Nilai Pemuda Era Jaman Now - Analisis - www.indonesiana.id
x

Yafet Ronaldies

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Agustus 2022

Jumat, 28 Oktober 2022 07:20 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Nilai Pemuda Era Jaman Now

    Uraian terkait peranan signifikan pemuda dalam menghadapi era digitalisasi serta teknologi yang berkembang sangat cepat. Pentingnya pemahaman secara mendasar akan semangat masa lalu pemuda, yang mengikrarkan Sumpah Pemuda.

    Dibaca : 828 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Edisi tulisan kali ini sangat spesial, karena berhubung hari ini adalah puncak dari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap pada tanggal 28 Oktober, dengan penuh makna hebat sebagai fundamental kebangsaan Republik Indonesia. Menariknya Sumpah Pemuda 1928 sampai saat ini 2022, sudah sampai pada tahun ke-94. Yang pastinya tiap tahunnya bangsa Indonesia memperingatinya. Bahkan usia sumpah pemuda lebih tua dibandikan proklamasi kemerdekaan Indonesia, yang disiarkan pada tahun 1945 silam. Bahkan pembacaan deklarasi proklamasi kemerdekaan Indonesia di pelopori oleh golongan muda pada saat itu. Bersatunya pemuda Nusantara yang beranjak dari kegelisahan mereka, karena melihat bangsa Indonesia waktu itu masih ditindas oleh para penjajah.

    Inisiatif dari golongan muda pada masa itu, menjalar ke tiap-tiap daerah yang pada saat itu kenal ada Jong Java, Jong Sumatera, Jong Ambon, Jong Celebes, bahkan lokasi tempat pembacaan Teks Sumpah Pemuda waktu itu berlokasi di rumah seorang Tionghoa bernama Sie Kong Liong dan dihadiri pula oleh beberapa kaum muda asal Tionghoa antara lain ada Kwee Thiam, Hong, Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie. Para pemuda kala itu yang melakukan Kongres sebanyak 2 kali (sampai pada rapat penutupan), intisari pembahasan mereka kala itu antara lain, memperkuat persatuan dan kesatuan dari semua pemuda yang ada di tiap-tiap daerah, soal pendidikan kebangsaan hingga rasa nasionalisme dan kesadaran demokrasi.

    Menariknya sebelum kongres di tutup, untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya karya Wage Rudolf Supratman yang dimainkan. Lagu ini dilantunkan dengan biola tanpa syair atas saran Sugondo kepada W.R Supratman. Hal demikian dilakukan tanpa syair, karena masih dalam masa penjajahan Belanda. Akan tetapi, tidak memudarkan semangat serta kemeriahan peserta Kongres waktu itu.

    Inisiatif serta pemikiran yang konstruktif golongan muda masa itu, sangat grecep. Inilah yang mesti dicontoh oleh pemuda jaman now. Maksud penulis menyematkan judul “Era Jaman Now”, dikarenakan pemuda saat ini diperhadapkan dengan industri 4.0 bahkan sudah memasuki era society 5.0 (era 5.0 adalah penyempurnaan dari industri 4.0). Makna keduanya sebenarnya sama saja, akan tetapi kepeloporannya berbeda, kalau indsturi 4.0 (di pelopori dari negara Jerman) sedangan untuk society 5.0 (digagas oleh negara Jepang). Seiring berjalannya waktu society 5.0 diresmikan 2 pada 2019 lalu dan dibuat sebagai resolusi industri 4.0.

    Berikut penulis akan menguraikan secara singkat tentang perbedaan antara industri 4.0 dan society 5.0: Industri 4.0 bermula dari konsep industri di negara Jerman. Era ini pertama kali dideklarasikan pada 2011. Intinya, industri 4.0 adalah era teknologi informasi dengan internet, smartphone, sensor (IoT), dan koneksi data sebagai penghubung bekerja dalam dunia industri. Sedangkan society 5.0 bermula dipassarkan oleh pemerintah Jepang tahun 2015, namun mulai dilegalkan pada 21 Januari 2019. Era ini tidak lagi berpusat pada industri, melainkan berpusat pada orang atau subjek. Dengan memanfaatkan teknologi sebagai penggerak, pemerintah Jepang ingin menciptakan masyarakat superpintar dengan Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), Big Data, dan robotic sebagai acuan untuk penyempurnaan dari industri 4.0.

    Selanjutnya perbedaannya antara lain seperti, Industri 4.0 menekankan bagaimana pekerjaan dilakukan secara otomatis, sedangkan society 5.0 menekankan tentang cara mengoptimalkan jam kerja untuk menyelesaikan pekerjaan secara menyeluruh. Kemudian, industry 4.0 menyoroti efektivitas penggunaan mesin teknologi otomatis, sedangkan society 5.0 menyoroti efektivitas dan pengoptimalan intelektual serta kerja-kerja manusia dengan bantuan mesin teknologi yang cerdas (robot). Dari penjelasannya, bisa diambil kesimpulan bahwa secara garis besar, perbedaan mendasar antara 4.0 dan 5.0 adalah industri 4.0 fokus pada aspek melakukan pekerjaan secara otomatis. Sementara itu, era society 5.0 lebih mengutamakan pada perluasan prospek kerja serta mengoptimalkan tanggung jawab jam kerja dalam menyelesaikan pekerjaan, yang diseimbangkan dengan manusia.

    Era society 5.0 merupakan fundamental dari solusi yang akan membawa masyarakat menjadi lebih berdaya (penekanan sumber daya manusia), dalam pemanfaatan teknologi di era transformasi digital. Konsep ini lebih menekankan serta akan memudahkan berbagai macam aktivitas manusia dalam beragam bidang. Sehingga pembangunan ekonomi akan semakin efisien dengan minimnya masalah/konflik sosial.

    Konsep yang dibawa dalam society 5.0 ialah upaya untuk menjaga keseimbangan dalam lima unsur utama yang ada dalam kehidupan manusia, antara lain: Sosial, Emosional, Fisikal, Intelektual, dan Spiritualitas, dalam budaya Jepang disebut Zen atau keseimbangan berkaitan dengan ketergantungan kehidupan manusia yang  tinggi pada teknologi.

    Selanjutnya berikut adalah penguraian tentang bagaimana peran pemuda jaman now akan menghadapi tantangan-tantangan ke depan. Pertama, menghadapi tantangan baik itu industri 4.0 pun society 5.0, pemahaman rasa nasionalisme harus menjadi fundamental dalam menjalani seluruh tantangan dan cita-cita bangsa ke depannya. Apalagi nantinya, bangsa ini akan diperhadapan dengan transformasi yang begitu cepat dalam hal teknologi, internet, serta informasi yang setiap harinya akan mengalami perubahan secara berkala. Para founding father kita terdahulu, selalu menekankan segala lini aspek cinta tanah air dan nasionalisme, karena keutuhan, kesatuan serta persatuan akan terealisasi jika jiwa-jiwa nasionalisme kita kuat. Inilah hal dasar yang generasi muda tidak boleh sepelekan. Jangan sampai paham/ideologi asing merusak nasionalisme kita berbangsa.

    Kedua, kepeduliaan dalam setiap tingkat pendidikan bangsa Indonesia. Karena pendidikan juga merupakan pondasi dasar, yang telah diatur di dalam UUD NRI Tahun 1945. Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) perlu melek akan IPTEK, sehingga pemuda yang memiliki kemampuan secara konseptual dan kemampuan teknis yang dapat disumbangkan bagi peningkatan kualitas proses dan produk pendidikan. Beberapa hal yang menjadi patokan pemuda ketika membangun SDM dari segi aspek pendidikan bangsa seperti, profesionalitas, daya kompetitif, kompetensi fungsional, keunggulan partisipatif, dan kerjasama. Hal ini dilakukan untuk jangka panjang, agar generasi selanjutnya memahami serta mendapatkan pendidikan yang sangat layak, untuk membangun dan mempertahankan intelektual berbangsa.

    Ketiga, jika di era revolusi industri 4.0 pun society 5.0, mengharuskan seluruh kalangan untuk mampu mengakses serta membagikan informasi yang diperoleh dari internet, maka pemuda disini harus menjadi pelopor SDM sebagai peran atau garda terdepan dalam hal melek digital dan teknologi. Pentingnya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM kita, guna menjadikan bangsa ini dalam memanfaatkan digital dan teknologi sebaik mungkin, demi kemajuan bangsa. Pemuda dalam hal ini harus memiliki jiwa leadership yang adaptif, informatif serta tidak lupa nilai-nilai spiritual bisa ditingkatkan untuk menghadapi tantangan demi tantangan ke depan.

    Keempat, sebagai inisiator dalam kearifan lokal (adat & kebudayaan), untuk menjaga keaslian dan ciri khas dari bangsa Indonesia yang sangat kental akan adat budayanya. Hal ini dikarenakan, era society 5.0 kemungkikan akan dapat mengikis dan merubah cara pandangan hidup pemuda Indonesia yang cenderung melupakan budaya lokal, khususnya pada masyarakat perkotaaan. Dikarenakan kehidupan masyarakat perkotaan, sudah sangat tipis sekali batasan antara masyarakat lokal dan masyarakat asing (banyaknya budaya-budaya asing masuk ke Indonesia). Menjadi perhatian khususnya, kiranya pemuda saat ini sangat memperhatikan secara khusus akan kebudayaan lokal kita, jangan sampai hilang sehingga budaya-budaya asing yang akan mendominasi di negara ini. Oleh karena itu sebagai generasi penerus, wajid menunculkan kepekaan pada diri kaum muda untuk lebih peduli dan ikut terlibat terhadap terutama dalam memelihara kebudayaan lokal dengan tanggungjawab. Dan tidak lupa juga, di era digitalisasi yang begitu canggih, yang dimana akses internet seluruh dunia bisa menggunakannya, akan lebih sangat bermanfaat jika kebudayaan lokal kita bisa dipertontonkan/perlihatkan kepada bangsa/negara lain. Bahwasanya Indonesia kaya akan keberagaman yang begitu indah.

    Akhirnya, pentingnya buat generasi milenial hingga generasi Z memiliki kemampuan yang terus di asah, seperti, kreatifitas, inovasi, inisiatif, pikiran kritis, komunikasi, serta penting untuk membangun kolaborasi antar pemuda guna bisa bersatu untuk membangun bangsa.

    Selamat Memperingati Hari Sumpah Pemuda Ke-94 Tahun

    Ikuti tulisan menarik Yafet Ronaldies lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.