Dokter Moewardi, Melepas Status Ningrat dan Berjuang untuk Bangsanya - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Berita Tempo/Google/wikipedia/arsip keluarga

Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juni 2022

Sabtu, 19 November 2022 06:02 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Dokter Moewardi, Melepas Status Ningrat dan Berjuang untuk Bangsanya

    Dia, dokter Moewardi, melepaskan baju ningratnya. Ia mendatangi pelosok-pelosok kampung demi memberi pelayanan kesehatan bagi rakyat miskin akibat kolonialisme. Ia menentang penjajahan. Ia menentang pemberontakan komunis Madiun. Lalu ia diculik pada September 1948 dan kisahnya masih menjadi misteri sampai kini.

    Dibaca : 1.139 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Tak habis untuk diceritakan figur seorang dokter Moewardi. Lahir pada 30 Januari 1907, ia figur manusia Indonesia, tak suka banyak bicara, perawakannya tenang berfikir tajam, cepat, terbuka, cerdas sebagai aktivis pelajar, mahasiswa hingga kepanduan. 

    Moewardi, merupakan salah satu penggagas deklarasi nasional “Soempah Pemoeda” pada Kongres Pemuda II, 27-28 Oktober 1928, di Batavia, mewakili Jong Java, bersama kawan-kawan pemuda dari wilayah Nusantara pada masa itu. Sebelumnya, Moewardi telah diangkat menjadi ketua Jong-Java cabang Batavia pada 1925.
        
    Para gurunya di STOVIA (School Tot Opleiding Voor Inlandshe Aartsen-sekolah kedokteran khusus bagi pribumi) di Batavia, mencermati kecerdasan Moewardi. Salah seorang guru lalu memintanya menjabat sebagai Geneeskundige Hoge School-Sekolah Tinggi Kedokteran bagian Hidung Kerongkongan dan Telinga (THT), untuk menjadi, Beroeps-Assistant atau Asisten Profesor. Dia menerimanya dengan penuh pengabdian.

    Moewardi, lahir dari pasangan guru, Sastrowardojo dan Roepeni, putera ke-7 dari 13 bersaudara. Menurut silsilah pihak ayah, Moewardi keturunan langsung dari Raden Sunan Landoh (Syeh Jangkung) sedangkan dari pihak Ibu, masih keturunan Ario Damar-Bupati Palembang. Silsilah singkat itu melekat pada figur Moewardi sebagai keturunan darah biru atau ningrat pada zamannya. 

    Bukan Moewardi jika diam tak beraktivitas dalam etos perjuangan seperti keinginannya. Da keras hati, disiplin-cerdas, rendah hati kuat beriman-mencintai negerinya tanpa slogan panjang lebar dalam kata absurd politisasi. Dokter Moewardi, si pekerja keras, aktivis, turut berjuang di ranah pergerakan menuju Indonesia Merdeka, dengan komitmen diri, kekuatan persatuan “Soempah Pemoeda”

    Bukan Moewardi, jika ia tak melepaskan baju ningratnya dan menggantinya dengan baju dokter. Dia mendatangi kampung-kampung becek demi kasih sayang untuk saudara setanah air yang kurang mampu mengongkosi kesehatan akibat tekanan pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Ia blusukan ke Palmerah, Petamburan, Tenebang, Jatinegara, Kebonsirih, hingga pelosok-pelosok Batavia pada waktu era itu.

    Bukan Moewardi kalau tidak cerdas, tekun belajar, berjuang dengan etos mandiri hingga membuat ayahanda juga ibundanya kagum. Lalu ia disekolahkan ke Europesche Lagere School (ELS) di Pati-Jawa Tengah. Tamat dari ELS (1921), ia melanjutkan kesekolah Kedokteran STOVIA di Batavia.

    Sejak saat itu semangat juang untuk bangsanya-negaranya, terutama-untuk saudara setanah air kurang mampu, terus bergulir bersama situasi kolonialisme ketika itu. Perjuangannya untuk negerinya tak terhentikan oleh apapun, hingga Moewardi pada suatu ketika diculik sekelompok orang tak dikenal dan dinyatakan hilang pada 13 September 1948. Sebuah pertanyaan. Mengapa September?

    Hilangnya dokter Moewardi tetap menjadi misteri sejarah. Misteri macam itu telah ada, dicatat bumi Indonesia. Karma bumerang menunggu waktu tempuh tertepat. Keluarganya sekaligus sejarah pun tak bisa menduga mengapa Moewardi hilang misterius. Meski ia amat gigih melawan Gerakan PKI Madiun-kelompok merah pelaku tindakan makar pada negeri teramat ia cintai di saat Indonesia (Nusantara) dalam tekanan mencekam pemerintah kolonial Hindia Belanda. 

    Moewardi, engkau pahlawan bangsa, tak 'kan sendiri. Indonesia, amat dicintai sepenuh jiwaraga. Jikalau kembali diganggu kedaulatannya oleh siapapun, dengan kekuatan apapun, ‘Kami Putra Putri Indonesia’ tertulis dalam teks ‘Soempah Pemoeda’ berkewajiban menjagamu bersama kekuatan, Sang Dwiwarna, dalam berkat Ilahi senantiasa. Kepada-Mu kami memohon perlindungan ya Allah ...

    Bagi para sahabatnya, figur seorang dokter Moewardi, contoh salah satu pemimpin dengan pilihan hidup sangat sederhana, berjuang bersama komitmen di nurani terjernih. Meskipun wafatnya memilukan nurani negeri teramat ia cintai.

    Tulisan ini masih tak lengkap, tak cukup menuliskan etos perjuangan seorang putra bangsa Indonesia, patriot asli, dokter Moewardi, hanya sekadar di halaman ini. Jika ada halaman lebih pun, luasnya tak cukup jua menuliskan riwayat dokter Moewardi. Kemuliaannya, seorang muslim-nuraninya untuk negerinya. Kerinduan persatuan sepenuh cinta, kasih sayang, tanpa basa.basi strategis. Salam Indonesia Merdeka. Negeri, para sahabat.

    ***

    Jakarta Indonesiana, November 18, 2022.

    Ikuti tulisan menarik Taufan S. Chandranegara lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.