-mana, di daerah perkotaan ataupun di dalam diri manusia itu sendiri.

    Manusia gila yang menganggap sepele nilai-nilai aturan dan norma, tapi yang harus diketahui adalah dunia sesungguhnya tidak kekurangan manusia waras dan dua manusia tadi adalah contoh dari manusia yang mempertahankan sisi kemanusiaannya.

    Pada pelarian ini walaupun rasanya neraka kecil telah tercipta tapi Okiso tetaplah seorang laki-laki pada umumnya. Pemuda itu menikmati keanggunan dari Yui. Laksana malaikat yang jatuh dari langit walau dia turun pada waktu yang tidak tepat. Pada akhirnya dia berhenti setelah berlari cukup lama. Dua insan ini akhirnya berhenti di suatu tempat yang rindang dengan pepohonan yang tinggi di belakang mereka adalah sebuah lapang terbuka dengan warna dominan jingga.

    "Rasanya kakiku seperti sudah putus," ujar Okiso dengan napas terengah-engah.

    "Maaf, aku takut bila orang-orang jahat akan datang kepada kita."

    Okiso kemudian tersenyum dan menatap pundak Yui sembari berucap, "Sudahlah mari kita bersenang-senang." Sekarang giliran Okiso yang menarik tangan Yui dengan lembut. Okiso berjalan menuju sebuah Taman Bermain melewati loket pembayaran dan bersama-sama tertawa 'tuk menghabiskan waktu walaupun untuk terakhir kalinya.

    Pada waktu-waktu terakhir mereka, wahana komidi putar menjadi wahana pertama yang mereka naiki. Okiso dan Yui menaiki komidi putar yang berputar secara berkesinambungan. Layaknya sejarah manusia dari bayi menuju remaja yang dilanjutkan pada masa-masa dewasa lalu meninggal pada hari tua, waktu mereka kemudian dilanjutkan oleh anak-anak atau generasi-generasi baru yang tumbuh dengan cinta dan kasih sayang oleh kedua orang tua mereka.

    "Aku ingin hidup seperti ini!" Tiba-tiba Okiso berbicara dengan sangat keras sampai Yui menoleh kepada Okiso, dia bingung dengan ucapan Okiso.

    "Maksudmu bagaimana?"

    Okiso tersenyum. “Aku ingin menikmati rutinitas yang berulang-ulang dengan perempuan yang kusayang.” Okiso lalu memandang kepada Yui. “Pergi ke tempat dimana aku bekerja, kemudian pulang ke Rumah dan disambut olehmu sudah bisa membuatku senang. Lalu dilanjutkan dengan makan malam bersama setiap hari. Pada malam harinya, aku lalu berdo’a kepada Tuhan untuk diberikan hari esok yang seperti hari yang telah kulalui. Benarkan, Yui?”

    Yui memandang kepada Okiso, wajahnya memerah bagaikan permen kapas. Yui lalu tersenyum sembari mengangguk. “Benar. Aku juga berharap akan seperti itu.”

    Wahana selanjutya adalah bianglala. Sebuah wahana kincir angin yang berukuran sangat besar, kincir angin itu digantungi kabin-kabin untuk ditumpangi. Sepanjang mata memandang kabin-kabin itu berputar layaknya kondisi kehidupan manusia. Acap kali orang-orang yang berada di puncak tiba-tiba turun derajatnya, begitu pula dengan orang-orang yang berada di bawahnya. Okiso dan Yui kemudian memberanikan diri untuk masuk ke dalam. Mereka duduk saling berhadapan.

    Yui terlihat sangat tenang ketika menaiki bianglala, dia terlihat tidak takut sedikitpun. Hatinya sungguh berani dengan keteguhan hatinya yang sangat kuat. Berbeda dengan Okiso, kekasih yang berada di hadapannya. Wajah Okiso terlihat pucat pasi bahkan kakinya sampai bergetar. “Kau tidak apa-apa, Okiso?” Yui menatap Okiso dengam khawatir. Matanya yang berwarna kecokelatan menatap Okiso dengan tajam. Kakinya terlihat bergetar-getar warna kulitnya jangan ditanya menjadi seperti apa.

    “Maaf. Semenjak aku kecil, aku memang takut menaiki bianglala. Ketakutan ini berlanjut ketika aku remaja hingga menjadi dewasa. Menjadi laki-laki ternyata cukup sulit.”

    Yui kemudian berdiri, ia berjalan ke arah Okiso. Gadis itu berbalik lalu berakhir duduk bersebelahan bersama pelengkap hatinya. Yui memegang telapak tangan dari Okiso, dia kemudian menatap mata Okiso, sejekap hati gemetar yang dialami secara berangsur-angsur menghilang. Hatinya bebas dari ketakutan, rupanya keteguhan Yui berhasil mengusir perasaan negatif Okiso.

    “Kita berhadapi ini bersama-sama, Okiso. Bersama kita akan menjadi kuat, bukankah itu benar, ya ‘kan?”

    Okiso tersenyum lalu mengangguk pelan. Hatinya dikuatkan oleh Yui dan imbalan dari ketuguhan serta kasih sayang itulah yang pada akhirnya membuat mereka berada di puncak bianglala. Pemandangan di atas sangatlah menakjubkan, di sana mereka melihat hamparan laut yang berwarna biru, hati Yui dan Okiso merasakan sesuatu yang membuat hati mereka tenang. Kedamaian hati berhasil mereka raih tatkala melihat ombak, ikan, dan karang laut. Energi alamlah yang membuat kedua insan itu merasa damai. Terlihat pula para nelayan yang tengah melaut setidaknya untuk terakhir kalinya dalam hidup mereka. Bersamaan dengan kedamaian hati, bianglala itu secara perlahan turun ke bawah.

    Itulah bagaimana kedua pemuda-pemudi itu menghabiskan waktu bersama. Mereka bermain wahana-wahana lain dan makan di Restoran bersama untuk terakhir kali. Selepas canda tawa di dalam dan bersama-sama menikmati hidangan terbaiknya, pasangan itu melanjutkan perjalanan mereka. Entah kemana tujuan mereka tetapi matahari semakin tenggelam ke ufuk barat. Waktu mereka akan berakhir dan sekarang mereka berada tepi lautan berwarna biru, lebih tepatnya mereka berada di Dermaga. Berjalan-jalan di atas kayu-kayu yang disusun sedemikian rupa. Tidak ada seorangpun manusia di Dermaga, hanya ada Yui dan Okiso sebagai manusia terakhir.

    Ketika waktu semakin berkurang detik demi detik, kedua pemuda-pemudi itu masihlah tetap berjalan walaupun keduanya tidak saling bercakap-capak. Tampak, seperti ada yang mengganjal dalam hati mereka berdua.  Ketika itulah, wajah Okiso semakin muram, dia terus menunduk ke bawah hingga dia tiba-tiba berhenti dan berbalik melihat Yui yang berada di belakangnya.

    Keganjalan hati itu semakin memberatkan pikiran dari Okiso, dia berdiam diri selama beberapa lama hingga pada akhirnya dia membulatkan hati untuk berbicara. Pembicaraan pengakhiran antara dua insan. “Yui—," ucap Okiso dengan suara pelan dan dengan nada panjang. Wajahnya semakin pucat dan muram sementara itu dia melihat Yui dengan tatapan sayu. “Mengapa kamu mau menghabiskan waktu bersamaku?”

    “Ano—bukankah kita telah berjanji? Kita telah membuat janji ini beberapa minggu ke belakang dan tentunya sudah menjadi sebuah kewajiban bila aku harus menepati janji itu.”

    Okiso tertawa kecil, itu bukanlah tawa meremehkan seseorang akan tetapi tawa kebahagiaan. Bersamaan dengan itu dia kemudian berlutut lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Luapan perasaan sedih sudah tidak bisa ia bendung, rasanya sungguh luar biasa hebat, sedih tidak terkira sampai berlinang air mati tapi bukankah menangis adalah hal normal bagi laki-laki atau perempuan? Itu normal.

    Tapi melihat kondisi dari semua ini tentu semua orang akan merasakan rasa putus asa, rasa takut, dan rasa-rasa lainnya akan membanjiri hati si pemuda. Tidak, melainkan hati dari seluruh umat manusia. Sungguh malang sekali nasibnya dan Okiso dia ternyata masih belum bisa menerima takdir, rasanya dia ingin berlari dari masa depan yang sangat gelap. Tapi, bukankah manusia tidak mempunyai hak ketetapan itu? Hanya Tuhan dengan kekuatannya yang bisa melakukannya atau kalau tidak, manusia hanya bisa berusaha dan Tuhanlah yang akan menetapkan. Tapi dalam kasus ini manusia tidak membuat bahtera ataupun kapal luar angkasa yang dapat menembus dunia malam. Ini adalah akhir yang nyata bagi umat manusia.

    Ketika manusia sadar bahwa waktunya tidak akan lama, maka dia akan memulai berbicara dan Okiso akan memulainya.

    “Yui—," isak Okiso dengan bersimbah air mata, “Andai waktu bisa lebih panjang. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu, membelaimu, dan memberikan kasih sayang sebagaimana mestinya. Tapi—Ya Tuhan, aku tidak harus bagaimana dan untuk terakhir kalinya, Yui.” Okiso kemudian berhenti menutupi wajahnya lalu menatap Yui dengan senyum lebar sembari berucap, “Aku sangat mencintaimu.”

    Angin berhembus diantara mereka, angin terakhir dari Jakarta. Yui yang mendengar semua ucapan dari kekasihnya seketika membeku fisiknya tapi tidak berselang lama hatinya kemudian luluh. Yui kemudian menangis, sadar bahwa waktu yang mereka miliki tidaklah banyak, dia berlari kemudian memeluk Okiso dengan erat dan menangis di pundaknya. Air mata Yui membanjiri sweater yang dikenakan Okiso.

    “Okiso bodoh!” Yui tiba-tiba berteriak tapi Okiso sadar bahwa tindakan Yui adalah hal yang wajar, “Kenapa kamu mengingatkanku dengan dunia ini! Setiap malam aku berdo’a kepada Tuhan agar aku melupakan akhir dari semua ini, tentang hari kiamat dan apapun itu. Aku ingin agar kita bisa menghabiskan waktu bersama setidaknya untuk terakhir kali.”

    Okiso kemudian memeluk Yui semakin erat, “Maafkan aku, Yui,” ucap Okiso dengan nada pelan, “Aku mohon— maafkan aku.”

    Yui kemudian memegang tangan kiri Okiso, membuka telapak tangannya kemudian menggembangkan dengan erat sembari mengangkatnya ke atas hingga sejajar dengan pundak mereka.

    “Tidak apa, Okiso. Setidaknya kita masih bisa bersama. Aku mencintaimu, Okiso.”

    “Aku juga, Yui.”

    Sekonyong-konyong setelah perjalanan romansa yang indah, sebuah cahaya kilat dari selatan tiba-tiba terlihat. Menciptakan bola api yang sangat panas hingga melelehkan ciptaan Tuhan dan manusia. Angin kehidupan antara dua insan bernama Okiso dan Yui berakhir di sebuah Dermaga di Utara Jakarta. Requistat In Pace.

    Ikuti tulisan menarik Orang Kubus lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.