Motif Politik di Balik Pertandingan Sepak Bola - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi sepak bola. Gambar oleh Rub\xe9n Calvo dari Pixabay

trimanto ngaderi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 September 2022

Selasa, 29 November 2022 13:41 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Motif Politik di Balik Pertandingan Sepak Bola

    Pada kurun abad ke-18 dan 19 Inggris memiliki begitu banyak tanah jajahan di Asia, Afrika, dan Amerika. Sudah barang tentu pemerintah kolonial akan melakukan berbagai upaya melanggengkan kekuasaannya di tanah jajahan. Salah satunya adalah lewat pengenalan permainan sepak bola kepada warga pribumi. Kok, bisa?

    Dibaca : 1.280 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Di suatu senja;

    Ditemani rintik-rintik hujan;

    Di halaman rumah dengan tanah yang becek dan licin;

    Kami tampak begitu bahagia;

    Menendang bola yang terbuat dari gumpalan plastik.

    Mengingat kenangan masa kecil di era 80-an bisa membuatku tertawa kecil, namun sekaligus juga sedih. Tertawa kecil karena betapa senangnya waktu itu bisa bermain bola, bermain becek-becekan, dan hujan-hujanan, tentunya. Kami bertelanjang dada, pakaian dan tubuh kami kotor. Namun kami semua bisa tertawa, berteriak, berjingkrak-jingkrak, atau berjoged. Seakan kebahagiaan saat itu tak terlukiskan. Bahkan, kami tak menggubris omelan dari ibu kami yang meminta untuk segera bubar dengan alasan nanti sebentar lagi adzan Maghrib, atau dengan alasan lain nanti takut jatuh sakit.

    Di sisi lain, aku juga merasa begitu sedih. Mengapa begitu? Betapa miskinnya kami pada saat itu. Untuk membeli bola plastik dari toko pun kami tak mampu, apalagi membeli bola sepak beneran. Kami mengumpulkan kantong plastik bekas. Kami bentuk bulatan menyerupai bola dan kemudian kami ikat agar tidak lepas. Jika kantong plastik bekas tidak ada, terkadang kami menggunakan “debok”, batang pisang yang sudah kering, kemudian kami gulung-gulung berbentuk bulat. Ibarat pepatah, tak ada rotan-akar pun jadi.

    *****

    Permainan sepak bola begitu populer dan dimainkan oleh orang di seluruh penjuru dunia. Tua-muda, lelaki-perempuan, bahkan oleh penyandang disabilitas sekalipun. Klub-klub sepak bola bermunculan, mulai dari tingkat komunitas, hingga tingkat negara. Pertandingan sepak bola pun sering diadakan setiap rentang waktu tertentu atau momen tertentu, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional.

    Sejarah sepak bola sudah dimulai sejak zaman kuno. Pada masa Dinasti Han, masyarakat Cina sudah melakukan permainan bola yang terbuat dari kulit hewan dengan cara digiring dan dimasukkan ke dalam jaring. Sejak awal Masehi, masyarakat Mesir Kuno juga sudah memainkan bola dengan cara membawa dan menendang bola yang terbuat dari buntalan kain linen. Orang Yunani pada zaman dahulu pun sudah mengenal permainan bola, hal ini tampak pada beberapa relief di museum Yunani. Bahkan Suku Aztec pada masa Mesoamerika pun telah mengenal permainan ini sebagai acara ritual tertentu.

    Sepak Bola Modern

    Pada abad ke-12 M, banyak pihak di Inggris sudah menaruh perhatian sekaligus memberi pengakuan terhadap permainan sepak bola. Saat itu, masyarakat Inggris sangat menyukai olahraga ini. Sejarah sepak bola modern mulai benar-benar mengalami perkembangan besar pada tahun 1815. Beberapa universitas dan sekolah di Inggris menjadikan sepak bola sebagai salah satu olahraga bagi para pelajarnya. Akhirnya pada tahun 1857, berdiri klub sepak bola pertama di dunia dengan nama Sheffield Football Club di Inggris. Tak lama berselang, berdirilah Football Association (FA) sebagai asosiasi sepak bola Inggris. Seiring berjalannya waktu, sepak bola kemudian bisa tersebar ke seantero benua Eropa.

    Lantas, bagaimana sepak bola ini bisa masuk ke benua Asia dan Afrika? Atau dengan kata lain, bagaimana sepak bola ini bisa masuk ke dunia Islam?

    Kita tahu bersama bahwa pada kurun waktu abad ke-18 dan 19, Inggris memiliki begitu banyak tanah jajahan di Asia maupun Afrika, termasuk juga di Amerika. Sudah barang tentu, pemerintah kolonial akan melakukan berbagai upaya untuk melanggengkan kekuasaannya di tanah jajahan. Nah, salah satunya adalah lewat pengenalan permainan sepak bola kepada warga pribumi.

    Menurut beberapa pengamat dan pakar sejarah Islam, ketika para generasi muda pribumi sudah mulai menggandrungi sepak bola, tentu mereka akan melupakan kegiatan belajar atau mencari ilmu, melupakan nasib bangsanya yang sedang tertindas, dan melupakan perjuangan untuk merdeka. Sepak bola diharapkan dapat melalaikan dan meninabobokan para generasi muda pribumi dari berbuat sesuatu untuk bangsanya. Intinya adalah pengalihan perhatian.

    Dengan demikian, peran Inggris dalam memperkenalkan permainan sepak bola di dunia Islam (tanah jajahan) sangatlah dominan. Selain itu, para pelaut, penjelajah, pedagang, dan juga penginjil pun turut ambil bagian dalam memperkenalkan olahraga ini, baik ada motif politik maupun tanpa motif politik. Tidak hanya Inggris, pemerintah kolonial Belanda, Perancis, Jerman, Spanyol, Portugis, dll sedikit-banyak juga turut-serta mempopulerkan permainan ini di tanah jajahan mereka masing-masing.  

    Lebih jauh lagi, sebagaimana kajian yang pernah saya ikuti beberapa waktu silam, menurut teori konspirasi, bahkan event sepak bola (misal, Piala Dunia) memiliki agenda untuk menjauhkan umat dari nilai-nilai Islam. Seperti lupa menjalankan shalat, lupa belajar/mengkaji ilmu, lupa terhadap permasalahan-permasalahan ummat, dan terbawa arus hedonisme dan materialisme. Tapi saya tak hendak membahas hal ini lebih jauh.

     

    *****

    Pada era milenial saat ini, motif politik dalam permainan sepak bola mungkin saja masih ada, walaupun skalanya kecil. Yang jelas, sepak bola kini telah menjadi sebuah industri hiburan di bawah cengkeraman para kapitalis. Event pertandingan sepak bola bukan persoalan hiburan dan menang-kalah semata, melainkan bagaimana para kapitalis dapat mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya, terlebih dalam event Piala Dunia.

    Sepak bola tidak berbicara sebatas pemain dan bola sepak, akan tetapi juga persoalan modal (investasi), iklan, event organizer, sponsor, kontrak bisnis, dan berbagai hal lainnya yang bernilai ekonomis.

    Persetan dengan urusan politik, yang terpenting adalah urusan dollars.

     

    Referensi:

    Id.m.wikipedia.org;

    Kajian Komunitas KAZI;

    Channel YouTube “Ngaji Subuh”;

     

    Ikuti tulisan menarik trimanto ngaderi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.