Penggunaan Dana Desa 2023 untuk Atasi Dampak Perubahan Iklim di Manggarai Timur - Analisis - www.indonesiana.id
x

Diskusi tentang pembangunan berketahanan iklim untuk mengatasi dampak perubahan iklim, Selasa (8/11/2022) bertempat di aula Kantor Camat Congkar Watu Nggong, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggaran Timur

Rikhardus Roden Urut Kabupaten Manggarai-NTT

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Oktober 2022

Minggu, 20 November 2022 12:28 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Penggunaan Dana Desa 2023 untuk Atasi Dampak Perubahan Iklim di Manggarai Timur

    Diskusi tentang pembangunan berketahanan iklim untuk mengatasi dampak perubahan iklim, Selasa (8/11/2022) bertempat di aula Kantor Camat Congkar Watu Nggong, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggaran Timur

    Dibaca : 471 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Camat Ismail Yasin mendorong 10 Pemerintah Desa di Kecamatan Congkar, Kabupaten Manggari Timur untuk memberi perhatian terhadap penanganan dampak perubahan iklim di sektor pertanian dalam Anggaran Pendapatan Belanja Desa tahun 2023. Hal ini disampaikan pada diskusi tentang pembangunan berketahanan iklim untuk mengatasi dampak perubahan iklim, Selasa (8/11/2022) bertempat di aula Kantor Camat Congkar Watu nggong. Diskusi ini mengikutsertakan kelompok tani, pendamping desa, staf desa, lurah dan sekretaris camat congkar. Kegiatan diskusi ini diselenggarakan oleh Yayasan Ayo Indonesia dan Pemeritah Kecamatan Congkar

    Ismail Yassin, Camat Congkar, meminta pemerintah desa memasukan beberapa kegiatan adaptasi dan mitigasi ke dalam anggaran pendapatan belanja desa tahun 2023 dengan mengacu kepada Permendesa PDTT Nomor 8 tahun 2022 tentang prioritas penggunanaan dana desa dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 128 tahun 2022 sebagai penyempurnaan ketentuan mengenai penyaluran, penggunaan, dan sanksi atas pengelolaan Dana Desa.

    Pada diskusi tersebut, Rikhardus Roden Urut, Koordinator Program VICRA menyampaikan hasil studi tentang dampak perubahan iklim yang dialami oleh masyarakat di Desa Golo Ngawan dan Golo Ndari. Hasil studi yang menerapkan metode Focus Group Discusion (FGD), Wawancara mendalam (Indepth Interview), dan menganalisis data sekunder menunjukkan bahwa hasil padi sawah beririgasi tehnis dan sawah tadah hujan menurun pada rentangan 40 – 50 persen pada 5 tahun terakhir, sedangkan data produksi padi yang dirilis oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Manggarai Timur memperlihatkan tren menurun, padi sawah beririgasi sebesar 18,23 persen dan padi di sawah tadah hujan mencapai 53.94 persen pada 5 tahun terakhir. Selain itu, tanaman perdagangan utama penopang ekonomi petani ,yaitu kopi Robusta pada 4 tahun terakhir (2018-2021) di Kecamatan Lamba Leda Selatan dan Congkar (lokasi studi) mengalami penurunan sebesar 257,30 ton atau 10,93 persen, dari total produksi 2.354,12 ton tahun 2018 turun menjadi 2.096,82 ton tahun 2021.

    Persoalan ini terjadi, jelas Rikhard, akibat perubahan iklim yang sudah sedang berlangsung di Manggarai Timur. Hasil kajian kementrian PPN/Bappenas menegaskan hal ini dimana berdasarkan data iklim 30 tahun terakhir telah terjadi perubahan iklim di manggarai timur sehingga daerah ini menjadi lokasi super prioritas untuk penanganan dampak perubahan iklim, karena mempunyai tingkat kerentanan dan resiko yang sangat tinggi.

    “Kelompok masyarakat yang paling rentan terkena dampak perubahan iklim tentu adalah para petani, baik petani perempuan maupun laki-laki,” ungkap Rikhard Urut.

    Fenomena iklim yang menunjukkan telah terjadi perubahan iklim, kata Rikhard adalah curah hujan yang sangat tinggi, musim kemarau semakin Panjang, bergesernya musim hujan, suhu udara sangat tinggi sehingga mengakibatkan terjadinya banjir, jaringan irigasi rusak, sawah menjadi kering, Sawah terendam cukup lama, musim tanam pada sawah tadah hujan menjadi tidak pasti dan meningkatnya serangan hama penyakit.

    Menyikapi persoalan ini, lanjut rikhard, semua pemangku kepentingan di Manggarai Timur harus bersinergi mengatasi dampak perubahan iklim dengan menentukan aksi adaptasi dan mitigasi.

    “Pilihan aksi adaptasi dan mitigasi yang bisa didanai oleh Dana Desa adalah penerapan pertanian organik berbahan karbon (arang), menanam pohon pada lahan kritis, menanam tanaman pangan jenis sorgum, dan penggunaan tehnologi irigasi tetes pada usaha hortikultura,” ujarnya.

    Menanggapi beberapa alternatif tersebut, F.P Yanuarius, salah satu pendamping desa di Kecamatan Congkar mengatakan setuju dengan gagasan-gagasan tersebut, khususnya terkait pengembangan sorgum untuk menjamin ketahanan pangan masyarakat dan meminta Yayasan Ayo Indonesia merancang anggaran biayannya agar bisa diusulkan pada pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa tahun 2023.

    Pada akhir kegiatan, Ismail Yasin, menegaskan bahwa penanganan dampak perubahan iklim menjadi tanggungjawab kita semua, dan sangat penting melakukan edukasi terhadap masyarakat tentang situasi ini.

    “Edukasi yang dimaksud tentu tidak hanya untuk meningkatkan pengetahuan tetapi harus bisa merubah mental masyarakat agar mereka yang rentan itu semakin berpikir produktif, mengurus kebun menggunakan tehnologi, jangan membuang waktu dengan hal-hal yang tidak berguna dan terus belajar agar mampu beradaptasi dengan perubahan iklim. Perubahan Iklim membutuhkan perubahan mental kita juga,“ kata Camat yang dikenal memilik komitmen kuat untuk pemberdayaan masyakrat ini.

    Beberapa alternatif yang disampaikan tadi terkait upaya penanganan dampak perubahan iklim pada sektor pertanian perlu dimasukan ke dalam APBDes, untuk itu, kata Ismail, pemerintah kecamatan akan mengundang Yayasan Ayo Indonesia untuk menghadiri penetapan APBDes dari 10 desa yang rencananya akan dilaksanakan pada akhir Nopember 2022 di Kantor Camat Congkar.

     

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Rikhardus Roden Urut Kabupaten Manggarai-NTT lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.