Saramago, Wabah Kecacatan Visual dan Kerapuhan Moral - Analisis - www.indonesiana.id
x

Idatus sholihah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 19 November 2022

Rabu, 23 November 2022 07:43 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Saramago, Wabah Kecacatan Visual dan Kerapuhan Moral


    Dibaca : 288 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul : Blindness

    Penulis : Jose Saramago

    Tahun terbit : November 2015

    Isi : 424 Halaman

    Penerbit : Matahari

     

    “Tak ada orang buta, melainkan kebutaan” – Jose Saramago –

     Manusia tiba-tiba dihadapkan pada keadaan aneh, berawal dari tokoh pria pengemudi yang tiba-tiba berhenti di tengah jalan pandangan matanya secepat kilat menjadi putih dan tidak bisa melihat sama sekali. Di tengah keadaan demikian, seorang lelaki menolong pengemudi pulang ke rumah, naasnya setelah mengantar, dirinya membawa kabur mobil pengemudi tadi. Dalam perjalanan si pencuri tersebut mengalami peristiwa aneh, tiba-tiba ia juga merasa pandangan matanya diselimuti warna putih. Ya, dia juga tiba-tiba jadi buta.

    Dalam pembukaan awal, kita akan dihadapkan pada situasi penuh pertanyaan, bagaimana mungkin buta itu berwarna putih? Hal itu ditambahi dengan penjelasan tokoh Dokter yang memeriksa lelaki buta pertama, kebutaan itu tidak ada penjelasan ilmiahnya. Secara ilmiah, kebutaan disebabkan ada kerusakan pada syaraf mata, sedangkan setelah dokter memeriksa, lelaki buta pertama tersebut sehat, tidak ada kerusakan syaraf apapun yang berhubungan dengan mata. Masih penasaran dengan penyebab buta putih tersebut, dokter mencoba mencari literatur-literatur lain, namun ketika akan mengembalikan buku-buku ke rak tetiba apapun yang dilihat berubah menjadi putih. Dia buta putih!

    Keadaan aneh tersebut secara cepat menyebar, warga kota dipenuhi rasa takut, kondisi kota mencekam. Jumlah orang buta lebih banyak daripada yang tidak buta. Pemerintah setempat mengumukan bahwa kebutaan tersebut sebagai wabah. Akibatnya, orang-orang yang mengalami kebutaan tersebut dikarantina dalam sebuah gedung. Semakin lama gedung semakin penuh, di tengah kondisi riuh sesak hanya istri dokter yang tidak buta. Ia hanya pura-pura buta agar bisa menemani suaminya di gedung karantina tersebut.

    Dalam keadaan serba sulit, satu gedung dipenuhi orang buta putih! Tentu lama kelamaan keadaan tersebut akan kacau, bagaimana cara mereka buang air besar, membagi jatah makanan, pasokan obat, air bersih. Meski dalam karantina tersebut gedung dijaga oleh tentara, siapapun yang mencoba keluar akan ditembak. Sisi lain, manusia memiliki tabiat serakah dan ingin menang sendiri. Pembagian jatah makanan mulai kacau, sekelompok mafia orang buta berkuasa, jika ingin makan maka harus menukar dengan uang, barang berharga, jika tidak punya maka alat tukarnya adalah tubuh. Harus mau bersetubuh jika tidak punya uang dan ingin makan. Keadaan tersebut mendapat perlawanan dari beberapa orang, hingga terjadilah pembunuhan  yang sadis hingga kebakaran gedung.

    Saramago menggambarkan keadaan yang serba muram dan kacau. Bagaimana manusia dalam keadaan serba sulit namun masih mengedepankan ego dan keserakahan sendiri. Dalam novel yang dalam bahasa  aslinya berjudul Ensaio sobre a ceguiera ini digambarkan bagaimana kecacatan indera visual ini juga diiringi dengan rapuhnya moral manusia. Saya menangkap bahwa kebutaan ini bentuk kritik penulis atas  segala lini kehidupan.  Buta yang juga menyerang batin manusia. Apakah manusia memegang moral dan norma hanya karena ada mata yang melihat? Kebutaan menjadikan manusia dengan sifat buruknya tampak, bercinta dengan siapapun, menindas yang lemah, saling membunuh, menyalahkan keadaan orang lain.

    Penulis asal Portugis yang mendapat anugerah nobel kesusastraan di tahun 1998 ini mengemas cerita dengan permasalahan yang dekat dengan kehidupan manusia. Bentuk tamparan bahwa dalam wabah tersebut, segala kemewahan, pemerintah yang berkuasa, ilmu pengetahuan mutakhir tidak bisa mengatasi. Lalu bagaimana salah satu tokoh tidak ikut menjadi buta? Saya kira ini adalah cara penulis menggambarkan bagaimana manusia dengan ketulusan hatinya, menolong orang-orang buta, membawa ke rumah dan merawat. Semua manusia memiliki tabiat buruk, namun bagaimana cara ia mengatasi dan menahan itu adalah urusan lain yang merupakan pilihan apakah akan dikembangkan atau tidak.

    Sebagai seorang ateis, Jose Saramago mencoba menggambarkan cerita realis magis, bagaimana wabah kebutaan datang tiba-tiba dan menular serta tanpa gejala. Fakta ilmiah yang berkaitan dengan kebutaan juga dijungkirbalikkan olehnya. Meskipun terbit pertama tahun 1995 silam, wacana yang diangkat tidak jauh beda dengan keadaan sekarang. Di tengah pandemi global, manusia dihadapkan pada keadaan yang begitu sulit. Keserakahan manusia dengan penimbunan bahan makanan, berebut masker, dan cairan pembasuh tangan. Lebih jauh, tak jarang manusia saat ini mengalami skeptisme berlebihan. Pemerintah masih meraba-raba atas keputusan yang diambil.

    Biasanya novel terjemahan disampaikan dengan pembawaan bahasa yang rumit dan sulit dipahami, namun kali ini tidak. Narasi sederhana meskipun ada deskripsi adegan vulgar, namun tidak mengurangi esensi apa yang ingin disampaikan penulis. Penggambaran sampul dengan wajah seorang wanita tanpa mata, saya kira awalnya ini adalah novel horor. Namun ternyata, ini adalah gambaran bagaimana manusia dan kehidupan yang kacau tanpa pandangan sehingga semuanya menjadi kabur.

    Substansi cerita seluruhnya menggambarkan perihal kebutaan, mulai buta fisik, pembaca digiring menafsirkan pada kebutaan hati. Tidak hanya itu, tokoh-tokoh dalam cerita yang tanpa nama, seperti istri dokter, lelaki buta pertama, gadis mata juling, perempuan berkacamata, lelaki pencuri, juga merupakan upaya penulis membuat pembaca untuk meraba, apakah manusia masih saling bisa mengenal meskipun tanpa nama-nama?

    Novel yang juga diangkat menjadi film ini juga bentuk kecaman atas manusia yang tidak menghargai nilai humanisme. Setelah membaca ini, pembaca akan merenungi lagi, merasa ditampar bagaimana ia menjalani esensi kehidupan? Meskipun tidak disertai penjelasan ilmiah, pembaca tidak akan merasa kecewa membaca buku ini, sebab pembaca diarahkan pada permasalahan-permasalahan yang lebih penting, kemanusiaan.

    Terakhir, apakah sejauh mana manusia bertahan dengan nilai kemanusiaan dan bersiap hilang atas perkara yang dianggap sangat berharga?

    Ikuti tulisan menarik Idatus sholihah lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.