Manusia Manusia Miring - - www.indonesiana.id
x

cover buku Manusia Manusia Miring

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 24 November 2022 21:07 WIB

  • Topik Utama
  • Manusia Manusia Miring

    Manusia Manusia Miring atau 3 M adalah sebuah eksperimen penulisan fiksi yang unik. Karya fiksi ini ditulis bersama oleh 14 penulis secara keroyokan.

    Dibaca : 408 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Manusia-Manusia Miring

    Penulis: Evin Tobing, dkk.

    Tahun Terbit: 2021

    Penerbit: Binsar Hiras

    Tebal: 122

    ISBN: 978-623-6679-80-7

     

     

    Galipnya, sebuah novel atau karya fiksi ditulis oleh penulis tunggal. Atau ada juga yang ditulis berdua, seperti “Pangeran Dari Timur” yang mengisahkan kehidupan Raden Saleh yang ditulis bersama oleh Iksaka Banu dan Kurnia Effendi. Karena menulis fiksi secara keroyokan memang lebih rumit. Betapa repotnye menyatukan plot dan membangun karakter tokoh jika karya fiksi terebut dikerjakan secara keroyokan. Dalam contoh “Pangeran Dari Timur” Iksaka Banu fokus mengembangkan bagian kisah Raden Saleh, sementara Kurnia Effendi menggarap bagian tokoh lain yang menjadi penjalin cerita di sekitar jaman Kemerdekaan. Pembagian seperti yang dicontohkan oleh Iksana Banu dan Kurnia Effendi adalah sebuah solusi menghadapi kerumitan menulis karya fiksi bersama.

    Buku “Manusia-Manusia Miring” ini adalah sebuah eksperimen penulisan karya fiksi secara keroyokan. Tidak tanggung-tanggung. Ada 14 penulis yang membuat kisah bersama! Hasilnya? Cukup menarik. Ceritanya lumayan mengalir. Karena penasaran, saya menghubungi teman saya salah satu penulis yang ikut serta mengembangkan karya fiksi pendek ini.

    Ia mengisahkan bahwa para penulis diminta untuk membuat 3-4 pentigraf dengan mengacu kepada seorang tokoh perempuan bernama Biyan. Dalam tulisan berbentuk pentigraf tersebut harus ada tokoh protagonis dan tokoh antagonis. Tiga sampai empat pentigraf tersebut dijuduli dengan “Petualangan.” Makan dalam buku ini ada 14 Petualangan Biyan.

    Identitas Biyan sudah ditentukan dengan cukup dital, sebagai berikut: Nama, Biyan Prajnita. Tempat, tanggal lahir, Malang, 18 Agustus 2001. Hobi, jalan-jalan, kulineran dan naik gunung. Watak, keras kepala, berjiwa pemimpin, antusias terhadap hal-hal baru, dan suka tantangan terutama mengenai peninggalan purbakala. Ciri-ciri fisik, tinggi 155 cm, tubuh langsing, berkulit sawo matang, ada tahi lalat di dagu sebelah kiri, rambut ikal kecokelatan sebahu model shaggy, paling suka memakai celana jeans dan kaos. Cita-cita, ingin jadi arkeolog atau pengacara supaya bisa mengembalikan artefak yang hilang diakui negara lain sekaligus menegakkan hukum dengan baik.

    Biyan seorang gadis tomboi yang sedang mencari jati diri. Dia tidak mau kuliah karena ingin berkontemplasi sejenak. Biyan belum pernah berpacaran karena baginya pacaran itu sama sekali nggak ada faedahnya. Biyan paling suka teman yang sportif dan enerjik, tetapi paling benci pengkhianat dan suka manfaatin kepercayaan orang lain. Biyan punya masalah dengan kedua orang tuanya yang sangat disiplin karena ayahnya seorang militer dan ibunya telah tiada sejak Biyan berusia lima tahun. Biyan anak tunggal yang sama sekali tidak manja. Lebih dekat dengan neneknya yang baru saja meninggal dunia lima bulan lalu.

    Pentigraf dari masing-masing penulis kemudian dijalin menjadi sebuah cerita tentang Biyan oleh editor. Penggabungan dilakukan setelah semua naskah terkumpul.

    Apa yang dilakukan oleh Evin Tobing (ET) sebagai mentor sekaligus editor adalah sebuah kerja kreatif sekaligus penuh risiko. ET memberi panduan yang cukup rinci tentang tokoh utama yang harus menjadi sentral dari setiap pentigraf yang disusun secara terpisah oleh 14 penulis. Panduan tersebut terbukti cukup ampuh untuk membuat semua kisah berpusat pada tokoh Biyan. Tokoh-tokoh ikutan yang muncul dari masing-masing penulis tentulah sangat beragam. Ada tokoh yang berhubungan keluarag dengan Biyan, ada tokoh yang bertemu Biyan karena sehobi, sekegiatan dan sebagainya.

    Secara umum kisah-kisah tentang Biyan bisa menggambarkan sosok Biyan seperti yang disampaikan oleh ET sebagai acuan menulis kepada keempatbelas penulis. Saya menemukan Biyan yang tomboy, suka bertualang, mempunyai kenangan mendalam kepada bapak dan neneknya serta sosok Biyan yang suka kepurbakalaan.

    Namun, tentu saja petualangan-petualangan tersebut tidak bisa menyatu sebagai sebuah kisah yang kronologis dan beralur rapi. Jadilah kisahnya semacam mosaik. Pilihan ET untuk menyebut kisah-kisah yang ditulis sebagai “Petualangan” sangat menolong saya membaca buku ini. Karena petualangan, maka tidak perlu ada sebuah kesatuan kronologis. Lepas tapi tetap terhubung oleh satu tema.

    Upaya kreatif dalam menghasilkan karya fiksi seperti ini patut diapresiasi. Selamat buat ET. Selamat buat keempatbelas penulis yang sudah berani berekplorasi. 717

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.