Kiamat Telah Tiba (85): Juan Moreno - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Meteoroids are billions of years old

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 25 November 2022 10:21 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Kiamat Telah Tiba (85): Juan Moreno

    Dalam waktu setengah jam, Jean-Bédel, Fabrice, dan Jaqcues mengepung rumah persembunyian SOUP. Jean-Bédel dan Fabrice berdiri di pintu depan bungalo sementara Jaqcues di pintu belakang. Fabrice mengetuk pintu depan. Tidak ada jawaban. Dia mengetuk lagi. Masih tidak ada jawaban.

    Dibaca : 752 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    6 Juli

     

    Jean-Bédel mengamati layar laptopnya. "Sepertinya Moreno mengalami hari yang tenang di dalam ruangan," katanya, mengamati jejak pemancar pelacak di peta.

    "Ada kabar dari Ruud Zeilenger, Desmona Peloshi, Sarah, atau presiden?" tanya Fabrice.

    "Tidak, tapi ini masih pagi," jawab Jean-Bédel. "Mereka sedang mengawasi Rick Machado dan berharap dia membawa mereka ke agen SOUP lainnya."

    “Apakah menurutmu SOUP panik?” tanya Jaqcues.

    "Mereka tahu Moreno telah ketahuan dan Henry Henderson di Groom Lake belum melakukan kontak," jawab Jean-Bédel. "Itu pasti membuat mereka khawatir tentang apa lagi yang kita ketahui."

    "Merde," kata Jean-Bédel tiba-tiba.

    “Ada masalah apa?” tanya Fabrice.

    "Aku baru saja memutar ulang data Moreno selama dua puluh empat jam terakhir," jawab Jean-Bédel. 'Dia benar-benar tidak bergerak sama sekali. Waktu yang sangat lama untuk tidur.”

    ***

    Dalam waktu setengah jam, Jean-Bédel, Fabrice, dan Jaqcues mengepung rumah persembunyian SOUP.

    Jean-Bédel dan Fabrice berdiri di pintu depan bungalo sementara Jaqcues di pintu belakang.

    Fabrice mengetuk pintu depan.

    Tidak ada jawaban.

    Dia mengetuk lagi.

    Masih tidak ada jawaban.

    Dia mencoba gagang pintu dan pintu terbuka.

    Jean-Bédel dan Fabrice mencabut pistol dan dengan cepat masuk ke dalam rumah, saling menjaga menyisir kamar ke kamar.

    Pintu kamar tidur sedikit terbuka. Jacques yang masuk dari belakang mendobrak pintu hingga terbuka, dengan cepat mengarahkan pistolnya ke seberang ruangan.

    Juan Moreno sedang berbaring di tempat tidur.

    Saat Fabrice dan Jacques mendekati mayat itu, mereka bisa melihat lubang peluru di dahinya.

    Moreno telah mati beberapa jam sebelumnya.

    "Sisa properti tampaknya tidak terganggu," kata Robert. "Kelihatannya seperti pembubuhan yang terencana, bukan perampokan."

    Paul menarik sedikit tirai dan melihat ke luar jendela. “Jean-Bédel, dari data pelacakan bisa dilihat kapan persisnya dia berhenti bergerak?”

    “Ya, sekitar pukul satu siang kemarin. Mengapa kamu bertanya?”

    “Jelas banyak manusia paranoid di sekitar sini. Aku bisa melihat tiga kamera CCTV di sekitar bungalow hanya dari sini. Mungkin ada yang terekam kamera, sesuatu yang berguna.”

     

    BERSAMBUNG

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.