2024, Momen Penyegaran Kepemimpinan - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Tertawa. Karya gerd Altmann dai Pixabay.com

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 15 November 2022 09:13 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • 2024, Momen Penyegaran Kepemimpinan

    Pemilu 2024 sebenarnya bisa menjadi momen bagus bagi para politikus senior membuka jalan lebih lebar bagi generasi muda tampil memimpin. Entah itu memimpin di lingkungan internal partai politik maupun di institusi lain—legislatif maupun eksekutif. Tapi apa mereka leggawa?

    Dibaca : 786 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Jagat politik barangkali memang tidak mengenal batas usia. Mereka yang belum pernah jadi anggota partai politik bisa mendadak jadi bupati atau walikota. Artis atau selebritas yang tidak pernah berbicara ihwal pemerintahan tiba-tiba jadi anggota Dewan, namun seringkali duduk manis saja dalam rapat-rapat Dewan. Ada pula politikus yang betah sekali duduk di jajaran elite partai seolah tidak ada kader lain yang layak dan mampu menggantikannya.

    Pemilu 2024 sebenarnya bisa menjadi momen bagus bagi para politikus senior untuk membuka jalan lebih lebar bagi generasi yang lebih muda untuk tampil memimpin, baik di lingkungan internal partai politik maupun di institusi lain—legislatif maupun eksekutif. Mengapa begitu?

    Pertama, regenerasi kepemimpinan adalah keniscayaan. Merasa diri sendiri sebagai satu-satunya orang yang layak memimpin dalam sebuah organisasi sama saja dengan melanggengkan sikap otoriter. Pemimpin yang hebat akan membukakan jalan bagi calon-calon pemimpin baru untuk tumbuh agar berkembang lebih matang, bukan malah merintangi atau mempersulit jalan mereka. Merintangi pemimpin baru hanya karena perbedaan pandangan bukanlah langkah kesatria bagi pemimpin yang sudah bertahun-tahun malang melintang di pentas nasional.

    Kedua, janganlah hanya berpikir pragmatis dan mengedepankan kepentingan jangka pendek. Pragmatisme atas nama terlindunginya kepentingan sendiri atau kelompok akan merugikan kepentingan orang banyak dalam jangka panjang. Tapi kekuasaan seringkali memang membuat seseorang terikat padanya. Semakin lama seseorang memegang kekuasaan, pada jenjang apapun, semakin sukar ia melepaskan diri darinya. Di dalam ikatan ini terdapat kenikmatan kuasa tapi sekaligus juga kecemasan bila tak berkuasa.

    Ketiga, sirkulasi kepemimpinan yang normal akan berpengaruh baik bagi masyarakat, karena masyarakat akan dipimpin oleh orang yang beragam, yang mungkin saja kemampuannya lebih baik dibandingkan pemimpin yang ia gantikan. Rakyat berhak mendapatkan pemimpin yang lebih baik, dan ini seharusnya tidak membuat pemimpin lama berkecil hati, sebab setiap zaman memiliki tantangannya sendiri dan karena itu juga menuntut jawabannya sendiri. Bila seorang penguasa ingin bertahan, padahal kepemimpinannya terbukti kurang baik bagi perkembangan masyarakat, maka sesungguhnya ia telah merugikan masyarakat.

    Karena itu, pemilu 2024—pemilihan presiden maupun legislatif—seharusnya dijadikan momen pergantian generasi agar bangsa ini memperoleh penyegaran dalam hal kepemimpinan, wawasan, kemampuan, maupun dalam mendatangkan kemaslahatan bagi rakyat banyak. Bila para pemimpin senior memberi jalan bagi pemimpin baru yang berkualitas sangat baik, mereka bukanlah tidak baik, melainkan tantangan yang berbeda membutuhkan kepemimpinan yang berbeda. Keniscayaan inilah yang mestinya diterima oleh para pemimpin senior dengan lapang dada, dan bukan memaksakan kehendaknya kepada rakyat banyak. >>

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.