Momentum Kebangkitan Guru pada 77 Tahun HUT PGRI - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Berprestasi dengan inovasi

Saepullatip Saepullatip

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 November 2022

Rabu, 16 November 2022 17:46 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Momentum Kebangkitan Guru pada 77 Tahun HUT PGRI

    Sejak itu Persatuan Guru Indonesia terus berkiprah dalam rangka memperjuangkan hak dan martabat guru baik yang berstatus ASN, PPPK dan honorer. Sebagai penghormatan kepada guru maka setiap tanggal 25 diperingati sebagai Hari Guru Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 pada tanggal 25 Nopember 1994 oleh Presiden Soeharto. Tahun ini memasuki 77 tahun lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia. Dengan mengusung tema Guru Bangkit, Pulihkan Pendidikan, Indonesia Kuat, Indonesia Maju. Berdasar tema yang diusung untuk memperingati hari guru maka guru harus bangkit melakukan perubahan secara sadar, ikhlas, dan bertanggung jawab untuk memulihkan pendidikan. Persatuan Guru Republik Indonesia mengajak semua guru untuk bersama-sama bangkit dan tidak menyerah dengan keadaan untuk memulihkan pendidikan, demi cita-cita bersama tercapainya bangsa Indonesia yang kuat dan maju.

    Dibaca : 942 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) merupakan organisasi keprofesian guru yang berdiri pada tanggal 25 Nopember 1945. Pada zaman Hindia Belanda tahun 1912 para guru pribumi yang terdiri dari guru bantu, guru desa, kepala sekolah dan pemilik sekolah mendirikan sebuah organisasi yang bernama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) atau Volksoonderwijzersbond. Tujuan berdirinya Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) adalah memperjuangkan nasib setiap anggotanya yang memiliki latar pendidikan yang beragam.

    Pada tahun 1932 Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) berubah nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Persatuan Guru Indonesia (PGI) merupakan gabungan beberapa organisasi profesi guru yang ada saat itu seperti Persatuan Guru Bantu (PGB), Persatuan Guru Ambachtshool (PGAS), Volksnoderwijzers Bond (VOB), Oud Kweek Scholieren Bond (PNS), Hogere Kweek Schoileren Bond (HKSB), Persatuan School Opziener (PSO) dan Perserikatan Normal School (PNS).

    Perubahan nama dengan menyertakan Indonesia menjadi kontroversi pada saat itu. Hal ini karena pemerintah kolonial Hindia Belanda beranggapan bahwa kata “Indonesia” sebagai sebuah bentuk perlawanan terhadap otoritas pemerintah kolonial Hinda Belanda yang tengah berkuasa. Persatuan Guru Indonesia (PGI) pada masa kedudukan Jepang mengalami kevakuman karena pemerintah kolonial Jepang membekukan dan melarang segala bentuk organisasi yang ada di tanah air.

    Kongres pertama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dilaksanakan di kota Solo (Surakarta) pada tanggal 23 – 25 Nopember 1945. Kongres pertama PGRI berlangsung di Gedung Somaharsana, Van Deventer School atau Sekolah Guru Puteri (sekarang SMP Negeri 3 Surakarta) yang terletak di Pasar Pon Surakarta. Hasil dari kongres pertama PGRI adalah :

    1. Lahirnya PGRI berhubungan dengan 100 harinya Kemerdekaan Indonesia.
    2. Lahirnya PGRI sebagai manifestasi aspirasi kaum guru Indonesia.
    3. PGRI berlandaskan Pancasila dan Undang – Undang Dasar 1945 sebagai bentuk komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.
    4. Memperjuangkan hak nasib guru.
    5. Nota protes terhadap kependudukan tentara Sekutu di Indonesia.

    Sejak itu Persatuan Guru Indonesia terus berkiprah dalam rangka memperjuangkan hak dan martabat guru baik yang berstatus ASN, PPPK dan honorer. Sebagai penghormatan kepada guru maka setiap tanggal 25 diperingati sebagai Hari Guru Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 pada tanggal 25 Nopember 1994 oleh Presiden Soeharto.

    Tahun ini memasuki 77 tahun lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia. Dengan mengusung tema Guru Bangkit, Pulihkan Pendidikan, Indonesia Kuat, Indonesia Maju, harus melecutsemangat guru untuk bangkit melakukan perubahan secara sadar, ikhlas, dan bertanggung jawab untuk memulihkan pendidikan. Persatuan Guru Republik Indonesia mengajak semua guru untuk bersama-sama bangkit dan tidak menyerah dengan keadaan untuk memulihkan pendidikan, demi cita-cita bersama tercapainya bangsa Indonesia yang kuat dan maju.

    Guru sebagai pendidik merupakan sosok yang tidak akan pernah menyerah untuk membimbing para peserta didiknya. Dengan penuh pengabdian dan rasa tulus dan ikhlas, para guru akan terus membimbing dan menempa para peserta didik untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna bagi Nusa dan Bangsa. Bahkan para guru juga rela mendedikasikan waktunya dalam rangka mewujudkan para generasi muda yang pintar dan berperilaku baik. Para guru akan terus mengembangkan keilmuannya dalam memotivasi peserta didik, menanamkan profil pelajar Pancasila (beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif) sebagai acuan guru dalam membangun karakter peserta didik.

    Kemeja muslim hadiah dari  Cina
    Ku berikan untuk Pak Nana
    Terima kasih berjuta makna
    Untuk guruku terkasih nan bijaksana.

     

    Ikuti tulisan menarik Saepullatip Saepullatip lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.