Jokowi Membiarkan Erick Thohir Bergerilya untuk Maju Pilpres 2024? - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Erick

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 10 November 2022 13:03 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Jokowi Membiarkan Erick Thohir Bergerilya untuk Maju Pilpres 2024?

    Kepada siapakah dukungan sejati Presiden Jokowi diberikan pada Pilpres 2024? Ada beberapa figur potensial yang sudah ia beri endorsmen. Jokowi terlihat mendukung Prabowo, Airlangga, dan Ganjar. Tapi ia tampak membiarkan Menteri BUMN Erick Thorir terang-terangan mempromosikan diri maju kontestansi juga? Apa tujuannya?

    Dibaca : 1.966 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Perjalanan politik menuju Pilpres 2024 semakin hangat setelah Presiden Jokowi mengatakan sesuatu yang ditafsirkan oleh banyak orang sebagai dukungan kepada Prabowo Subianto. Dalam acara di Perindo itu, 7 November 2022, Jokowi menyebutkan bahwa setelah dirinya dua kali menang pilpres dan menjabat dua periode, selanjutnya jatah [Pak] Prabowo.

    Apakah Jokowi berubah pikiran tentang siapa yang ia dukung untuk maju nyapres? Bukankah sebelum mengeluarkan pernyataan itu, ia terkesan mendukung Airlangga Hartarto? Dalam acara resepsi HUT Golkar ke-58, Jokowi mengungkapkan bahwa capres mendatang harus punya jam terbang tinggi serta menguasai ekonomi makro dan mikro. Meski tak menyebut nama seperti ia menyebut nama Prabowo, tapi di hadapan Golkar siapa lagi yang ia maksud bila bukan Airlangga, yang memang sudah dijagokan oleh Golkar?

    Sebelum itu, nama Jokowi juga dikaitkan dengan dukungan kepada Ganjar Pranowo. Mei lalu, dalam acara Rakernas Projo, kelompok relawan yang dulu menyokong pencapresan Jokowi, Jokowi menyampaikan pidato yang juga dianggap banyak orang sebagai dukungan kepada Ganjar. Meskipun begitu, setelah elite PDI-P ramai dan Ganjar sempat dikenai sanksi peringatan lisan, apa yang ditafsirkan sebagai dukungan Jokowi kepada Ganjar itu tidak lagi terang-terangan.

    Jokowi kelihatannya tidak ingin secara terbuka mendahului Megawati sebagai Ketua Umum PDI-P yang memiliki otoritas untuk menetapkan capres partai ini. Ketika ada orang yang melempar isu bahwa Jokowi akan menjadi ketua umum PDI-P, buru-buru Ganjar memperingatkan orang-orang yang menurutnya hendak menimbulkan benturan di internal partai.

    Dukungan Jokowi secara tersirat diberikan kepada orang non-partai seperti Erick Thohir, yang posternya sudah bertebaran di mana-mana. Sejauh ini, Jokowi belum menyatakan dukungan secara terbuka kepada Erick yang berminat untuk maju sebagai cawapres. Tapi, dengan membiarkan Menteri BUMN itu mempromosikan diri dan mendekati banyak pihak dapat dilihat sebagai wujud dukungan Jokowi juga.

    Jadi, kepada siapakah Jokowi memberi dukungan yang sebenarnya? Tidak mungkin ia mendukung keempatnya sekaligus, kecuali dalam konteks sekedar memberi kesempatan kepada mereka. Tapi Jokowi menyadari bahwa pengaruhnya lebih besar daripada sekedar memberi kesempatan. Dengan posisinya sebagai Presiden, Jokowi merasa memiliki pengaruh yang dapat ikut menentukan arah pilpres, katakanlah sebagai king maker yang patut diperhitungkan. Karena itulah, ia memberi sejenis endorsement kepada Prabowo, Airlangga, secara tersirat kepada Ganjar, dan membiarkan Menteri BUMN Erick Thohir bergerilya agar bisa ikut maju.

    Dengan bermain di banyak kaki, Jokowi mungkin ingin menunjukkan bahwa ia memiliki pengaruh yang patut diperhitungkan oleh elite politik lain. Dengan cara seperti itu pula, pemenang pilpres nanti—khususnya di antara empat figur tersebut—akan merasa berutang budi kepada Jokowi. Tidak ada makan siang gratis, apa lagi dalam urusan politik. Di sisi lain yang lebih bersifat praktis, dukungan terang-terangan maupun samar yang diberikan Jokowi itu juga mengaburkan kepada siapa dukungan sejatinya diberikan. Secara kultural, Jokowi tampaknya lebih mudah berkomunikasi dengan Ganjar ketimbang dengan Prabowo, Airlangga, maupun Erick. Tapi Jokowi belum tahu apakah Ganjar akan bisa maju, dan siapa pula yang bakal menang dalam pilpres nanti.

    Setelah memegang jabatan dua periode, Presiden Jokowi sebenarnya punya peluang besar untuk menempatkan diri sebagai negarawan—berdiri di atas semua kelompok dan tidak lagi terlibat dalam urusan politik praktis, termasuk kontestasi presidensial. Jokowi dapat memberi teladan yang baik dan andil yang besar dalam merintis etika kebangsaan bagi warga negara yang pernah diamanahi jabatan presiden. Saat inipun, ketika masih jadi Presiden, Jokowi seharusnya juga menempatkan sebagai representasi negara--sebab ia kepala negara--yang tidak menebar pengaruh dengan mendukung calon-calon kontestan. Tugas terpenting sebagai kepala negara ialah menyelenggarakan pemilihan yang jurdil, bukan memengaruhi keadaan politik dengan menunjukkan siapa yang layak dipilih.

    Namun kelihatannya Jokowi ingin mengikuti jejak dua pendahulunya yang masih aktif dalam politik. SBY duduk di Majelis Pertimbangan Partai Demokrat, sedangkan Megawati malah masih menduduki posisi Ketua Umum PDI-P. Mereka berdua memikirkan masa depan karir politik putra-putrinya. Begitu pula agaknya dengan Jokowi. Dirasakan dari sisi kepentingan bangsa, ini memprihatinkan, sebab para mantan presiden tersebut belum berhasil melampaui tahap ujian kenaikan kelas untuk menjadi negarawan sejati karena urusan mereka dengan politik praktis belum selesai. >>

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.