Stoikisme: Tiga Prinsip Dasar yang Membuat Bahagia - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Tutut Srigading

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 November 2022

Minggu, 27 November 2022 06:50 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Stoikisme: Tiga Prinsip Dasar yang Membuat Bahagia

    Apakah kamu seorang yang berpikir berlebihan atau over thinker? Artikel ini menjelaskan salah satu pandangan hidup, yaitu Stoikisme. Ini merupakan cara pandang dengan memfokuskan pada sesuatu yang bisa kita kendalikan, bukan pada apa yang tidak bisa dikendalikan.

    Dibaca : 673 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dari youtube Sherly Annavita Rahmi

    Apakah kamu seorang yang berpikir berlebihan atau over thinker, The center of attention, yaitu merasa butuh diperhatikan dan mempunyai ekspektasi yang tinggi? Nah, jika iya simak ulasan di bawah ini.

    Stoikisme bukan suatu aliran keyakinan atau kepercayaan yang memang bukan agama, namun stoikisme merupakan suatu sudut pandang yang bisa dilakukan dalam merespon apa yang  terjadi di sekitar kita. Stoikisme sudah ada sejak abad ke-3 sebelum Masehi yang diperkenalkan seorang filsuf bernama Zeno dari Citium Yunani. Kemudian banyak filsuf yang mengembangkan filosofis stoikisme ini seperti Marcus Aurelius, Epictetus, Seeneca.

    Menurut Stanford Encyclopedia of Philosophy, Stoikisme merupakan filosofi hidup dimana segala sesuatu dianggap netral, sehingga yang menentukan baik, buruk, berguna atau tidak sesuatu itu adalah pikiran manusia sendiri.

    Saat mengambil keputusan dan respon atas sesuatu yang terjadi di luar kita, namun itu adalah hasil dari kita mengelola informasi tersebut. Dan itu tentang mindset yang kita punya. Yang berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang akan menjadi sikap dan respon kita.

    Menurut yang dikatakan Sherly dalam videonya, prinsip dasar stoikisme ini tidak bertentangan dengan agama manapun. Seperti agama yang Sherly anut yaitu Islam, dalam Islam ada ajaran kita dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita lakukan bukan yang orang lain lakukan terhadap kita. Misalnya sebagai individu kita diminta untuk mempertanggungjawabkan atas tiga hal, yaitu pikiran, hati atau emosi, dan respon atau pilihan sikap yang terjadi di sekitar kita.

    Tiga hal yang menjadikan stoikisme menarik, antara lain, baik perempuan maupun laki-laki, lahir dimana dan kondisi sosial ekonomi seperti apa, kita harus mengontrol apa yang menjadi tanggung jawab kita. Dan tanggung jawab seseorang yang sedang dilakukan pastilah berbeda-beda.

    Kedua, kita akan mencoba sesuai batas kemampuan. Segala usaha yang kita lakukan disertai doa dan usaha maksimal namun hasilnya tidak sesuai, jangan menyerah karena mungkin kapasitas dan kemampuan memang belum layak mendapatkan apa yang diinginkan atau ditargetkan. Dan gagal dan ketidakberhasilan itu agar kita belajar untuk tahu kesalahan dan bagaimana kita merespon suatu kejadian tersebut yaitu keberhasilan maupun ujian dan cobaan yang tidak sesuai harapan kita.

    Ketiga, nasib kita  tidak akan pernah berubah jika kita tidak mengerjakannya, yang artinya masa depan itu tidak pasti. Untuk mencapai masa depan yang kita inginkan maka kita harus membuat masa depan itu terwujud dengan melakukan terbaik yang bisa kita lakukan dan fokus pada proses maka hasil akan menghampiri kita. Apapun hasilnya nanti entah itu berhasil atau tidak kita harus siap menghadapinya. Karena tidak ada ekspektasi berlebihan di awal, kalau harus sesuai dengan rencana kita. Karena tidak semua bisa dikendalikan oleh manusia, atau banyak hal yang terjadi diluar kendali kita. Namun kita harus berfokus pada hal yang bisa kita kontrol kita.

    Prinsip Stoikisme yang sudah Sherly lakukan :

    1. Dikotomi Kendali

    Kendali ada yang sifatnya internal tanggung jawab dan yang bisa kita dikontrol dan eksternal yang diluar tanggung jawab dan kendali kita. 2 sifat tersebut disesuaikan dengan posisi dan amanah yang kalian lakukan sekarang. Misalnya kita sebagai individu, sifat internal yang bisa dikontrol adalah pikiran, emosi, respon dan sikap yang di dalam kendali kita. Untuk eksternal  sesuatu yang diluar kontrol yaitu apa perkataan orang, pandangan orang, perbuatan orang dan lain-lain.

    1. Lakukan yang terbaik, bersiap untuk hasil terburuk

    Contohnya, saat kita bekerja kita melakukan pekerjaan dengan usaha yang maksimal namun tidak mendapatkan hasil yang maksimal misalnya belum naik jabatan, itu tidak masalah. Sedih, kecewa tidak apa-apa namun jangan menganggap itu emosi yang negatif, akui emosi tersebut dan alirkan emosi tersebut menjadi driven energy, maka kita akan banyak belajar dari emosi tersebut. Jika hal yang diluar kontrol kita jangan stress berlebihan dan fokus saja pada hal yang ada dalam kendali kita. Ada 3 hal alasanya yaitu kita tidak menyesal karena sudah berupaya maksimal, memberikan kita pengalaman dan pembelajaran, dan sudah mempersiapkan kemungkinan terburuknya.

    1. Amor Fati

    Epitectus pernah mengatakan bahwa, jangan berharap sesuatu terjadi seperti yang kita inginkan dan sebaliknya. Berharaplah yang terjadi, terjadi sebagaimana mestinya maka itu kita akan bahagia. Yang memiliki pesan tersirat yaitu, cintai dan terima apa yang terjadi dalam hidup kita bukan malah menggerutu, protes dan menyangkalnya.

    Ikuti tulisan menarik Tutut Srigading lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.