Berani Berefleksi agar Tidak Lupa Diri - Analisis - www.indonesiana.id
x

ilustr: David Wolfe

Anita Rakhmi Shintasari

Guru BK SMPN 22 Semarang-Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 1 Desember 2021

Kamis, 24 November 2022 15:38 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Berani Berefleksi agar Tidak Lupa Diri

    Momen hari guru menjadi saat yang istimewa bagi setiap guru di Indonesia, selain mengajar apa yang sebaiknya perlu kita lakukan sebagai guru?

    Dibaca : 310 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Tidak terasa kembali bertemu dengan bulan ke-11. Bulan yang penuh dengan gempita bagi seluruh guru di Bumi Pertiwi tercinta. Berbagai agenda digelar sebagai bentuk apresiasi yang luar biasa bagi pengabdian guru di negeri ini. Bahkan jauh-jauh hari telah digelar, mulai yang bentuknya kompetisi sampai pertemuan akbar. Berbagai organisasi dan komunitas guru yang ada berlomba-lomba untuk menunjukkan apresiasi serta andil yang telah diperjuangkan selama ini.

    Terlepas dari semua euforia perayaan yang gegap gempita, jauh dilubuk hati saya yang paling dalam terbersit rasa malu pada diri sendiri dan murid-murid saya. Setelah menekuni profesi ini dari tahun 2001 sampai sekarang, semakin saya belajar dan meningkatkan pengetahuan sebagai seorang guru, semakin saya menemukan banyak kekurangan pada diri saya sebagai guru.

    Pekan ini menjadi momen yang saya khususkan untuk melakukan refleksi terhadap keseluruhan diri saya sebagai guru. Mulai dari proses pembelajaran yang saya laksanakan, kepribadian yang melekat pada diri saya serta kemampuan menjalin kolaborasi dan kerjasama dengan rekan sejawat. Seperti melihat album foto lama yang dibuka kembali, satu persatu saya coba untuk jujur pada diri sendiri.

    Proses pembelajaran yang saya laksanakan, jujur menurut saya pribadi masih banyak yang harus diperbaiki. Dari kemampuan menyusun perencanaan pembelajaran yang belum maksimal, pelaksanaan dikelas yang sering terjeda iklan tugas tambahan ataupun dinas luar, sehingga sering berbeda dengan rencana karena terpaksa memberikan penugasan untuk murid, padahal idealnya bisa berinteraksi secara langsung. Kemudian evaluasi terhadap proses pembelajaran yang saya laksanakan, secara administratif masih banyak yang belum terevaluasi.

    Belum lagi ketika mendapati hasil pendapat murid yang memberikan suaranya terkait pembelajaran yang saya sampaikan, meski ada yang mengapresiasi positif tetapi tetap ada pula yang mengapresiasi negatif. Masukan dari murid ini menjadi motivator bagi diri saya untuk segera berbenah agar proses pembelajaran yang saya laksanakan dapat lebih bermakna bagi mereka.

    Selanjutnya, terkait kepribadian, meskipun secara umum murid maupun rekan sejawat dan kolega yang mengenal diri saya menyampaikan pendapat yang positif tentang diri saya, akan tetapi ada juga rekan sejawat yang menunjukkan sikap kurang bersahabat. Disini saya menyadari bahwa diri saya secara pribadi masih perlu untuk memperbaiki sikap perilaku saya agar tidak menyakiti atau melukai orang lain, minimal tidak membuat orang lain kecewa dengan diri saya. Keegoisan diri dengan merasa benar atau baik harus jauh-jauh ditepis agar diri dapat lebih luas memaknai sebuah situasi atau persoalan dalam lingkungan sekolah khususnya dan masyarakat secara umum.

    Untuk kemampuan menjalin kolaborasi dan kerjasama, tidak saya pungkiri, pada beberapa situasi, saya kadang merasa tidak nyaman ketika dipertemukan dengan rekan sejawat yang tidak satu frekuensi. Jujur, dengan ketidaknyamanan itu secara tidak langsung sangat mempengaruhi kualitas kerjasama yang terjalin yang pada akhirnya menyisakan konflik personal dalam diri saya.

    Kejujuran diri untuk berefleksi ini menjadikan beban dalam diri sedikit berkurang dan membuka mata untuk menyusun strategi yang lebih tepat agar dapat melakukan perbaikan bagi diri sendiri. Dengan refleksi diri akan membantu diri saya untuk tidak lupa diri lalu merasa diri baik-baik saja padahal ada banyak hal yang telah mengecawakan bagi murid ataupun rekan sejawat. Kesempatan yang sangat pas bagi saya di momen hari guru ini, sebagai titik tolak untuk bercermin dan menemukan noda-noda yang harus dibersihkan , agar tugas dan amanah profesi yang telah saya pilih dapat saya tunaikan dengan sebaik-baiknya.

    Selamat hari guru untuk seluruh rekan guru di Nusantara tercinta, semoga kita dimampukan menjadi guru yang inspiratif dan memotivasi murid untuk tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang cemerlang akal dan budinya, sukses untuk seluruh Guru di Indonesia.

    Ikuti tulisan menarik Anita Rakhmi Shintasari lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.