Maca Buana - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Jumat, 11 November 2022 19:13 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Maca Buana

    Bagaimana kesanggupan menikmati keseragaman resahnya gelombang saat menyapa kerikil yang bimbang? Apabila, rembulan mengisyaratkan matahari sebagai penanda, mungkin saja jiwa akan tersenyum untuk beberapa detik sebelum lengkap pamit mempersilahkan malam; meruang sehati. “Sementara cinta kita bergelut di antara kiamat...”

    Dibaca : 610 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Bagaimana kesanggupan menikmati keseragaman resahnya gelombang saat menyapa kerikil yang bimbang? Apabila, rembulan mengisyaratkan matahari sebagai penanda, mungkin saja jiwa akan tersenyum untuk beberapa detik sebelum lengkap pamit mempersilahkan malam; meruang sehati.

    “Sementara cinta kita bergelut di antara kiamat...”

    Tidakkah telah tercatat pada serat yang merangkai puitis, bahwa tabah ditinggalkan bagi kedalaman samudra, hingga keberadaannya tidak lagi memiliki tuan, selain merpati yang jauh menyapu pinggir kota-kota terasing dan berbisik menggelitik rongga sunyi yang luruh tepat di tebing rindu.

    Adakalanya kelembutan dibutuhkan untuk menegangkan sesuatu. Dan ketika mulai munculnya kekerasan di sana-sini, itu pertanda bahwa ia sudah bisa difungsikan dengan baik.....

    Seumpama katakata terdampar, yang pada akhirnya; tubuh akan menangkapnya secara alami untuk kebebasan dan menjadikannya penawar lumatan, bahkan dengan landasan itu, kita semua memasuki dunia naluri: “Adakah cara melembutkan katakata tanpa mendoktrin?”

    Jika bersama mengetuk suri di susut hati

    Jika bersama mengupas keniscayaan diri

    Jika bersama membuka cakrawala ikhtiar

    Lalu, bermekaranlah putik-putik bunga nurani, aromanya semerbak, menyebar ke jagad maya, jagad agung, jagad ambyar; “bak wabah virus yang sedemikian dahsyatnya menggoncang dunia.”

    Mungkin ganjil.....

    Tidak ada yang ganjil dari setiap perbatasan, kita memilikinya pada setiap ketegasan.

    Kabut tebal menuruni jalan yang menurun, yang dipenuhi bayang-bayang tentang tanah merah. Bata yang tersusun di tepi yang teraspal tidak menawarkan ketidakadilan. Ini hanya tentang pengingat akan keberadaan dan penghargaan setiap yang dihidupkan. Senyum para kera menikmati jagung segar, ayam hutan dengan cakarnya yang cakram bermain di antara pecahan batu kali, serta burung elang tua bersembunyi di balik pagar betis pinus, atau bisa jadi; jati.

    Kawah dengan lumpur berbuih serupa tembikar bernyawa.

    “Sementara cinta kita bergelut di antara kiamat...”

    Lautan hijau di antara biru menyamar toska, koral-koral itu berbagi benihnya, merangkai puitis, bahwa tabah ditinggalkan bagi kedalaman samudra, hingga keberadaannya tidak lagi memiliki tuan.

    Mungkin rindu menjadi tahta yang paling dipungkiri.

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.