Benarkah Gempa Bumi adalah Sebuah Bencana? - Analisis - www.indonesiana.id
x

PalBed. Bawaan Mensos, untuk tempat berbaringnya para korban gempa. Foto-Ist.

trimanto ngaderi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 September 2022

Sabtu, 26 November 2022 08:14 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Benarkah Gempa Bumi adalah Sebuah Bencana?

    Kurang tepat disebut bencana karena bisa jadi peristiwa itu membawa serangkaian kebaikan (hikmah) yang belum bisa kita temukan saat itu. Atau barangkali Allah punya rencana khusus yang kita belum bisa menguaknya. Persepsi manusia terkadang berbeda dengan persepsi Tuhan. Yang jelas, Mahasuci Allah dari perbuatan menzhalimi hambaNya. Jadi, menurut saya, yang lebih tepat adalah “peristiwa alam”, bukan bencana alam.

    Dibaca : 950 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Wa 'indahụ mafātiḥul-gaibi lā ya'lamuhā illā huw, wa ya'lamu mā fil-barri wal-baḥr, wa mā tasquṭu miw waraqatin illā ya'lamuhā wa lā ḥabbatin fī ẓulumātil-arḍi wa lā raṭbiw wa lā yābisin illā fī kitābim mubīn

    {Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)} – Al An’am: 59.

     

    *****

    Secara teologis (aqidah), kata “bencana” sepertinya kurang tepat. Sebagai seorang yang beriman, kita mempercayai dan meyakini sepenuhnya bahwa semua kehendak dan perbuatan Allah adalah baik adanya. Segala peristiwa yang terjadi di alam semesta ini tak lepas dari qudrat (kodrat) dan iradat Allah SWT. Manusia hanya punya satu pilihan, yaitu menerima dengan penuh tawakkal.

    Kurang tepat disebut bencana karena bisa jadi peristiwa itu membawa serangkaian kebaikan (hikmah) yang belum bisa kita temukan saat itu. Atau barangkali Allah punya rencana khusus yang kita belum bisa menguaknya. Persepsi manusia terkadang berbeda dengan persepsi Tuhan. Yang jelas, Mahasuci Allah dari perbuatan menzhalimi hambaNya. Jadi, menurut saya, yang lebih tepat adalah “peristiwa alam”, bukan bencana alam.

    Peristiwa gempa bumi dahsyat sudah terjadi sejak terciptanya alam raya, atau sejak nenek-moyang manusia, Adam-Hawa menempati dunia fana ini. Pada zaman Nabi Musa AS, ketika dia bersama 70 orang pilihan hendak menghadap Tuhan di gunung Sinai. Namun ke-70 orang itu meminta kepada Musa untuk memperlihatkan wujud Allah kepada mereka. Disebabkan oleh kedurhakaan mereka, maka terjadilah gempa dahsyat yang mengguncang dan menyebabkan mereka semua mati mengenaskan (Q.S. Al A’raf: 155).

    Gempa dahsyat juga pernah terjadi di zaman Nabi Syuaib AS. Penduduk negeri Madyan yang terus-menerus mendustakan dakwah nabi mereka, akhirnya ditimpa gempa bumi, sehingga mereka semua jatuh bergelimpangan. Tidak hanya rumah-rumah yang rusak, namun seluruh negeri mereka hancur dan binasa, serta tiada yang tersisa sedikitpun.

     

    Hakikat Gempa Bumi

    Setidaknya ada tiga hal penting yang perlu kita renungkan ketika terjadi gempa bumi, yaitu:

    1. Semuanya Hanyalah Titipan

    Coba kita renungkan baik-baik, mari kita berkotemplasi sejenak. Adakah sesuatu di dunia ini yang benar-benar milik kita? Ketika kita lahir ke dunia ini, kita tak membawa apapun. Hanya seonggok bayi telanjang yang menangis karena telah melakukan migrasi (hijrah) dari alam kandungan menuju alam dunia.

    Pun saat kita mati nanti, adakah sesuatu yang kita bawa ke liang lahat? Rumah mewah, tanah yang luas, kendaraan, anak-isteri, uang dan perhiasan, atau apapun juga. Tak satupun dari itu semua yang akan kita bawa. Semuanya akan kita lepas. Segalanya akan kita tinggalkan.

    Status kita hanyalah dititipi. Namanya juga menitip, logikanya boleh kan dia ambil lagi barang titipannya kapan pun Dia mau. Sekiranya rumah kita hancur rata dengan tanah, keluarga kita tertimbun bangunan atau tanah longsor, atau kita kehilangan segala sesuatunya yang kita miliki akibat gempa bumi. Lagi-lagi sebagai orang yang beriman, yang bisa kita lakukan tiada lain tiada bukan hanyalah MENERIMA, kemudian MENGIKHLASKAN.

    Bersedih boleh, tapi sewajarnya saja. Namun jangan sampai merasa kecewa, mengeluh, meratap, menyalahkan orang lain, terlebih menyalahkan Tuhan.

     

    1. Kekuatan Adikuasa

    Di balik alam semesta ini, ada dzat tak kasat mata yang mengendalikan dan mengatur. Dia tidak pernah tidur sedetik pun, Dia tidak pernah lalai barang sekejap pun. Dia Mahakuasa untuk menciptakan hujan, mengatur angin, menghembuskan ombak, memuntahkan lahar gunung berapi, menghidupkan dan mematikan makhluk hidup, dll.

    Dialah kekuatan adikuasa yang bernama Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Setiap peristiwa yang terjadi di alam semesta ini tak lepas dari kuasa tanganNya. Dari peristiwa yang besar hingga sehelai daun yang gugur ke bumi dan sebutir biji yang jatuh di kegelapan malam, semuanya berada dalam genggamanNya. Sebagaimana ayat Al Qur’an yang saya kutip di awal tulisan ini.

    Hal ini membuktikan bahwa manusia itu lemah, tiada memiliki daya dan upaya, tiada memiliki kuasa. Bahkan diri kita ini berada di bawah kekuasaan penuh Sang Penguasa jagad raya. Oleh karena itu, tidak sepantasnya kita merasa sok berkuasa, sombong, jumawa, meremehkan orang, atau mengecilkan pihak (kelompok) lain.

     

    1. Iman Kepada Qadla dan Qadar

    Salah satu ciri orang yang percaya adalah mengimani perihal qadla dan qadar, atau dengan kata lain meyakini akan adanya takdir Allah. Segala kejadian, baik maupun buruk, sesuai yang kita kehendaki atau tidak, sesuai yang kita harapkan atau tidak; semuanya telah tertulis secara lengkap dan detail dalam Kitab Lauhul Mahfudz.

    Siapapun dia, tidak akan bisa lepas dari takdir Tuhan. Siapapun kita, tidak akan bisa lari dari ketetapanNya. Ibarat kita sebuah personal wayang, kita hanya sekedar dijalankan (digerakkan) oleh sang dalang. Kita mesti menurut apa yang dikehendaki dan dimaui olehnya.

    Memang benar, manusia diberi kebebasan untuk memilih atau melakukan suatu usaha, tapi pada akhirnya keputusan ada di tangan Tuhan.

     

    *****

    Demikianlah, bangsa Indonesia saat ini sedang berduka akibat peristiwa gempa bumi yang menimpa saudara-saudara kita di daerah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Salah satu penyebab negeri ini sering mengalami gempa adalah Indonesia berada di area cincin api Pasifik dan juga banyaknya gunung berapi aktif.

    Namun, tahukah kita bahwa gempa bumi juga bisa disebabkan oleh ulah tangan manusia. Misalnya pengeboran minyak bumi dan gas alam, serta berbagai kegiatan penambangan lainnya. Selain itu, juga disebabkan oleh eksploitasi besar-besaran sumber daya air tanah dan struktur permukaan tanah yang telah mengalami penurunan fungsi.

    Sekiranya zaman nabi-nabi dahulu, peristiwa gempa bumi lebih kepada bentuk kemurkaan Allah atas kedurhakaan hambaNya. Bagaimana dengan saat ini, apakah gempa bumi Cianjur juga merupakan azab, murni kehendak Allah, atau ada kontribusi manusia dalam berbuat kerusakan di muka bumi? Wallahu a’lam bish-shawab.

    Ikuti tulisan menarik trimanto ngaderi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.