Pelajaran Anatomi - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Sumber ilustrasi: fpnsw.org.au

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 24 November 2022 09:46 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Pelajaran Anatomi

    Dulu, sebelum ponsel, sebelum Instagram, dan sebelum pandemi, pendidikan seks dilakukan di ruang kelas fisik yang sebenarnya, tatap muka, bukan melalui internet. Dan siapa yang lebih baik menyediakannya selain guru sains sekolah menengah yang terlatih dan berpendidikan tinggi?

    Dibaca : 602 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dulu, sebelum ponsel, sebelum Instagram, dan sebelum pandemi, pendidikan seks dilakukan di ruang kelas fisik yang sebenarnya, tatap muka, bukan melalui internet.

    Dan siapa yang lebih baik menyediakannya selain guru sains sekolah menengah yang terlatih dan berpendidikan tinggi?

    Sayangnya, guru sains di sekolah kami, Pak Udin, adalah seorang vegetarian yang pemalu, rabun jauh, belum menikah, berambut acak-acakan, bertubuh kurus, dengan penampilan dirinya baru saja keluar dari masa pubertas remaja. Akibatnya, dia disiksa tanpa ampun oleh murid-muridnya, bahkan saat mengajar mata pelajaran yang tidak mengaduk emosi seperti El Nino atau pemanasan global.

    Musuh utamanya adalah seorang anak bernama Heru, yang tingginya lima belas sentimeter lebih tinggi dari Pak Udin. Serahkan pada Heru untuk mengajukan pertanyaan yang paling meresahkan, dengan suara yang telah berubah menjadi bariton yang dalam. “Pak, apakah benar kencing manusia merubuhkan jembatan besi? Kentut sapi menyebabkan pemanasan global?”

    Dan sebagainya.

    Jadi kelas pendidikan seks Pak Udin menjadi sumber polusi suara yang cukup besar di sekolah. Huruhara di SMP Tunas Bangsa, kata yang mengetahui kisahnya.

    Pak Udin tidak bisa menyebutkan aspek apa pun dari sistem reproduksi tanpa semburan ludah, bersama dengan teriakan, siulan, hentakan kaki, dan dentam tinju menabuh meja kayu.

    Kekacauan itu bahkan terdengar di kantor guru dan tata usaha di seberang gedung, yang mengganggu pekerjaan. Akhirnya kepala sekolah memanggil Pak Udin dan mengatakan kepadanya bahwa ada sesuatu yang harus dilakukan, atau hal itu akan berdampak buruk pada evaluasinya yang akan datang.

    Dalam apa yang kemudian terbukti adalah sebuah ide yang jenius.

    Pak Udin memohon bantuan kepada saudara iparnya, seorang ginekolog. Dia punya sesuatu, katanya—model anatomi panggul wanita berwarna cerah yang hampir seukuran manusia, yang diberikan kepadanya oleh produsen diafragma.

    Dan itu datang dengan diafragma pegas silikon yang sebenarnya!

    Pak Udin menyiapkan peralatan di mejanya sebelum jam pelajaran dimulai. Murid laki-laki—kelas dipisahkan berdasarkan jenis kelamin dalam upaya sia-sia untuk mengelola hasrat jiwa remaja—tampak sedikit tenang ketika mereka masuk dan memperhatikan tambahan alat peraga edukasi terbaru, yang bagi beberapa orang, mungkin tampak seperti boneka seks yang terpotong.

    Pak Udin mengambil alat kontrasepsi karet itu, mengangkatnya ke atas kepalanya, dan menggoyangkannya agar semua orang bisa melihat. "Ada yang tahu apa ini?"

     

    Dia memberikannya kepada Heru untuk diedarkan. Beberapa anak laki-laki tampak mual, melirik sepintas saat mereka menyerahkannya, tetapi yang lain memeriksanya dengan sungguh-sungguh. Satu anak bahkan mengendusnya dan kemudian membuat wajah jijik.

    "Ada yang tahu?" ulang guru.

    "Kondom," teriak seorang anak.

    "Bukan, itu Fiesta!" seru Heru dengan penuh percaya diri.

    Pak Udin mengambil barang itu dan sekali lagi memajangnya dengan jelas.

    “Baiklah, Heru,” katanya, “jika demikian, penismu harus memiliki lebar delapan sentimeter inci dan panjang tiga setengah sentimeter. Apakah benar segitu?”

    Dan, setelah beberapa detik hening untuk merenung, ledakan paling keras dan paling dahsyat dalam sejarah panjang SMP Tunas Bangsa membahana. Lolongan, deru badai, dan tertawa terbahak-bahak menjadi satu kesatuan. Bahkan Heru, ketika semua mata dan jari tertuju padanya, ikut tertawa, menunjukkan bahwa dia bisa menerima dan juga memberi.

    Setelah mereka semua lelah tertawa dan berurai air mata, Pak Udin memasukkan alat itu secara profesional ke dalam model dan memberi setiap anak kesempatan untuk mencobanya juga. Dia tahu mereka terkesan.

    Sisa tahun ajaran berjalan lebih lancar. Heru tidak pernah menjadi siswa teladan, tetapi bukan lagi pembuat onar seperti dulu. Kegugupan Pak Udin berkurang seiring dengan kebiasaannya mengkonsumsi obat sakit kepala. Dia tidur lebih nyenyak, suasana hatinya membaik, mendapat kenaikan gaji, dan selamanya memastikan menghabiskan sebagian waktu persiapan pelajaran untuk meneliti lelucon bagus yang cocok untuk siswa sekolah menengah.

    Jika ada yang bertanya kepada murid dan mantan murid apa pendapat mereka tentang dia, jawabannya adalah, “Pak Udin? Pak guru kereeen.”

     

    Bandung, 24 November 2022

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.