Pak Jokowi, Let’s Make History, Not Stories - Analisis - www.indonesiana.id
x

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Kamis, 24 November 2022 09:45 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Pak Jokowi, Let’s Make History, Not Stories

    Pak Jokowi, let’s make history, not stories. Berita-berita mengenai hilirisasi aspal Buton yang telah kita baca selama ini di media-media massa, semuanya itu hanya merupakan cerita-cerita semata. Cerita-cerita itu akan segera dilupakan orang-orang, begitu ada cerita-cerita yang baru. Ayo, Pak Jokowi. Kita buat sejarah hilirisasi aspal Buton untuk Bangsa dan Negara Indonesia tercinta. Karena sejarah akan dikenang sepanjang masa oleh orang-orang, termasuk anak-anak dan cucu-cucu kita sendiri. Dikenang berarti akan diingat selalu dan tidak akan pernah dilupakan. Dan juga akan dicatat oleh para Malaikat sebagai amal-amal kebaikan yang imbalannya hanyalah Surga.

    Dibaca : 346 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dua tahun lagi Indoneia stop impor aspal adalah keputusan Presiden Joko Widodo yang akan menjadi sejarah bagi bangsa Indonesia. Mengapa? Karena Indonesia sudah impor aspal selama 42 tahun lebih, dan sekarang tiba-tiba sekali dalam waktu 2 tahun ke depan Indonesia akan stop impor aspal. Dan berswasembada aspal. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi secara mendadak? Apakah Pak Jokowi sudah memikirkannya dengan seksama sebelum memutuskan 2 tahun lagi Indonesia stop impor aspal?

    Aspal Buton pertama kali ditemukan pada tahun 1924. 2 tahun lagi, pada tahun 2024, aspal Buton akan genap berusia 100 tahun, atau 1 abad. Apabila keputusan Pak Jokowi 2 tahun lagi Indonesia stop impor aspal terwujud, maka peristiwa ini akan bertepatan dengan usia 1 abad aspal Buton. Alangkah bahagianya seluruh rakyat Indonesia. Peristiwa ini akan dicatat dalam buku sejarah dengan tinta emas. Akhirnya aspal Buton akan mampu juga menggantikan aspal impor. Apakah mimpi ini bisa menjadi kenyataan?

    Waktu terus berjalan. Lambat tetapi pasti. Pada saat ini waktu yang tersisa untuk mewujudkan target Indonesia stop impor aspal tinggal kurang dari 2 tahun lagi. Ya. Waktu terus berjalan. Hari demi hari. Semua rakyat Indonesia sedang menunggu dengan tanda tanya besar. Apa gebrakan cerdas dan tindak lanjut inovatif dari langkah-langkah Pak Jokowi. Apa strategi dan kebijakan merakyat yang akan diambil dan diputuskan dalam waktu waktu yang sangat singkat ini untuk mempercepat implementasi visi dan misi hilirisasi aspal Buton? Yang pasti dengan hanya marah-marah dan jengkel saja tidak akan mampu menyelesaikan masalah aspal Buton. Tetapi harus ada tindakan konkrit yang lebih nyata dan berani untuk mempertaruhkan harga diri sebagai seorang Presiden RI demi menepati janji untuk mewujudkan hilirisasi aspal Buton.

    Ada sebuah lagu dalam bahasa Inggris yang dinyanyikan oleh Elvis Presley dengan judul “It’s Now or Never”. Mungkin judul lagu ini dapat dijadikan sebagai nasehat dan peringatan bagi Pak Jokowi agar tidak salah dalam mengambil keputusan penting selanjutnya. Upaya-upaya untuk membangun industri hilirisasi aspal Buton sudah sangat banyak sekali dilaksanakan. Tetapi hasilnya masih belum tampak bentuknya. Oleh karena keputusan 2 tahun lagi Indonesia stop impor aspal sudah dinyatakan dengan tegas dan mantap, maka selanjutnya adalah bagaimana tindakan nyata Pak Jokowi untuk mewujudkan keputusan tersebut. Dan bukan hanya sekedar wacana untuk pencitraan.

    Untuk memudahkan bagi Pak Jokowi membuat keputusan selanjutnya yang lebih cerdas dan lebih bijak, serta lebih tepat sasaran, untuk mewujudkan 2 tahun lagi Indonesia stop impor aspal, berikut ini adalah masukan-masukan untuk Pak Jokowi pertimbangkan dengan niat suci dan mulia untuk kepentingan bangsa dan negara.

    Langkah pertama adalah menanamkan di dalam hati sanubari Pak Jokowi sendiri, dan para menterinya, niat suci dan semangat cinta tanah air untuk membuat sejarah, dan bukan hanya sekedar membuat cerita-cerita. Karena sejarah akan dikenang orang-orang sepanjang masa. Sedangkan cerita-cerita akan segera dilupakan orang-orang, begitu ada cerita-cerita yang baru. Mohon direnungkan baik-baik bahwa hidup tanpa perjuangan, tidak akan merasakan kemenangan.

    Langkah kedua adalah lebih mengutamakan untuk kepentingan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Khususnya rakyat di Pulau Buton, dari pada untuk kepentingan bisnis atau para pengusaha (oligarki). Karena kalau pertimbangan utama Pak Jokowi adalah untuk kepentingan bisnis semata, maka sampai kapanpun pembangunan hilirisasi aspal Buton tidak akan pernah terwujud. Yakinlah. Tetapi apabila pertimbangan utama Pak Jokowi adalah untuk kepentingan rakyat Indonesia, maka akan ada rasa syukur dan keberkahan di balik semua itu. Sehingga Allah SWT akan memudahkan dan melancarkan segala upaya-upaya Pak Jokowi. Dan secara tidak langsung masalah bisnispun dan kesejahteraan rakyat akan turut berkembang. Karena amal itu sangat bergantung sekali kepada niatnya.

    Langkah ketiga adalah Pak Jokowi harus berani mengambil resiko yang terukur untuk menggunakan “Teknologi Ekstraksi Aspal Buton” sebagai realita dari pada kemajuan zaman. Aspal impor hanya akan dapat digantikan dengan aspal Buton ekstraksi. Ini adalah “kata kunci” untuk mewujudkan janji Pak Jokowi 2 tahun lagi Indonesia stop impor aspal yang wajib Pak Jokowi pahami dengan sangat baik. Oleh karena itu pemerintah harus lebih memperhatikan dan fokus untuk memproduksi aspal Buton ekstraksi. Aspal Buton ekstraksi akan dapat diproduksi secara masal dalam jumlah besar dengan harga yang lebih murah dari harga aspal impor.

    Langkah keempat adalah melakukan verifikasi dan validasi mengenai data jumlah deposit aspal Buton yang diyakini sebesar 662 juta ton. Berdasarkan data-data terbaru hasil verifikasi dan validasi mengenai jumlah deposit aspal Buton yang sesungguhnya, maka akan dapat dibuat “Road Map Hilirisasi Aspal Buton” yang realistis dan dapat dipertanggung jawabkan secara profesional.

    Langkah kelima adalah selain membuat “”Road Map Hilirisasi Aspal Buton”, harus dibuatkan juga “Road Map Pembangunan Pulau Buton dan sekitarnya”. Dengan demikian keberhasilan dari Hilirisasi Aspal Buton, harus berdampak langsung kepada kemakmuran dan kesejahteraan rakyat di Pulau Buton. Kalau niat awal adalah untuk membangun dan mengembangkan hilirisasi aspal Buton untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia, maka pembangunan hilirisasi aspal Buton dan pembangunan Pulau Buton dan sekitarnya harus terintegrasi dan sejiwa.

    Pemerintahan Pak Jokowi tinggal tersisa kurang dari 2 tahun lagi. Mohon Pak Jokowi melakukan introspeksi diri, apakah Pak Jokowi yakin keputusan 2 tahun lagi Indonesia stop impor aspal akan dapat terwujud? Semua faktor-faktor untuk mendukung hilirisasi aspal Buton sudah siap sedia. Antara lain, deposit aspal alam yang melimpah, kebutuhan aspal nasional sebesar 1-2 juta ton per tahun. Teknologi ekstraksi yang mumpuni, ekonomis, dan ramah lingkungan. Dukungan dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Dan faktor yang belum ada adalah hanya tinggal faktor pendanaan atau Investasi. Tetapi apabila Pak Jokowi sudah percaya diri dan sepakat ingin membuat sejarah, dan bukan hanya sekedar cerita-cerita, bahwa hilirisasi adalah untuk kepentingan rakyat, maka Pak Jokowi wajib menugaskan PT Pertamina (Persero) sebagai sebuah perusahaan BUMN untuk menangani hilirisasi aspal Buton ini.

    Pak Jokowi, let’s make history, not stories. Berita-berita mengenai hilirisasi aspal Buton yang telah kita baca selama ini di media-media massa, semuanya itu hanya merupakan cerita-cerita semata. Cerita-cerita itu akan segera dilupakan orang-orang, begitu ada cerita-cerita yang baru. Ayo, Pak Jokowi. Kita buat sejarah hilirisasi aspal Buton untuk Bangsa dan Negara Indonesia tercinta. Karena sejarah akan dikenang sepanjang masa oleh orang-orang, termasuk anak-anak dan cucu-cucu kita sendiri. Dikenang berarti akan diingat selalu dan tidak akan pernah dilupakan. Dan juga akan dicatat oleh para Malaikat sebagai amal-amal kebaikan yang imbalannya hanyalah Surga.

    Ikuti tulisan menarik Indŕato Sumantoro lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.