Tanam Kebajikan Melalui TK Putra Bangsa

Selasa, 8 November 2022 12:46 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Djie Siang An mempunyai latar belakang kehidupan yang penuh derita. Saat kecil ia ditinggal oleh ayahnya yang ditangkap karena disangkakan sebagai PKI. Ia tumbuh dan berjuang mengatas kesulitan hidup. Alih-alih mendendam, Djie Siang An malah mengabdikan hidupnya untuk membangun pendidikan.

Judul: TK-TK: Tanam Kebajikan melalui TK Putra Bangsa

Editor: Djie Siang Lan (Lanny Anggawati)

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tahun Terbit: 2007

Penerbit: Wisma Sambodi

Tebal: 291

ISBN:

 

Bila Indonesia mau bangkit dari keterpurukannya, anak-anak bangsa harus dididik dengan cara yang berbeda, yang tepat guna, yang benar-benar mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan! Dan itu harus dilakukan sedini mungkin (hal. 53).

Lanny Anggawati alias Djie Siang Lan alias Ang mempunyai masa lalu yang penuh derita. Namun ia berhasil bertahan dan keluar sebagai pemenang. Kehidupannya sebagai anak dari keluarga yang di-PKI-kan sungguh tidak mudah. Ia berjuang melawan kekejaman fisik, psikis dan stigma. Setelah keluar dari segala kesulitan hidup, Ang tidak mendendam. Ia membaktikan hidupnya untuk mengisi bank karma baik melalui dunia pendidikan.

Buku ini adalah buku kelima dari enam seri yang ditulis oleh Ang. Buku seri 1 dan 2 mengungkap penderitaan hidupnya karena sang ayah yang dianggap tokoh PKI Klaten, ditangkap dan hilang. Buku ketiga menjelaskan tentang awal mula Ang berjuang di ladang kebajikan di dunia pendidikan melalui Kursus Bahasa Inggris Columbia dan Taman Bermain. Buku keempat mengisahkan kehidupan Liem Hok Nio alias Ibu Alex. Liem Hok Nio adalah ibu dari Ang.

TK Putra Bangsa didirikan oleh Ang dan Wena pada tahun 2005. Sebelumnya duet hebat ini telah mendirikan Kursus Bahasa Inggris Clumbia (1978) dan Pay Group Putra Persada (1984). Karena keinginan orangtua siswa play group yang ingin anak-anaknya dididik dengan metode yang komprehensif, maka Ang dan Wena akhirnya setuju untuk mendirikan TK.

Keinginan para orangtua siswa play group supaya anak-anaknya mendapat pendidikan lanjutan yang berorientasi kepada kecerdasan utuh adalah pendorong utama berdirinya TK Putra Bangsa. Para orangtua ini merasa bahwa pendidikan yang holistik, tidak hanya berfokus kepada kecerdasan kognitif adalah keunggulan sistem pendidikan yang dikembangkan oleh Ang dan Weni. TK Putra Bangsa memakai kurikulum yang merangsang perkembangan 8 kecerdasan. Inilah salah satu pembeda TK Putra Bangsa dari proses belajar anak usia dini lainnya.

Ang mengisahkan bagaimana sejarah PT Putra Bangsa secara menarik. Kisah yang ditulisnya bisa menjadi teladan bagi mereka-mereka yang berminat untuk membangun sekolah. Pertama-tama ia menggambarkan bahwa sudah ada kebutuhan. Para orangtua yang anaknya telah mengenyam pendidikan di play group, merasa bahwa anak-anak mereka membutuhkan pendidikan lanjutan yang sekualitas.

Kedua, ia mencari orang yang tepat untuk mengelola sekolah yang akan didirikan. Ang merasa sudah tua dan kesehatannya menurun. Umur dan kesehatannya, khususnya lututnya yang sudah cacat menjadi penghalang untuk bisa mencurahkan waktu sepenuhnya untuk mengelola sekolah yang baru berdiri ini. Di saat yang sama Ang sedang sibuk menterjemahkan Kitab Tripitaka. Untunglah ia bertemu dengan sosok yang sangat tepat, yaitu Endang. Endang dianggap tepat karena Endang sudah punya pengalaman sebagai guru di play group, tidak berminat mencari kekayaan dan tidak berminat untuk menikah. Dengan demikian sosok Endang bisa mencurahkan waktu sepenuhnya untuk mengelola sekolah tersebut.

Bagian ketiga adalah belajar dari TK-TK baik lain yang sudah lebih dulu berjalan. Ia belajar dari TK yang dikelola Kan Seto. Ia belajar dari Adi W. Gunawan yang ahli dibidang learning strategy. Ia bersama Endang mempelajari berbagai buku tentang pembelajaran usia dini.

Bagian keempat adalah mendisain tempat belajar supaya nyaman untuk mengembangkan 8 kecerdasan. Tempat belajar tidak dibuat sebagai ruang tertutup. Tempat belajar adalah ruang terbuka yang terintegrasi dengan kolam dan kebun, dimana anak-anak bisa mendapatkan pengalaman langsung dari alam. Adanya kebun sayur memberi kesempatan kepada anak-anak untuk memanen dan memasak. Adanya kolam membuat anak-anak belajar bagaimana care dan bertanggungjawab atas ikan-ikan yang dipelihara. Tempat belajar juga memungkinkan para orangtua untuk menyaksikan dan bahkan terlibat dalam proses belajar yang sedang berlangsung. Ia memilih bangunan dari bambu untuk kompleks belajar. Pilihan ini membuat TK Putra Bangsa menjadi semakin menyatu dengan alam.

TK Putra Bangsa mendisain komunikasi yang erat antara sekolah dengan orangtua. Selain dari disain tempat belajar yang memungkinkan orangtua terlibat aktif, Kegiatan-kegiatan khusus diselenggarakan untuk orangtua. Sekolah juga menjalin komunikasi langsung dengan orangtua untuk membahas hasil belajar anaknya. Dalam buku ini, testimoni orangtua tentang kemajuan hasil belajar anaknya (yang bukan hanya dari segi kognitif) dicantumkan.

Keputusan Ang untuk mengabdikan hidupnya kepada kebajikan telah didukung oleh alam semesta. Orang-orang yang tepat telah menolongnya dalam menjalankan dharma sebagai seorang pendidik. Meski diganggu oleh kesehatannya, namun Ang tetap bisa menjalankan tugasnya. Ang juga tetap menjadi teladan. Saat kakinya baru saja dioperasi, ia nekat mengajar di kampusnya meski harus berjalan dengan penopang kaki. Teladannya tersebut telah mengubah para mahasiswa yang suka membolos menjadi rajin belajar.

Masih ada kisah Ang yang lain yang dituangkannya ke dalam buku keenam. Di buku selanjutnya Ang mengisahkan perjuangannya mendirikan Sekolah Dasar (SD) Putra Bangsa.

Tepat benar jika kita mengatakan bahwa Ang diberkati untuk menjadi berkat. Terima kasih Ang dan Weni. 713

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler