Melawan Rintangan - - www.indonesiana.id
x

Photography Tempo Nasional

Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juni 2022

Jumat, 25 November 2022 19:33 WIB

  • Topik Utama
  • Melawan Rintangan

    Melawan Rintangan. Artikel Cinta Bumi Indonesia. Selesaikan saja dulu kekinian bermanfaat tengah mengalir ke sungai-sungai menuju lautan lepas sebagai kewajaran tak menuai badai. Arus gelombang tsunami menghantam pantai. Bukan itu kehendak umum. Publik adalah negara, sebagaimana sebuah keluarga, sederhana, hanya ingin nyaman, damai di hati, bersama memberi keteladanan pelajaran politik, jernih sukma. Salam Indonesia Cinta Kasih Sayang.

    Dibaca : 447 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Seni ya senilah, bukan seni dikontrol kepentingan swalayan, aduhai seksi sekali. Wah! Begini. Bukan begitu. Lantas yoi aje, ketika sejumlah akronim merujukkan pelarangan ini atau itu dalam kontrol sana sini, back to alegoris zaman itu.

    Mau (?) Kalau mau sila saja. Bebas saja. Memilih, pilihan, ada, di hati nurani masing-masing. Cerita pendek ditulis dimana saja, boleh-boleh saja, lembaga apapun mengurus kesenian, sila, oke deh, salam kelingking. 

    Asal jangan membuat ranah seni kehilangan esensial independensi seni bermoral. Loh kenapa begitu. Mau (?) Seni represif mengontrol anonim (?) Budaya telepon berdering di ruangan 'privat-kreatif, redaktur para media' alias pembatasan kebebasan pers. Semoga tak pernah terjadi di negeri ini, ehem ...

    **

    Hakikat seni sebagai kontrol sosial, bukan, antisosial. Lantas oke saja, ketika aturan sebagai sensor formal melindas, membatasi, kreativitas karena, uhui wow!

    Seni tidak melayani agitasi pesanan aturan formal. Seni melayani imajinasi, dasar dari hakikat moral seni pada pengkaryaan. Bukan pada aturan telah dipilihkan lantas, sunyi, sekali muncul sebagai klise.isme, tipe mono seolah-olah stereo, seni, fales pula, lagi, back to alegoris zaman itu.

    **

    Maju kena mudur kena akibat jalan sempit. Jembatan rusak ataupun tak ada jembatan penyeberangan di lintasan daerah terpencil untuk generasi Pelajar Pancasila, belum disentuh pemerataan perbaikan sarana umum sebagaimana telah ditetapkan. 

    Maka kemacetan menjadi seni tontonan di bawah langit suara gegap gempita acuan seni kandidat ini itu, sementara, waktu masih berjalan tengah membenahi sektor kepentingan sarana umum.

    Gemintang di langitpun bingung oleh keriuhan belum sampai waktunya matahari menerangi cahaya superstar di puncak gunungan kemaslahatan. Ketika, sesama anggota publik, mengalir hulu ke hilir memberi berkat kepada negerinya tercinta di ranah seni mengolah etos kreatif, ekonomi, perdagangan, kesederhanaan dari putaran penghasilannya.

    **

    Publik bukan wacana alih-alih untuk kepentingan abstraksi lukisan impresionisme, terlupakan ketika puncak tontonan selesai. Entah untuk tontonan apa, untuk siapa, dimanapun perhelatan keriuhan, berisik, membisingkan dengung belum sampai waktu tiba di batas kehendak aturan formal tatanan kesantunan seni tata tertib.

    Selesaikan saja dulu kekinian bermanfaat tengah mengalir ke sungai-sungai menuju lautan lepas sebagai kewajaran tak menuai badai. 

    Arus gelombang tsunami menghantam pantai (?) Bukan itu kehendak umum. Publik adalah negara, sebagaimana sebuah keluarga, sederhana, hanya ingin nyaman, damai di hati, bersama memberi keteladanan pelajaran politik, jernih sukma. Salam Indonesia Cinta Kasih Sayang.

    ***

    Jakarta Indonesiana, November 25, 2022.
    *) Foto Tempo Nasional

    Ikuti tulisan menarik Taufan S. Chandranegara lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.