Dirgahayu ke-77 TNI, Saya Bangga Dididik oleh Tentara - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Rabu, 5 Oktober 2022 19:18 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Dirgahayu ke-77 TNI, Saya Bangga Dididik oleh Tentara

    Dirgahayu ke-77 TNI. Saya bangga dididik dan dibesarkan oleh tentara yang selalu siap bertempur bukan karena dia membenci apa yang ada di depannya. Tapi karena dia mencintai apa yang ada di belakangnya.

    Dibaca : 753 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Bukan hanya bangga. Tapi sikap Hormat dan apresiasi saya ingin sampaikan ke Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang hari ini berulang tahun ke-77, 5 Oktober 2022. Karena hingga kini, TNI telah mampu menjalankan tugas pokoknya  untuk menegakkan kedaulatan negara RI, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara Indonesia. Tidak ada perang, tidak ada invasi bahkan tidak ada penodaan pertahanan terhadap bangsa Indonesia.

     

    Sebagai anak tantara, saya harus tegas menyatakan TNI patut diapresiasi. Selain loyal kepada negara, TNI mampu menjadi organisasi yang kokoh dan Tangguh untuk menjaga keamanan dan pertahanan bangsa Indonesia. Sekalipun masih ada “pekerjaan rumah” menyangkut kesejahteraan tantara. Maklum zaman Bapak saya, tantara tahunya hanya membela negara. Harus meninggalkan keluarga bertahun-tahun ke Timor-Timur, ke Irian Jaya. Bertaruh nyawa walau gajinya tidak seberapa. Uang lauk pauk pun kecil sekali. Begitulah saya dibesarkan oleh seoarang ayah yang tantara.

     

    Tapi saya akui diajar dan dididik oleh seorang tantara sangat membanggakan. Agar selalu punya semangat juang tinggi. Tangguh dan tidak cengeng seperti orang-orang sekarang. TNI tidak mudah baperan, bahkan anti hoaks dan ujaran kebencian. Apalagi menyalahkan orang lain bukan karakter TNI. Teringat nasihat Bapak saya, “tentara itu tidak boleh berpikir macam-macam". Tahunya, membela negara, apapun keadaannya siapapun musuhnya.

     

    Dari situ, saya jadi tahu beda tentara dengan sipil. Kalau tentara itu kerjanya hanya memberi bukti. Diperintah pergi ke mana saja dijalankan. Entah bertempur atau hanya jaga wilayah NKRI. Sementara sipil, mungkin, lebih suka kata-kata dan janji. Segala sesuatu diperdebatkan. Diperintah justru malah berdebat. Kebanyakan diskusi, hingga lupa akan janji.

     

    Sekali lagi, terima kasih TNI. Karena di tubuh tantara, selalu mengalir jiwa ksatria, tegas, dan bijaksana untuk menjaga kedaulatan bangsa dan negara. Pantang menyerah untuk bela negara, bukan merongrong negara. Bila TNI adalah rumah, maka Indonesia itu ibarat pekarangan. Maka setiap tantara, pasti akan menjaga rumah dan pekarangan itu sekaligus. Tanpa pandang bulu, tanpa pikiran macam-macam.

     

    Dididik dengan cara-cara tentara, saya jadi tahu kehebatan tantara. Tinggal di komplek tentara. Jadi kenal senjata, kopel rim, sepatu lars, baret hijau, helm perang, PDL, dan lainnya. Bapak saya pernah bilang, “hidup itu seperti menembak. Arahkan ke depan, jangan hiraukan kiri dan kanan. Fokus hanya pada sasaran tembak, pada tujuan”. Ternyata, begitu tantara bekerja. 

     

    Ada yang patut dipelajari dari tantara. Bahwa tentara itu siap bertempur bukan karena dia membenci apa yang ada di depannya. Tapi karena dia mencintai apa yang ada di belakangnya. Kapan saja dan di mana saja. Luar biasa, terima kasih tantara. Selamat ulang tahun TNI. #DirgahayuTNI #TerimaKasihTentara

    Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.