Pagar Kawat - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Sumber ilustrasi: menards.com

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 25 November 2022 06:34 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Pagar Kawat

    Aku mendongak dari buku Jakarta Undercover milikku yang sudah lusuh untuk melihat seraut wajah pucat menempel di pagar kawat ayam. Pipinya mengisi celah seperti sisa adonan kue. Bocah laki-laki itu tersenyum, memperlihatkan dua gigi depan yang tumbuh miring. Aku kembali membaca buku.

    Dibaca : 672 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    “Kata Nenek, Tante pelacur.”

    Aku mendongak dari buku Jakarta Undercover milikku yang sudah lusuh untuk melihat seraut wajah pucat menempel di pagar kawat ayam. Pipinya mengisi celah seperti sisa adonan kue. Bocah laki-laki itu tersenyum, memperlihatkan dua gigi depan yang tumbuh miring. Aku kembali membaca buku.

    "Tante, dengar nggak yang aku bilang barusan?"

    Aku menyeka keringat yang menggumpal anak rambut di dahiku. "Apa orang tuamu tidak mengajarimu untuk tidak berbicara dengan orang asing?"

    "Nggak. Nggak ada.”

    Aku menatapnya lagi. Matanya besar dan murung, terbebani oleh malam tanpa tidur.

    "Di mana papa mamamu?"

    “Mereka pergi biar sembuh.”

    Aku tahu dari cara matanya berkaca-kaca ketika dia mengatakan ini bahwa dia diajari jawabannya sekali dan tidak pernah melupakannya, sering melafalkannya seperti Sila Dasar Negara atau doa sebelum makan. Bahwa dia tidak tahu bahwa hanya dua orang di dunia yang tidak seharusnya meninggalkan anaknya dengan eufemisme untuk pecandu narkoba dalam masa rehabilitasi.

    "Siapa namamu?"

    "Ryan."

    “Jadi sekarang kamu tinggal dengan nenekmu?”

    Dia mengangguk dan melihat kembali ke rumah di belakangnya. Pekarangannya yang dulu berupa selimut perca berwarna kuning, putih, dan pink—digantikan oleh bunga tempuyung liar dan rumput kering yang selalu terjadi pada bulan Juli. Kaca jendelanya begitu kotor nyaris hitam buram, dan cat bagian luarnya yang terkelupas berwarna hijau pucat karena lelah.

    "Dan nenekmu bilang aku pelacur?"

    Sebelum dia bisa menjawab, seorang perempuan tua mengeluarkan kepalanya dari pintu kasa, berteriak padanya untuk masuk. Perempuan yang kelebihan berat badan dan membawa tangki oksigen ke mana pun dia pergi. Tidak banyak tempat selain gereja di ujung jalan dan minimarket. Tatapannya mengeras saat bertemu denganku, berkerut karena jijik.

    "Dadah," kata Ryan sambil berbalik dan berlari kembali ke rumah.

    "Dah," kataku begitu dia pergi.

    ***

    Aku melihatnya lagi beberapa hari kemudian ketika pergi keluar untuk menyirami tanaman bunga ibu. Ini adalah satu-satunya tugas harian yang dia berikan kepadaku saat dia mengajar kelas yoga di Balai Kecamatan.Itu dan untuk berhenti mengisap ganja di dalam kamar. Aku pindah ke sini tahun lalu setelah keluar dari panti. Ibu tidak mengizinkanku menutup pintu apa pun di rumah selama enam bulan, harus selalu dalam pandangannya saat dia memasak di dapur atau menonton tayangan ulang sinetron di sofa.

    Ibu masih membawa seluruh isi lemari obat di tasnya. Aku berjanji akan kembali setelah setahun menenangkan diri. Aku meminjam ungkapan itu dari terapisku, Tata. Kita semua tahu aku berbohong.

    Dia sedang menggali tanah merah di bawah pohon kersen  yang rimbun ketika aku mendekati pagar, mendecakkan lidahku seperti yang kulakukan pada kucing liar. “Ck ck ck. Ngapain kamu di situ?"

    Dia tidak mendongak. “Nenekku bilang aku tidak boleh bicara dengan Tante lagi.”

    "Kok gitu?"

    "Kan aku sudah bilang."

    Neneknya mungkin melihat aku menjemur cucian di halaman belakang hanya mengenakan bra atau memergokiku saat menyelinap keluar dari pintu belakang untuk dijemput oleh taksi jam dua pagi. Tahu tujuanku adalah tempat tidur sembarang lelaki, atau seprai yang dijemur tanpa dicuci dari geser kanan di aplikasi Tinder.

    Aku akui neneknya tidak bersalah. Aku bukan apa-apa saat ini. Mungkin juga aku pelacur. Itu membuatku tertawa.

    "Apanya yang lucu?"

    "Kamu," jawabku

    ***

    Aku tidak melihatnya sama sekali pada minggu berikutnya. Mataku mencarinya setiap kali aku melangkah keluar.

    Suatu malam, aku duduk di sisi pagar dan menunggunya. Langit berwarna jingga, lalu merah jambu, sebelum berubah menjadi senja yang tidak menyenangkan. Nyamuk berdengung di telingaku, dan aku membiarkan bagian dalam lenganku yang lembut dan pucat untuk mereka. Rumah sepi.

    Saat aku bangkit untuk masuk, perempuan tua itu melangkah ke beranda belakang dan menyilangkan lengannya.

    “Dia tidak ada di sini. Ayahnya ada di kota. Membawanya memancing di sungai.”

    "Ibunya juga?"

    "Itu bukan urusanmu."

    Aku mengangguk dan menggigit lidahku sampai berdarah. Saat membuka pintu belakang untuk masuk ke dalam, suaranya menghentikanku.

    "Biarkan dia."

    Aku melihat ke arahnya. Lengannya masih disilangkan saat dia menatap kakinya. "Baik, bu."

    ***

    Aku tidak keluar rumah selama dua minggu. Ibuku bilang dia kecewa padaku saat bunga terakhirnya mati. Aku sedang berbaring di tempat tidurku dengan jendela setengah menganga agar udara bertukar keluar masuk kamar ketika mendengar jeritan pagi itu.

    Aku berlari keluar dan menemukan Ryan dengan anak burung pipit menggeliat di tangannya, masih merah tanpa buluh dan celah mata belum terbuka untuk dunia.

    "Aku tidak melakukan kesalahan apa pun," katanya.

    Ada lubang dangkal di pangkal pohon kersen yang dia coba sembunyikan dariku dengan memiringkan tubuhnya di depannya. Pipinya basah oleh air mata. Anak burung itu mencicit lagi saat cengkeramannya semakin erat.

    “Untuk apa lubang itu?”

    “Dia sendirian. Aku menyelamatkannya.”

    "Ibunya akan kembali."

    Aku berlutut agar kami saling berhadapan. "Aku berjanji."

    Aku berbohong lagi, mengatakan apa yang aku tahu ingin dia dengar. Aku telah berbohong seumur hidupku dan tidak pernah merasa bersalah sampai sekarang.

    Aku mengerti kebencian neneknya padaku. Aku mengerti bagaimana orang tuanya meninggalkannya. Aku mengerti bahwa itu menyakitkan. Semuanya.

    Dia melihat ke bawah pada tubuh lembut yang lemas dan diam tak bergerak. Aku tidak memprotes saat dia meletakkannya dengan lembut di dalam lubang. Lalu aku menyodorkan tanganku melalui pagar, dan dia menyambutnya.

    Kami tetap di sana seperti itu untuk waktu yang lama, sampai kami lupa mengapa kami ada di sana, dan dari mana air mata kami berasal, dan mengapa itu penting.

     

    Bandung, 24 November 2022

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.