Refleksi Muktamar ke-48 Muhammadiyah; Lihat Islamnya dan Bukan Ormasnya - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Sebanyak 13 anggota tetap Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dengan Ketua Umum, Haedar Nashir, telah ditetepkan melalui sidang Muktamar Muhammadiyah yang digelar di Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS, Ahad, 20 November 2022. TEMPO/SEPTHIA RYANTHIE

trimanto ngaderi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 September 2022

Rabu, 23 November 2022 15:35 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Refleksi Muktamar ke-48 Muhammadiyah; Lihat Islamnya dan Bukan Ormasnya

    Di manapun berada, tonjolkanlah IslamM-nya dan bukan ormasnya. Mau kita orang NU, Muhammadiyah, MTA, LDII, Al Irsyad, dll tidak menjadi masalah. Toh sama-sama orang Islam. Mari kita jaga persatuan dan persaudaran, ukhuwwah Islamiyah, ini yang utama. Bukan meributkan perbedaan. Muhammadiyah adalah aset bangsa. Muhammadiyah adalah milik kita.

    Dibaca : 630 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Muhammadiyah-lah pelopor yang mendirikan sekolah dengan sistem klasikal (kelas-kelas) di Indonesia;

    Muhammadiyah-lah pelopor yang mendirikan rumah sakit dengan metode kedokteran modern di Indonesia;

    Dia-lah yang mula-mula mengadopsi sistem pendidikan dan sistem kedokteran pemerintah kolonial untuk diterapkan kepada warga pribumi.

    *****

    Saya berasal dari keluarga NU. Namun saya dan empat saudara, semuanya bersekolah di sekolah Muhammadiyah. Kakak saya dan ketiga adik saya mulai dari tingkat SD hingga SMA bersekolah di Muhammadiyah. Sedangkan saya hanya di tingkat SD dan SMA saja (untuk SMP saya di sekolah swasta lain).

    Pertimbangan utama bersekolah di Muhammadiyah adalah perihal jarak. Kebetulan di desa saya ada MI Muhammadiyah, yang berjarak sekiltar 200m. Ada pula MA Muhammadiyah yang berjarak sekitar ½ km. sedangkan untuk MTs Muhammadiyah berada di desa sebelah yang berjarak sekitar 2,5 km. Ketiga sekolah tersebut bisa ditempuh dengan bersepeda. Sedangkan untuk sekolah negeri, terutama SMP dan SMA, lokasinya berada di ibukota kecamatan yang berjarak sekitar 7 km dan harus ditempuh dengan naik angkutan umum atau kendaraan bermotor.

    Meskipun di sekolah Muhammadiyah kami mendapatkan mata pelajaran Kemuhammadiyahan, pelajaran hal-ihwal organisasi Muhammadiyah, tak serta-merta membuat semua murid menjadi seorang Muhammadiyah atau merasa menjadi bagian dari Muhammadiyah. Apalagi orang tua saya sepertinya juga tak mengharapkan hal itu. Secara umum, kami tetap keluarga NU seperti semula.

    Sebagaimana kita ketahui bersama, lembaga pendidikan Muhammadiyah sendiri memang terbuka bagi siapapun, termasuk non-Muslim sekalipun. Bahkan, Muhammadiyah memberi kebebasan kepada setiap murid atau mahasiswanya untuk memilih yang terbaik dalam cara menjalankan syariat agama. Selama ini Muhammadiyah mengedepankan nilai-nilai Islam yang rahmatal lil ‘alamin, toleransi, dan ukhuwwah islamiyah.

    Hanya sayang sekali, di daerah saya masih terjadi gesekan-gesekan kecil antara ormas-ormas Islam yang ada. Mereka yang berpendidikan rendah dan kurang pengalaman, masih suka mencari hal remeh-temeh dan tidak substansial terkait cara pandang dan pengamalan ajaran agama. Muhammadiyah misalnya, masih ada yang mencap sebagai anti-tahlilan dan anti-kenduri. Atau terkait Shubuh tanpa doa Qunut, shalat Tarawih 11 rakaat, perbedaan hari raya, dan beberapa masalah khilafiyah lainnya. Bahkan, sampai ada yang melabeli sebuah masjid sebagai “masjidnya Muhammadiyah”.

    Di antara kelima bersaudara, hanya saya yang menjadi bagian dari Muhammadiyah. Hal ini diperkuat lagi setelah lulus SMA Muhammadiyah, saya merantau ke Yogyakarta. Di sinilah saya mengenal ormas itu secara lebih dekat. Saya mengenal tokoh-tokohnya, mengikuti kajian-kajiannya, membaca buku-buku/majalah Muhammadiyah, dan hidup berbaur di lingkungan yang kental dengan nuansa dan tradisi Muhammadiyah. Akhirnya muncullah kecintaan dan loyalitas terhadap ormas ini.

    Lihatlah Islamnya Bukan Ormasnya

    Takdir berkata lain, di tahun 2014 saya harus menetap di daerah yang mayoritas NU, bahkan bisa dikatakan sebagai kantong NU di kabupaten saya. Tradisi NU masih sangat kental sekali di sini, atau disebut “NU totok” alias NU banget. Tradisi-tradisi zaman dulu, yang sudah tidak dijalankan oleh orang NU lainnya, di sini masih dilestarikan. Mereka tidak ingin tradisi-tradisi itu diubah apalagi dihilangkan.

    Mau tidak mau, saya harus bisa beradaptasi. Saya menganut prinsip “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Saya mengikuti semua tradisi yang berlaku. Dengan kata lain, saya menjadi seorang NU di sini, walaupun tidak secara totalitas. Toh, terkadang saya sesekali masih ikut kajian rutin atau kegiatan-kegiatan di Muhammadiyah. Boleh dikata, secara sosiologis, saya “mencoba” menjadi NU, namun secara psikologis saya masih bagian dari Muhammadiyah.

    Seandainya saya di sini menampakkan diri sebagai orang Muhammadiyah secara menonjol dan kukuh dengan prinsip beragamanya Muhammadiyah, tentu sangatlah tidak bijak. Terlebih sebagian besar masyarakat di sini cara berpikirnya masih kolot dan belum berpandangan terbuka, sehingga jika ada orang lain yang berbeda prinsip, mereka dengan mudahnya mencapnya sebagai “agamane kae bedo” (agamanya berbeda). Padahal agamanya sama, yaitu sama-sama Islam.

    Oleh karena itu, saya ingin sekali menekankan di sini bahwa di manapun kita berada, maka tonjolkanlah ISLAM-nya, bukan ormasnya. Mau kita orang NU, Muhammadiyah, MTA, LDII, Al Irsyad, dll tidak menjadi masalah. Toh sama-sama orang Islam. Mari kita jaga persatuan dan persaudaran, ukhuwwah Islamiyah, ini yang utama. Bukan meributkan perbedaan.

    Kalau boleh diibaratkan, Islam itu seperti (tujuan) Jakarta. Orang mau pergi ke sana bisa dengan menggunakan bus, bisa naik kereta api, dapat pula naik pesawat terbang. Tidak mungkin to kita memaksa seseorang, “kamu ke Jakarta harus naik bus”, atau “kamu ke Jakarta mesti naik pesawat”. Itu hanya soal cara, tapi tujuannya tetap sama. Demikian halnya, ormas-ormas itu kan hanya cara kita dalam mengamalkan ajaran agama, cara kita berdakwah, cara kita berorganisasi, tapi tujuannya tetap sama, yaitu menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam di muka bumi ini.

    Peran Besar Muhammadiyah

    Salah satunya adalah mendirikan lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi yang tersebar hampir di seluruh wilayah Nusantara. Inilah aset terbesar dari ormas ini dan juga bangsa Indonesia. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah memang bercita-cita memajukan pendidikan di Indonesia, terutama bagi warga pribumi (saat masa kolonial).

    Sistem klasikal (kelas-kelas) yang dipakai oleh Muhammadiyah pada awalnya sempat ditentang oleh sebagian ulama dengan alasan bahwa hal itu meniru cara orang kafir. Padahal saat itu, sistem pendidikan tradisional di Indonesia adalah dengan metode “sorogan” ala pesantren, yaitu santri satu per satu menghadap guru dengan cara duduk di lantai dan meja kecil. Tapi Muhammadiyah berkeyakinan, jika Indonesia ingin maju dan terbebas dari penjajahan, haruslah mau mengadopsi sistem pendidikan ala kolonial, sejauh tidak bertentangan dengan syariat Islam.

    Selain itu, Muhammadiyah juga mendirikan Rumah Sakit Pembinaan Kesejahteraan Ummat (RS PKU) yang berada di hampir setiap kecamatan di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Awalnya hanya berupa sebuah klinik sederhana yang diberi nama Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKU). Pencetusnya adalah K.H. Sudja’. Ketika pertama sekali menyampaikan gagasan ini, dia ditertawakan oleh segenap hadirin yang hadir dalam Rapat Pimpinan Pengurus Muhammadiyah, dipimpin oleh K.H. Ahmad Dahlan.

    Masih banyak amal usaha yang dilakukan oleh Muhammadiyah, tidak hanya khusus untuk warga Muhammadiyah, tapi untuk seluruh rakyat Indonesia, di antaranya pondok pesantran, panti asuhan, koperasi/BMT, media cetak/elektronik, lembaga sosial, lembaga kebencanaan, dan sebagainya.

    Akhir kata, mari kita dukung semangat Muhammadiyah dalam membangun masa depan Indonesia. Muhammadiyah adalah aset bangsa. Muhammadiyah adalah milik kita.

     

    Ikuti tulisan menarik trimanto ngaderi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.