Sapu Tangan Bersandi

Selasa, 25 Oktober 2022 08:46 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sebuah cerita pendek tentang sapu tangan bersandi yang menyatukan dua hati ke jenjang hubungan yang lebih tinggi.

SAPU TANGAN BERSANDI ISTIMEWA
Cerpen pendek
Ide cerita dan penulis: Wian Adhinata
 
Siang terasa sumpek karena debu jalan dan polusi akibat knalpot bis yang asapnya menyesakkan pernafasan. Tukang gorengan pada gerobak pinggir jalan pun menutup dagangannya dengan plastik bening. Tukang kue cubit memasukkan kue-kuenya yang baru matang ke dalam etalase kaca agar tidak terkena debu jalan yang beterbangan dan makin tebal.
 
Diana berjalan ke arah toko batik di dekat persimpangan jalan. Toko batik Sekar Madju sudah menjadi langganan keluarganya sejak zaman neneknya masih muda. Hari ini ia berniat membeli sekotak sapu tangan batik tulis untuk dihadiahkan pada Rian yang besok berulang tahun.
 
"Ahhhh...Mbak Di! Piye kabare, Mbak?" sapa ramah Bude Suminten, pemilik toko batik, dengan senyum lebar yang menampakkan ke empat gigi taring emasnya. "Alhamdulillaah baik, Bude!" jawab Diana dengan senyum manisnya yang bak gula jawa. Ia mengerti sedikit bahasa Jawa tapi tak bisa menjawab dengan bahasa yang sama. Jadilah sapaan itu dijawabnya dengan bahasa Indonesia saja.
 
"Aku mau sapu tangan batik tulis halus dong Bude. Ada?" tanya perempuan itu. "Oh ada! Ada!" jawab perempuan berambut kelabu yang tersanggul mungil di belakang kepalanya. Dengan cekatan ia mengeluarkan beberapa dus sapu tangan batik dari balik etalase dan membukanya di hadapan Diana. "Silakan dipilih Mbaak..mau yang mana. Semuanya juga boleh!" katanya dengan wajah jenaka. Diana tertawa.
 
Dipandangnya semua sapu tangan batik yang coraknya semua bagus dan indah itu dengan kagum. Sapu tangan batik yang dijual Bude Suminten tak kalah kualitasnya dengan sapu tangan batik yang dijual di Sarinah. Bahkan harganya jauh lebih murah meski berkualitas sama. Itu sebabnya, mulai dari nenek, ibu, hingga dirinya berlangganan di sini.
 
Rian adalah lelaki paling istimewa di hatinya, karena itu ia ingin memberinya kado istimewa yang membuat dirinya seolah selalu berada dekat bersamanya. Sapu tangan adalah benda wajib yang selalu dibawa oleh Rian. Ia tak pernah membeli tisu untuk menyeka wajah, tangan, atau keringatnya. Menurutnya itu adalah pemborosan. Rian memilih selalu menggunakan sapu tangan yang bisa dicuci dan dipakai berulang kali. "Kamu tahu, jika kita boros memakai tisu, sama saja dengan menebang pohon-pohon dan tidak menyisakan untuk anak cucu kita nanti. Kasihan mereka!" ucap Rian suatu kali. Ucapan yang menurut Diana amat lebay, namun dirasanya benar juga. Rian amat mencintai alam, dan karena kegiatan pecinta alam pula Diana bertemu lelaki tersebut dulu.
 
Akhirnya, setelah melihat-lihat berbagai corak yang ditawarkan, Diana melilih satu box batik berisi enam sapu tangan dengan dua motif berbeda pada tepinya. Sapu tangan bermotif rereng dan truntum yang tengahnya polos dan berwarna gelap. Terlihat elegan untuk lelaki yang paling disayanginya.
 
"Wah Mbak Di tahu saja bahan yang paling bagus. Ini bahannya dingin dan cepat menyerap air. Jadi cocok sekali untuk menyeka keringat atau mengeringkan tangan yang basah." papar Bude Suminten seraya menyebutkan harganya. Mata Diana membelalak tak percaya mendengar harga yang ditawarkan. "Haaah? Tak salah, Bude?! Kurangilah! Jangan segitu! Kan aku langganan lho." tawar Diana.
 
Bude Suminten tersenyum penuh arti. "Ini sapu tangan khusus Mbak. Namanya sapu tangan bersandi. Mari sini saya perlihatkan!" katanya lalu mengajak Diana ke pojok tokonya dimana sebuah baskom plastik kecil berisi air berada disana. Dia mengambil sehelai sapu tangan yang sama dari box di etalasenya. Direntangkannya perlahan sapu tangan tersebut di atas air. Diana memperhatikan dengan seksama. Dan tak lama matanya pun membelalak, percaya tak percaya.
 
Pada bagian polos di tengah sapu tangan, muncul barisan kalimat cinta berbahasa jawa, "roso sayang Iki mung kanggo sliramu". Diana menutup mulutnya yang menganga karena kagum. Bude Suminten tertawa melihatnya. Diambilnya satu lagi sapu tangan berbeda, dan kembali direntangkan di atas air. Tak lama muncullah sebaris kalimat, "selawase aku urip, aku mong tresno karo kowe". Diana pun geleng kepala melihat tulisan anggun yang muncul di tengah sapu tangan basah tersebut.
 
Speechless! Sapu tangan indah berisi pesan cinta yang indah pula, rasanya Diana tak pantas menawar dengan harga yang lebih rendah karya seni yang luar biasa ini. Dibukanya dompet dan segera ia membayar tanpa menawar lagi. Bude Suminten tertawa sambil membungkus rapi kotak sapu tangan tersebut dengan koran bekas dan selotip. Diana benar-benar senang mendapat barang sebagus ini, apalagi untuk diberikan sebagai kado ulang tahun Rian esok. Ia membayangkan senyum manis Sang Kekasih saat melihatnya nanti.
Sayang, saking gembiranya, ia tak melihat tulisan di samping tutup kotak tersebut. Sapu tangan yang dibelinya adalah edisi khusus dengan pesan khusus pula yang tidak disangkanya.
*****
 
Sudah seminggu lebih selepas ulang tahunnya, Rian tak pernah menghubungi Diana. Jangankan menemuinya, menelepon atau mengirim pesan singkat pun tidak. Terakhir mereka bertemu adalah satu hari setelah Rian ulang tahun, ketika lelaki itu pamit tugas keluar kota selama dua minggu. Tentu gadis itu merasa heran. Berkali-kali ia mencoba mengirim pesan, tak pernah dibacanya. Pesan yang dikirim tepat sehari setelah ulang tahun Rian pun hingga kini masih centang satu. Telponnya tak pernah aktif. Diana makin bingung. Apa yang terjadi dengan sang kekasih. Hendak menemui pun tak mungkin karena Rian baru kembali bertugas dari Cirebon hari Minggu yang akan datang. Diana hanya bisa menduga-duga. Di hatinya mulai timbul prasangka. Jangan-jangan Rian selingkuh disana hingga melupakan aku seperti ini, pikirnya.
 
Suasana pagi terasa berbeda hari Minggu ini. Cuaca yang belakangan sering mendung dan hujan kini cerah dan bahkan warna langit pun nampak biru terang dengan mentari bersinar cerah. Diana sehabis subuh sibuk menyapu halaman dan merapikan tanaman hiasnya yang sudah mulai rimbun. Tanaman rambat yang sudah menggelayut sana sini segera dipangkasnya hingga rapi kembali.
 
Mas Tono, kakaknya, yang baru pulang tugas pun tercengang melihat halaman dan teras rumah yang tertata rapi kini. "Oalaahh ..adikku satu ini sedang bersih-bersih rumah rupanya. Pantas saja rumah jadi segar dan hujan tak turun hari ini!" godanya. Diana tertawa dan melempar sarung tangannya. "Ngopi Mas? Aku sudah bikin pisang rebus tadi." tawarnya. Sang kakak tertawa senang dan mengiyakan. "Iya dong. Pagi begini memang pas ngopi ditemani pisang rebus."
 
Telepon rumah berdering, tepat saat Diana tengah membawa baki berisi kopi hitam dan pisang rebus. Setengah berlari, perempuan itu menghampiri pesawat telepon. Sayang, ia terlambat mengangkatnya. Sambungan telepon sudah putus. Siapa yang menelepon ke rumah sepagi ini, pikir Diana. Ditunggunya sebentar di dekat pesawat telepon. Namun tak kunjung berdering. Diana mengangkat bahu dan beranjak kembali ke teras. "Siapa yang menelepon?" tanya Mas Tono setelah meneguk kopinya yang masih panas. "Entahlah, keburu ditutup." jawab Diana sambil duduk di atas bangku plastik kecil dan kembali menyiangi tanaman.
 
Mentari mulai terasa lebih hangat. Keringat di dahi dan tubuh Diana pun sudah bercucuran. Perempuan itu tersenyum puas sambil memperhatikan seluruh koleksi tanaman hiasnya. Disiramnya mereka semua sebelum mencuci peralatan berkebunnya. Jam dinding di teras rumah menunjukkan pukul 9.00. Ia pun bergegas mandi.
 
Baru saja mengeringkan tubuhnya, Mbak Devi, kakak iparnya memanggil. "Diana, cepat! Ada tamu menunggu di depan." teriaknya. "Siapa Mbak?" tanyanya sambil melangkah keluar kamar mandi. Mbak Devi tertawa jahil. "Kamu lihat sendirilah!" Diana merengut, lalu terburu-buru masuk kamar dan merapikan dirinya.
 
Harum semerbak parfum Elizabeth Dior menyeruak di seluruh ruangan yang dilewati Diana. Dengan rambutnya yang masih basah dan riasan wajah natural ia nampak begitu segar. Dilihatnya seorang tamu lelaki menunggu sambil berdiri memunggungi pintu masuk.
 
"Rian?!" sapanya setengah tak percaya. Lelaki itu telah mengubah potongan rambutnya sehingga Diana tak mengenalinya dari belakang. Lelaki tinggi gagah itu menoleh. Senyum tipis menghiasi wajahnya. Matanya menelusuri tubuh sang kekasih dari atas ke bawah. "Jam segini baru mandi?" tanyanya sambil mengacak rambut Diana. Perempuan itu tak menanggapi pertanyaannya, malah balik bertanya.
 
"Kamu kemana saja toh? Kok sama sekali tak ada berita?!" katanya. Rian tertawa. "Ponselku jatuh ke laut. Ini baru beli lagi kemarin sore sebelum pulang." katanya sambil memperlihatkan ponsel Samsung A51 yang masih tampak baru. Diana merasa lega. Jadi itu toh masalahnya, pikirnya.
 
Mereka duduk bersisian di bangku panjang pada teras rumah. "Sehari tanpa berita sudah bikin gelisah, apalagi dua minggu." gerutunya sambil melendot manja. Rian tertawa. "Eh, mmm...benarkah pesan yang kau tulis di sapu tangan darimu itu?" lelaki itu menoleh dan matanya menatap serius ke wajah Diana.
Perempuan itu terkejut, matanya menatap menduga-duga. "mmmm..memang pesan apa yang kau baca di sapu tangan itu?" katanya balik bertanya. Rian tertawa melihat wajah malu Diana.
"Tolong bawakan aku baskom kecil berisi air. Kita baca bersama saja." katanya. Sejenak kemudian Diana pun membawakan permintaan Rian. "Bacalah!" kata Rian sesaat setelah tulisan pada bagian tengah sapu tangan itu nampak jelas di atas air. Mata Diana melotot dan bibirnya menganga, sungguh malu hatinya hendak membaca keras-keras isi pesan itu. Bukankah seharusnya itu adalah pemintaan seorang lelaki pada pujaan hatinya, batinnya.
 
Rian tertawa melihatnya, " Ya sudah, aku saja yang membacanya ya!" katanya. Ia pun menarik nafas sambil memegang telapak tangan Diana dan menatap matanya. "Di, will you marry me?" Jantung Diana berdegup kencang melihat Rian mempraktekkan apa yang tertulis dalam sapu tangan itu. Wajahnya memerah menahan malu. "Ahhhh, aku salah beli yang itu!" katanya sambil tertawa malu, lalu menarik telapak tangannya dan menepuk jidatnya.
 
Rian tidak tertawa, justru ia terlihat serius kini. Ditariknya kembali telapak tangan Diana dan digenggamnya erat. "Will you marry me?" katanya mengulang. Diana gelagapan dibuatnya. "Jangan bercanda, Rian!" kata Diana sambil menarik telapak tangannya. Sayang Rian menggenggamnya begitu erat hingga perempuan itu tak bisa melepasnya. "Aku tidak bercanda kok. Aku membacanya, dan itu benar." jawab Rian.
 
Satu tangannya menarik sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak perhiasan yang indah berbentuk hati yang dibalut beludru merah. Dibukanya dan nampaklah sebentuk cincin berlian bermata satu di dalamnya. "Diana Sweetheart, will you marry me?" ulangnya lagi.
Tenggorokan Diana bagai tercekat dan kering. Ia tak mampu berbicara apa-apa selain menatap tak percaya pada Rian. "Kamu bercanda atau serius, Rian?" tanyanya. "Apa aku terlihat sedang bercanda?" jawab Rian dengan suara setengah berbisik.
 
Diana benar-benar tak menduga pinangan kilat ini akan terjadi hari ini. Sungguh, Rian adalah satu-satunya lelaki yang amat ia cintai dari lubuk hati paling dalam. Meski beberapa kali mereka terpisah oleh jarak, waktu, dan kesibukan, juga oleh kedekatan mereka masing-masing dengan wanita atau pria lainnya, tetapi tetap saja Rian yang nomor satu bertahta di hatinya. Ia rela mengorbankan kedekatannya dengan yang lain demi cinta Rian kepadanya.
 
"Aku sudah lelah dengan persahabatan kita, lelah menunggumu yang selalu gengsi bilang bahwa kau mencintaiku. Dan saat melihat tulisan di sapu tangan itu, aku kini yakin, kamulah jodoh sejatiku yang Tuhan kirim tanpa aku sadari selama ini. So, will you marry me?" Rian kembali mengulang pinangannya. Diana memandangnya penuh cinta dengan mata berkaca-kaca. "Yes! Of course, I will !" jawabnya
mantap. Dan Rian tersenyum bahagia lalu memeluknya erat sebelum kemudian menyematkan cincin indah itu di jari manis Diana.
 
"Hus! Hus! Sembarangan! Main terima saja...apa itu yes I will, I will! Aku walinya Diana kan belum diajak bicara!" suara Mas Tono yang muncul tiba-tiba di teras membuat Rian dan Diana tersentak kaget dan melepaskan pelukannya dengan wajah malu.
"Ehmmm..anu Mas. Sa..ya.." Rian tergagap. Mas Tono tertawa. Diana tahu, kakaknya itu sedang menggoda mereka. "Jadi kalian sudah yakin sekarang? Ya, aku sih bagaimana Diana saja. Kalau dia sudah
mantap dengan pilihannya, dan kamu pun bisa menjaganya dengan baik, Mas bisa apa?!" katanya sambil tersenyum bijak. Diana tersenyum bahagia, ia yakin Rian adalah pilihan yang tepat.
 
"Insya Allah, minggu depan saya akan membawa keluarga saya kemari untuk meminang Diana secara resmi, Mas!" kata Rian lalu menoleh dan menatap mesra perempuan yang dicintainya. "Harus itu!" jawab Mas Tono tegas, lalu tersenyum lebar.
 
Dalam hati Diana, ia berterima kasih pada Bude Suminten, yang memilihkan sapu tangan istimewa yang membuatnya bisa bersatu dengan lelaki pujaan hatinya kini.
 
TAMAT

Bagikan Artikel Ini
img-content
Ambu Wian

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Sapu Tangan Bersandi

Selasa, 25 Oktober 2022 08:46 WIB
img-content

Biarkan Cinta Menjadi Masa Lalu

Selasa, 9 November 2021 19:08 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua