Sinopsis Kumpulan Cerpen Mata yang Enak Dipandang - Analisis - www.indonesiana.id
x

Photo by Darius Bashar on Unsplash

Malik Ibnu Zaman

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 16 Oktober 2022

Jumat, 25 November 2022 10:16 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Sinopsis Kumpulan Cerpen Mata yang Enak Dipandang

    Pada artikel ini saya akan membahas mengenai karya dari Ahmad Tohari. Banyak sekali karya dari Ahmad Tohari, yaitu: Senyum Karyamin, Kubah, Orang-Orang Proyek, Ronggeng Dukuh Paruk, Lingkar Tanah Lingkar Air, Mata yang Enak Dipandang, Bekisar Merah, Di Kaki Bukit Cibalak.

    Dibaca : 339 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pada artikel ini saya akan membahas mengenai karya dari Ahmad Tohari. Banyak sekali karya dari Ahmad Tohari, yaitu: Senyum Karyamin, Kubah, Orang-Orang Proyek, Ronggeng Dukuh Paruk, Lingkar Tanah Lingkar Air, Mata yang Enak Dipandang, Bekisar Merah, Di Kaki Bukit Cibalak.

    Sedikit informasi Ahmad Tohari merupakan seorang sastrawan dan budayawan kelahiran Banyumas, Jawa Tengah. Jika kita membaca karya beliau, tentu kita sepakat bahwa karya beliau memiliki ciri khasnya tersendiri.

    Nah, salah satu karya dari Ahmad Tohari adalah vuku yang berjudul Mata yang Enak Dipandang. Buku ini merupakan buku kumpulan cerpen, terdiri dari 15 cerita pendek dari Ahmad Tohari yang tersebar di sejumlah media cetak pada kurun waktu tahun 1983 sampai dengan 1997. Adapun judul buku ini diambil dari salah satu judul cerpen yaitu Mata yang Enak Dipandang.

    Ke-15 judul cerpen dalam buku ini adalah: Mata yang Enak Dipandang, Bila Jebris Ada di Rumah Kami, Penipu yang Keempat, Daruan, Warung Penajem, Paman Doblo Merobek Layang-Layang, Kang Sarpin Minta Dikebiri, Akhirnya Kasrim Menyeberang Jalan, Sayur Bleketupuk, Rusmi Ingin Pulang, Dawir Turah dan Tolol, Harta Gantungan, Pemandangan Perut, Salam dari Penyangga Langit, Bulan Kuning Sudah Tenggelam.

    Seperti novel-novelnya, dalam cerita pendeknya Ahmad Tohari juga selalu mengangkat kehidupan rakyat kecil dengan seluk beluk permasalahan yang terjadi. Ia piawai dalam mengangkat kisah tersebut sehingga mampu membuat pembaca mampu simpati ketika membaca karyanya. Buku ini wajib banget untuk dibaca khususnya bagi mereka yang suka dengan cerita pendek.

    Dari 15 judul cerpen dalam buku ini, saya suka semuanya. Tetapi pada artikel ini saya akan mengulas sedikit cerpen yang berjudul Pemandangan Perut. Cerpen ini menceritakan tokoh bernama Sardupi lelaki bertubuh kecil, berkulit hitam, dan tidak menikah. Meskipun sudah berumur, ia suka bermain dengan anak-anak kecil. Lalu ketika diajak bicara ia selalu merendahkan mata. Ia juga suka tersenyum atau tertawa sendiri. Sehingga sebagian orang menganggap ia gila.

    Di balik kenyelenehannya, ternyata Sardupi jika melihat orang yang ia lihat hanyalah tulang-tulang yang tersusun menjadi kerangka manusia dan bergerak sempoyongan seperti jelangkung. Ia juga sering melihat layar tancep dalam rongga perut semua orang, dan anak-anak gambarnya enak dipandang. Itu sebabnya Sardupi sering berkumpul dengan anak-anak.

    Ikuti tulisan menarik Malik Ibnu Zaman lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.