Isu Presiden Harus dari Jawa Sudah Ketinggalan Jaman - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi mencari pemimpin di TTS

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 28 Oktober 2022 16:19 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Isu Presiden Harus dari Jawa Sudah Ketinggalan Jaman

    Untuk apa mengungkit isu kesukuan dalam pencapresan? Dari satu sisi saja sudah tidak relevan mengungkit isu kesukuan dalam konteks keindonesiaan, sebab peleburan secara genetik sudah lama berlangsung melalui institusi perkawinan.

    Dibaca : 2.324 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pernyataan Menteri BUMN Erick Thohir mengenai presiden berikutnya, setelah Jokowi, pasti bukan dirinya dan yang terpilih orang Jawa mengundang munculnya beberapa pertanyaan. Pertama, mengapa Erick berbicara tentang isu presiden penerus Jokowi, apakah relevan dengan tugasnya sebagai Menteri BUMN? Sebagian menteri memang berbicara pula ihwal politik, khususnya terkait pencalonan presiden dan koalisi, tapi ini karena mereka juga menjabat ketua umum partai. Sedangkan Erick? Kecuali bahwa hal ini semakin menunjukkan minat Erick untuk ikut dalam kontestasi pilpres mendatang. Dan seperti halnya menteri yang merangkap ketua umum partai, apalagi plus mau nyapres seperti Prabowo Subianto dan Airlangga Hatarto, kesibukan di luar urusan kementerian akan menyita waktu tugas pokoknya di kabinet.

    Kedua, apakah karena Erick sebenarnya berminat jadi capres, tapi belum ada partai politik yang secara serius mendekatinya untuk diposisikan sebagai capres, lantas ia mengeluarkan pernyataan itu? Jalinan komunikasi antara Erick dan partai politik mungkin hanya sampai pada posisi cawapres, sehingga bagi Erick merasa lebih realistis bila menjadi wapres dulu, baru setelah itu berusaha meraih posisi lebih tinggi. Apabila benar demikian, mestikah realitas politik tersebut mendorong dirinya untuk mengeluarkan pernyataan bahwa tidak mungkin dirinya menjadi presiden, karena presiden berikutnya [setelah Jokowi] adalah orang Jawa?

    Ketiga, yang terpenting, apakah masih relevan berbicara mengenai Presiden RI berikutnya keturunan Jawa? Masih relevankah kita berbicara tentang Jawa dan bukan-Jawa ataupun yang disebut suku-suku lainnya? Isu ini sama sekali tidak akan memberi manfaat pada upaya membangun semangat kebersamaan sebagai bangsa, sebab cenderung memilah kembali bangsa berdasarkan kesukuan. Ini jelas sebuah kemunduran, mundur ke zaman sebelum Sumpah Pemuda diikrarkan pada 28 Oktober 1928. Hampir satu abad yang lampau, pemuda Indonesia sudah berikrar melebur isu kesukuan, tapi sekarang malah ada menteri yang mengungkit isu yang sudah tidak relevan dalam konteks pencapresan.

    Salah satu faktor yang menguatkan peleburan unsur kesukuan itu ialah perkawinan antarsuku. Keturunan Jawa menikah dengan keturunan Batak, keturunan Sunda menikah keturunan Padang, keturunan Papua menikah dengan keturunan Bugis, dan seterusnya. Lantas bagaimana kita akan menyebut anak-anak hasil perkawinan itu? Apakah kita akan bertanya pada anak-anak itu: kamu suku apa? Jawa-Batak, Sunda-Padang, Papua-Bugis, atau Dayak-Maluku? Bagaimana pula kita akan menyebut suku keturunan berikutnya? Bersuku Jawa-Batak-Sunda-Padang karena lahir dari ayah Jawa-Batak dan ibu Sunda-Padang?

    Dari satu sisi saja sudah tidak relevan mengungkit isu kesukuan dalam konteks keindonesiaan, sebab peleburan secara genetik sudah lama berlangsung melalui institusi perkawinan. Dari waktu ke waktu akan semakin sukar menemukan warga Indonesia yang katakanlah dapat disebut Jawa murni, Sunda murni, Batak murni, Aceh murni, Dayak murni, Bugis murni. Percampuran genetik sudah menjadi kenyataan yang tidak bisa diputar balik ke masa-masa sebelumnya ketika di antara kita mungkin lebih banyak menikah sesama satu suku.

    Bahwa keturunan perkawinan antarsuku ini mungkin masih memegang sebagian tradisi dan kearifan suku masing-masing tidaklah berarti bahwa mereka masih terpisah. Sebab, anak Jawa yang menikah dengan anak Padang akan menghargai adat Padang dan mempelajarinya, begitu pula sebaliknya. Anak Sunda yang menikah dengan anak Sumbawa akan menghormati dan mempelajari adat Sumbawa, begitu pula sebaliknya. Lagi pula anak-anak masa sekarang semakin terbuka untuk menerima perbedaan latar belakang.

    Jadi untuk apa mengungkit isu kesukuan dalam pencapresan? Apakah hendak membangkitkan sentimen dari mereka yang masih percaya bahwa identitas kesukuan seorang presiden harus dikedepankan? Bukankah B.J. Habibie adalah anak bangsa hasil pernikahan antarsuku? Ayah Habibie keturunan Gorontalo, sedangkan ibunya keturunan Jawa. Bila berminat jadi capres ataupun cawapres, Erick mestinya bisa bersikap lebih arif dalam melontarkan isu, tidak mengangkat isu kesukuan yang tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman. >>

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.