Mengurangi Perundungan di Dunia Pendidikan - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Ali Sofyan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 November 2022

Kamis, 10 November 2022 07:03 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Mengurangi Perundungan di Dunia Pendidikan

    Aksi perundungan masih sering ditemukan di institusi pendidikan. Diperlukan adanya langkah-langkah untuk mencegah aksi perundungan serta perlindungan kepada korban perundungan.

    Dibaca : 853 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Perundungan atau bullying merupakan perilaku agresif yang dilakukan seseorang atau kelompok ke orang atau kelompok lain. Terkadang ada kesalahan dalam mengartikan suatu tindakan itu masuk kategori perundungan atau bercanda karena memang kadang sulit memahami perbedaan kedua hal tersebut. Dalam perundungan, pelalu menggunakan kekuatan / kekuasaan mereka untuk merendahkan maupun menyakiti orang lain. Selain itu, aksi yang dilakukan terindikasi cenderung berulang-ulang oleh orang yang sama.  Secara umum, aksi perundungan dapat dikategorikan menjadi 4 bentuk utama yaitu : Perundungan Verbal; Perundungan Fisik; Perundungan Sosial atau relasional; dan Perundungan Daring. 

    Di dunia pendidikan masih ditemukan adanya perundungan terhadap siswa yang dilakukan siswa lain padahal hal tersebut sangat dilarang. Efek dari perundungan yan terjadi di dunia pendidikan adalah bisa jadi siswa korban perundungan menjadi kurang semangat menuntut ilmu bahkan mungkin saja siswa korban tersebut tidak mau lagi hadir ke sekolah karena merasa takut akan menjadi korban perundungan lagi. Ketika mengetahui adanya perundungan tersebut sudah selayaknya pihak sekolah menindaklanjuti dengan mencari jalan keluar bagaimana adar kejadian serupa tidak terjadi pada siswa lain. 

    Salah satu cara agar tidak terjadi adanya perundungan adalah sekolah selalu menghimbau seluruh siswa agar selalu menjaga norma-norma dalam bergaul dengan seluruh warga sekolah entah itu guru, karyawan, maupun siswa lain yang ada di sekolah. Tidak lupa juga sekolah menanamkan sikap relijius siswa dengan tujuan agar seluruh siswa semakin dekat kepada Tuhan dan akhirnya siswa tidak akan berbuat sesuatu yang dilarang oleh agama mereka, termasuk diantaranya siswa tidak akan melakukan perundungan kepada siswa lain.

    Selanjutnya sekolah juga bisa memberikan informasi tentang bagaimana harus bersikap ketika di lingkungan sekitar terdapat aksi perundungan misal dengan menegur pelaku perundungan agar tidak lagi melakukan perundungan ataupun bagaimana melindungi korban perundungan yang tentu saja merasa sangat tertekan. Kemudian sekolah juga memastikan agar korban perlindungan dijamin keselamatan dan perlu didampingi secara psikologis untuk menambah motivasi dalam belajar setelah menjadi korban perundungan.

    Ikuti tulisan menarik Ali Sofyan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.