Mencari Kalung yang Tergantung di Leher - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Menggambarkan bagaimana pengaruh sastra dalam pendidikan juga perkembangan anak-anak.

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Senin, 31 Oktober 2022 07:30 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Mencari Kalung yang Tergantung di Leher

    Manusia sudah diberi kalung oleh Allah. Tapi banyak orang yang masih mencarinya ke mana mana. Apa maksudnya?

    Dibaca : 1.116 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

    Apakah Anda mengenali anak Anda?  Pertanyaan aneh, demikian mungkin tanggapan Anda.  Sesungguhnya pertanyaan itu tidak aneh.  Tapi untuk membantu memahaminya, mari kita cermati dulu sebuah kata mutiara dari Maulana Jalaludin Rumi.

    You wander from room to room  hunting for the diamond necklace that is already around your neck.  (Rumi)

    Kamu pergi dari satu ruang ke ruang lain, mencari kalung berlian yang sudah ada di lehermu.  Demikian kata Maulana Jalaludin Rumi, sang sufi kondang dari Konya, Turki di abad ketigabelas. 

    Rumi pasti tidak sedang menggambarkan kelakuan orang pikun.  Dia mestinya memakai metafora ini untuk menggambarkan tingkah laku orang yang  tidak menyadari karunia Allah yang sangat berharga dan tidak mensyukurinya.  Mari kita melihatnya dari perspektif parenting.  Saya kira quote Rumi ini pas sekali untuk melukiskan orang tua atau anak yang mengejar sesuatu yang berbeda dengan potensinya sendiri.

    Banyak sekali orang yang terkesan dengan sukses seseorang di sebuah bidang yang berbeda dengan bakat yang dikaruniakan Allah untuknya.  Sekarang ini tidak terhitung banyaknya orang yang terkesan dengan profesi bintang film atau penyanyi atau yang lazim disebut sebagai artis atau selebriti.  Tidak jarang mereka meniru para selebriti itu sehinga malah bertingkah laku aneh.  Istilah seorang teman nyèlebrit

    Sedangkan Allah sudah memberi bakat dan potensi yang  berbeda pada setiap orang.  Meskipun demikian masih diperlukan kerja keras, komitmen, dan waktu lama untuk mengembangkan semua potensi itu.  Maka kita membutuhkan sifat ulet dan pantang menyerah.  Di sinilah peran orang tua dibutuhkan.  Selain itu orang tua wajib mengamati bakat, minat, dan semua potensi anak anaknya.  Itulah modal dasar untuk pengembangan pribadi mereka.  Modal dasar plus kerja keras, doa dan bimbingan orang tua insya Allah akan membawa perkembangan menggembirakan. 

    Pertanyaannya, bagaimana caranya mengenali bakat, minat, dan segenap potensi anak?  Paling tidak ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Pertama Anda mengamati dengan cermat minat belajarnya. Tidak hanya rapor dari sekolah yang perlu dibaca.  Amati pelajaran apa yang mendapat perhatian terbesarnya. Dalami dengan dialog bersama anak.

    Kemudian ajak mereka pergi ke toko buku dan pameran buku. Belikan mereka berbagai macam buku. Dari situ akan kelihatan minat mereka di bidang apa.

    Jangan lewatkan acara makan bersama keluarga. Agar tidak bosan, sekali sekali ajak keluarga maka di luar. Makan siang bersama itu adalah kesempatan untuk memahami bakat dan minatnya.

    Setelah terlihat bakat dan minatnya, beri anak cerita tentang tokoh tokoh yang berhasil di bidang yang dia minati.  Cerita seperti itu perlu dilengkapi dengan bacaan. Cari bacaan yang ringan ringan saja untuk mendukung minatnya. 

    Satu hal penting lain adalah jangan memaksa anak belajar atau bekerja di bidang yang tidak dia minati.  Mungkin orang tua terkesan dengan sukses seseorang. Tapi kalau bidangnya beda dengan minat anak tidak perlu memaksakan anak untuk mengikuti orang yang dikagumi orang tua.

     

    Semoga para orang tua tidak seperti gambaran Rumi tadi, ibarat mencari kalung berlian yang  sudah tergantung di leher.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.