Taipan I - Lahirnya Para Konglomerat Indonesia - Hiburan - www.indonesiana.id
x

cover buku Taipan I

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 7 Oktober 2022 11:41 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Taipan I - Lahirnya Para Konglomerat Indonesia

    Di tengah ketidak pastian politik, kesewenang-wenangan penguasa, dimusuhi masyarakat sekitarnya, orang-orang tionghoa berhasil menjadi pebisnis handal dan bahkan menjadi konglomerat kelas dunia.

    Dibaca : 1.761 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Taipan – Lahirnya Para Konglomerat

    Penulis: William Yang

    Tahun Terbit: 2021 (Cetakan ketiga)

    Penerbit: Elexmedia Komputindo

    Tebal: 692

    ISBN: 978-602-04-9642-9

     

    “Taipan” adalah sebuah novel. Namun penerbit, yaitu PT Elexmedia Komputindo mengategorikannya sebagai genre history. Mana yang benar? Keduanya benar. Sebab buku karya William Yang ini adalah sebuah nivel sejarah. William Yang hanya menyamarkan nama-nama tokohnya, sementara kisah-kisahnya tidak diubah. Sebagai sebuah novel tentu kejadian-kejadian yang sesungguhnya tersebut dituturkan secara dramatis dan menarik.

    Taipan terdiri atas 3 jilid. Jilid 1 – berjudul “Taipan – Lahirnya Para Konglomerat,” fokus kepada proses tumbuhnya konglomerasi di awal republic. Jilid 2 berjudul “Taipan – Di Bawah Bayang-Bayang Papi” mengisahkan keluarga seorang konglomerat dari sisi yang lebih pribadi. Jilid 3 berjudul “Taipan – The Winner Take All” menggambarkan bagaimana konglomerat saling memakan.

    Melalui novel ini kita menjadi tahu bagaimana kerasnya dunia bisnis. Para pebisnis adalah mereka yang siap untuk bertarung dalam dunia yang serba tak pasti. Mereka adalah pejuang-pejuang yang bernyali. Kita menjadi paham bagaimana kelicikan, praktik kotor dan pengkhianatan berkelindan dalam perjalanan sejarah ekonomi Indonesia yang menghasilkan para konglomerat.

    Willam Yang menceritakan bagaimana konglomerasi tumbuh di Indonesia. Konglomerasi justru tumbuh dari keluarga-keluarga tionghoa yang miskin. Dalam situasi awal Indonesia yang ekonominya amburadul, politik yang tak menentu, mereka-mereka ini justru bisa tumbuh menjadi konglomerat kelas dunia. Mereka-mereka ini tidak mendapat dukungan. Mereka justru dicurigai, dimusuhi dan dijadikan sasaran kebijakan politik yang tak menguntungkan. Dengan menggunakan nilai-nilai leluhur, para tokoh dalam novel ini membuktikan diri bisa menjadi sukses.

    Novel ini mengangkat dua tokoh utama konglomerat Indonesia yang namanya disamarkan. Tokoh tersebut (nama samaran) adalah Wang Zhen dan Zhou Zheng Ru. Jika kita jeli membaca kisah dalam novel ini, dengan mudah kita akan tahu siapa sebenarnya kedua tokoh yang disamarkan namanya tersebut. William Yang mengisahkan kehidupan kedua tokoh konglomerat ini sejak mereka kecil.  Wang Zhen lahir di Malang, pernah ikut berjuang melawan Jepang dan kemudian berkarir di dunia perbankan. Meski pada awalnya Wang Zhen tidak disetujui oleh ayahnya untuk berkarir di perbankan namun akhirnya Wang Zhen dikenal sebagai bankir terbaik di Indonesia.

    Zhou Zheng Ru adalah anak seorang keluarga kecil di Purwokerto. Ayahnya adalah seorang pegawai bank milik Belanda. Zhou merantau ke Jakarta saat keluarganya mengalami kesulitan di Purwokerto. Di Jakarta ia berhasil mengembangkan bisnisnya sehingga menjadi konglomerat.

    Ada tiga ajaran leluhur tionghoa yang menjadi pedoman menuju sukses diungkap dalam novel ini. Ajaran pertama adalah “Lie Yi Lian Dje (ramah, baik, jujur, dan tahu malu).” Keberhasilan Wang Zhen salah satunya disebabkan ia menerapkan prinsip ini. Wang Zhen mendapatkan ajaran ini dari ayahnya. Dalam meniti karir Wang Zhen senantiasa ramah kepada pihak-pihak kepada relasinya. Ia selalu berbuat baik. Bahkan seringkali secara sengaja menanamkan budi kepada rekan-rekannya sehingga suatu saat budi ini bisa dimanfaatkan saat ia memerlukannya. Ia senantiasa jujur. Dalam kasus ia menjadi manager bank tanpa paham ilmu akuntansi, ia berani mengakuinya dan mau belajar keras supaya paham. Dalam menjalankan bisnisnya, ia juga selalu jujur.

    Ajaran kedua adalah tentang “menunggang kuda.” Ajaran menunggang kuda dijelaskan oleh Willam Yang melalui pertemuan Wang Zhen dengan Om Lim. Wang Zhen yang sedang merintis karir tentu tak mungkin mengejar para taipan yang sudah mapan seperti Om Lim. Oleh sebab itu saat ia ditawari untuk mengelola bank milik Om Lim (dalam novel ini disebut sebagai Asia Central Bank – ACB), Wang Zhen bersedia. Ia seperti mendapat kuda untuk ditumpangi supaya bisa berada di depan bersama mereka yang sudah lebih maju. Benar saja. Saat ia sudah sejajar dengan mereka yang di depan, Wang Zhen mengelola bank milik sendiri. Mustahil ia mengejar ke depan jika hanya berlari.

    Ajaran ketiga yang dibahas adalah “kerja keras.” Tidak ada bos yang hanya ongkang-ongkang kaki. Dalam novel ini kedua tokohnya adalah orang-orang yang bekerja keras. Zhou Zheng Ru merintis bisnisnya dengan kerja keras. Ia merantau ke Jakarta tanpa modal. Namun kerja kerasnya telah membawanya menjadi salah satu konglomerat Indonesia. Wang Zhen pun digambarkan sebagai tokoh yang hidupnya mengalami berbagai gejolak. Hanya dengan ketabahan dan kerja keras ia akhirnya berhasil.

    Ketabahan, kerja keras dan keuletan digambarkan tentang bagaimana kedua orang ini tumbuh di tengah situasi Perang Dunia II sampai dengan era Orde Baru. Penguasa tidak pernah berpihak kepadanya. Masyarakat sekitar memusuhinya. Modal tak ada. Kedatangan Jepang telah menghancurkan keluara Zhou Sheng Ru yang mapan di Purwakarta. Jepang juga membuat Wang Zhen dipenjara. Di jaman “Bersiap” keluarga tionghoa dimusuhi dan dijarah tanpa ada yang membela. Keluarga-keluarga tionghoa banyak yang jadi korban. Dalam kondisi tanpa perlindungan, beberap komunitas tionghoa harus membela diri. Maka muncullah Po An Tui (laskar tionghoa yang melindungi orang-orang tionghoa). Di masa awal Republik, kebijakan yang merugikan orang tionghoa, seperti “Program Banteng,” “Gunting Syafrudin” (pemotongan nilai rupiah) jelas merugikan orang-orang tionghoa. Namun dengan ketabahan, kerja keras dan keuletan, mereka tetap bisa bertahan, bahkan tumbuh membesar.

    Jadi, apakah ini buku sejarah atau sekadar novel? Bukankah dalam buku ini juga disajikan foto-foto yang memberi bukti sejarah ekonomi dan sosial Indonesia pada periode yang dikisahkan? Bukankan fakta-fakta kebijakan politik dan ekonomi nyata adanya? Bukankah kejadian-kejadian yang diungkap dalam buku ini bisa dicari kebenarannya? Semua itu benar adanya. Namun penyamaran nama-nama tokoh dan cara bertutur yang menarik dan dramatis membuat buku ini masuk ke kategori novel. Novel sejarah. 706

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.






    Oleh: Bayu Lukmana

    Selasa, 8 November 2022 17:43 WIB

    Lagu Satu Jiwa Lambang Toleransi Keragaman

    Dibaca : 755 kali