x

Iklan

Malik Ibnu Zaman

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 16 Oktober 2022

Sabtu, 19 November 2022 05:46 WIB

Cerita Kehidupan Keberagaman, Anak Non Muslim Tidur di Langgar Hingga Ikut Menjaga Sandal Saat Tarawih

Direktur Yayasan Umar Kayam Kusen Alipah Hadi, menceritakan mengenai pengalaman kehidupan keberagaman di kampungnya. Ia bersama dengan kawan-kawan non muslim sering tidur di langgar (mushola), dan ketika Bulan Ramadhan pada saat Sholat Tarawih anak-anak non muslim menjaga sandal agar tidak kemalingan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Direktur Yayasan Umar Kayam Kusen Alipah Hadi, menceritakan mengenai pengalaman kehidupan keberagaman di kampungnya. Ia bersama dengan kawan-kawan non muslim sering tidur di langgar (mushola), dan ketika bulan Ramadhan pada saat sholat tarawih anak-anak non muslim menjaga sandal agar tidak dibawa maling.

“Waktu saya hidup di kampung itu kami ada masjid, lalu ada langgar. Kalau sholat lima waktu, ya, di langgar, kalau Jumatan di masjid, kalau kerja bakti istirahat kumpulnya di situ. Kami di rumah dimarahi orang tua karena tidurnya di sana, main ke sana  dengan anak-anak yang lain tidur. Sampai sama orang tua dijewer suruh pulang, setiap hari kok tidur di langgar,” ujarnya pada Poadcast Teman Ngopi Gusdurian TV diakses pada Selasa (15/11/2022).

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa yang tidur di langgarnya bukan hanya teman-teman yang beragama Islam. Tetapi semua anak kampungnya baik itu yang beragama kristen, katolik, dan lain sebagainya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

“Nanti kalau pas Ramadhan itu Sholat Tarawih yang menjaga itu non muslim yang sehari-hari main bareng. Salah satu yang menjaga sandal namanya Bayu Aktivis sekolah di gereja,” tutur pria yang juga menjadi Ketua Koalisi Seni Indonesia.

Kemudian ketika Kusen Alipah Hadi berkuliah ada yang namanya pelajaran toleransi. Lalu ia berkesimpulan bahwa tidak semu orang mengalami dinamika ketumbuhan seperti dirinya, tidak semua masyarakat memiliki keistimewaan hidup dalam keragaman.

“Perlu punya pengalaman tentang hidup bareng yang berbeda. Saya kira teman-teman tahulah sekarang akses media sosial, berita-berita internasional, di negara lain yang homogen. Tetangganya beragama lain, dan suku lain itu stresnya minta ampun, bingung. Kalau kita di Indonesia ya kok kaya gitu dibicarakan, tetangga-tetangga saya bearagama lain biasa saja. Bahkan dulu, pengalaman saya Ramadhan itu dirayakan semua. Kalau jam 6  mau berbuka, itu berbuka semua,” imbuhnya.

Ia menyebutkan bahwa praktek keberagaman juga bisa dilakukan dalam bidang kesenian, serta bisa menjadi ruang yang sangat potensial untuk bisa melibatkan seluruh lapisan masyarakat, dan menjadi ruang untuk mengalami dinamika ketumbuhan.

“Jadi saya kira kesenian dalam hal ini festival bisa jadi ruang yang sangat potensial, semua orang bisa terlibat sesungguhnya. Silahkan tidak harus kesenian, arisan juga boleh. Kebetulan latar belakang saya kesenian, jadi mempromosikannya kesenian. Kesenian bisa menjadi ruang mengalami dinamika ketumbuhan, dan catatannya menyenangkan,” katanya.

Ikuti tulisan menarik Malik Ibnu Zaman lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler