Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat - Analisis - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi remaja galau. Pxhere.com

Tiara Sabrina

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 November 2022

Kamis, 24 November 2022 15:36 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat

    Pastikan tantangan adalah bagian dari perjuangan untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Hidup juga ditandai dengan rentetan masalah yang tak kunjung usai. Dan bagi mereka yang direpotkan oleh masalah-masalah yang muncul dan mengganggu kehidupannya. Kebahagiaan sejati hanya datang ketika pembaca menemukan masalahnya, menikmatinya, dan menyelesaikannya. Jadi penawar yang tepat adalah ketidakpedulian terhadap masing-masing masalah ini. Yang dimaksud penulis di sini adalah agar pembaca mulai belajar menerima semua fakta dan keadaan apa adanya.

    Dibaca : 358 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul                           :Seni Untuk Bersikap    Bodoh Amat

    Penulis                        : Mark Manson

    Penerbit                      : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta

    Tahun Terbit                : 2018

    Tebal Buku                  : 246 Halaman

    Ukuran Buku               : 21 x 14 cm

    Harga Buku                 : Rp. 78.000,00

    Nama Peresensi          : Tiara Sabrina Aqila Putri

    Ini tentang seorang pria bernama Charles Bukowski yang pernah menjadi seorang pecandu alkohol, penjudi, seorang womanizer, dan seorang pria yang kejam. Di balik suasana hatinya yang buruk, Bukowski memiliki tujuan yang melekat untuk  menjadi  seorang   penulis.  

    Namun selama beberapa dekade, karyanya ditolak oleh hampir semua majalah, surat kabar, agensi, dan penerbit yang dia ikuti. Mereka mengatakan dia melakukan pekerjaan yang mengerikan. Dan tumpukan penolakan menumpuk, beban kegagalan mendorongnya lebih dalam ke dalam depresi.

    Bukowski akan menjadi seorang penulis dan penyair. Seorang editor di sebuah perusahaan penerbitan tertarik padanya. Sejak itu, ia telah menerbitkan enam novel dan ratusan puisi, dan telah menjual lebih dari dua juta eksemplar bukunya. Popularitasnya melebihi semua harapan, terutama dirinya sendiri. Kehidupan Bukowski membuat impian Amerika menjadi kenyataan: Seorang pria yang berjuang untuk apa yang dia inginkan, tidak pernah menyerah, dan akhirnya mewujudkan mimpi terliarnya. Dia tidak pernah berhenti berusaha. Dia selalu percaya pada dirinya sendiri."

    Dan kesuksesannya tidak datang dari tekadnya untuk menjadi pemenang, tetapi dari kenyataan bahwa dia tahu dia adalah pecundang, menerimanya, dan menulisnya dengan jujur. Dia tidak pernah mencoba menjadi apa pun kecuali dirinya sendiri. Kejeniusannya dalam karya Bukowski bukanlah dalam mengatasi peluang yang luar biasa atau berkembang menjadi cahaya sastra yang mulia. Tapi sebaliknya, itu adalah kemampuannya yang sederhana untuk jujur secara mutlak dan tak tergoyahkan pada dirinya sendiri, terutama bagian terburuk dari dirinya, dan berbagi kekurangannya tanpa ragu-ragu.

    Ini adalah kisah nyata kesuksesan Bukowski. Rasa kenyamanan dengan dirinya sendiri sebagai kegagalan. Bukowski tidak peduli dengan kesuksesan. Ketenaran dan kesuksesan tidak membuatnya menjadi orang yang lebih baik. Peningkatan diri dan kesuksesan sering kali berjalan beriringan, tapi itu tidak berarti mereka sama. Budaya kita saat ini terobsesi dengan berfokus pada harapan positif yang tidak realistis. menjadi sehat, menjadi yang terbaik, dan lebih baik dari yang lain. Menjadi lebih pintar, lebih cepat, lebih kaya, lebih populer, lebih produktif, lebih cemburu, dan lebih dikagumi.

    Dalam tulisan Mark Manson, ia membagi seni bodoh menjadi tiga kategori. Ini menggambarkan bahwa seseorang harus bersikap bodoh amat. Menjadi bodoh pada awalnya tidak berarti acuh tak acuh. Kedua, kita dapat mengatakan "bodo amat" untuk suatu masalah. Kunci untuk kehidupan yang baik bukan tentang memedulikan lebih banyak hal; tapi tentang memedulikan hal yang sederhana saja, hanya peduli tentang apa yang benar dan mendesak dan penting (halaman 6). Ketiga, Mark Manson terobsesi untuk selalu mengikuti jalan yang benar karena tidak menjalani hidup apa adanya.

    Penulis tahu bahwa banyak orang yang terlalu mengkhawatirkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu diperhatikan. Jawaban penulis dalam buku ini adalah bahwa hidup mungkin menyedihkan, sulit, dan tidak memuaskan, tetapi jangan putus asa karenanya. Pembaca tidak perlu kehabisan tenaga atau memaksa orang lain untuk menjadi apa yang mereka inginkan.

    Dari segi penampilan, sampul buku memiliki perpaduan dua warna hitam dan orange yang mendominasi memudahkan orang untuk membaca. Selain itu ketebalan buku ini tidak terlalu tebal untuk pembaca yang baru mulai membaca. Ukuran buku ini juga pas di tangan karena tidak terlalu tebal.

    Pada bagian isi, buku karangan Mark Manson banyak menyadarkan bahwa hidup tidak terlihat sesulit itu. Menurutnya hidup cukup untuk mengikuti alur dan sesekali mencoba sesuatu yang baru agar mengetahui makna hidup itu sendiri.

    Dalam buku ini juga terdapat kekurangan, kalimat-kalimat yang sulit dimengerti dikarenakan buku ini adalah buku terjemahan bahasa asing. Selain itu terdapat beberapa bab yang tidak sinkron dengan bab sebelumnya yang menyebabkan bingung kelanjutan topik yang dibaca.

    Buku ini sangat cocok untuk mahasiswa dan pekerja kantoran yang penat atau ingin menyerah. "Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat" karya Mark Manson telah mengajarkan banyak orang untuk tidak terlalu memperhatikan segala hal, tetapi lebih memperhatikan beberapa hal yang memang membutuhkan perhatian lebih. Menjadi bodo amat memang sedikit membantu kesehatan mental pembaca. Intinya bukan untuk menghindari kesulitan. Intinya adalah menemukan hal-hal sulit yang bisa dihadapi dan dinikmati pembaca. Buku ini akan mengajari pembaca untuk membuat inventaris kehidupan pembaca dan menyontir hal-hal yang paling penting saja. Inilah buku yang membuat pembaca bergerak secara ringan tak peduli seberapa berat beban yang dimiliki.

    Ikuti tulisan menarik Tiara Sabrina lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.