Bagaimana Neuro Linguistik Programming Bekerja? Korelasi Tubuh dan Pikiran (2) - Analisis - www.indonesiana.id
x

pict by freepik.com

Idatus sholihah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 19 November 2022

Minggu, 27 November 2022 06:55 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Bagaimana Neuro Linguistik Programming Bekerja? Korelasi Tubuh dan Pikiran (2)


    Dibaca : 357 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pernahkah kita membayangkan ketika ada banyak kemudahan dan persoalan yang bisa dilewati ketika kita berhasil mengontrol emosi kita. Tentunya hal ini akan berdampak baik dalam relasi sosial kita kepada teman, keluarga, pasangan, rekan dunia kerja. Namun sayangnya, seringkali kita terjebak pada emosi yang mengakibatkan tindakan buruk, seperti amarah yang membuncah dan sulit kita kontrol.

     

    Sebagian besar dari kita berusaha keras untuk mengendalikan emosi dan menjadi pribadi yang tumbuh dengan emosi yang seimbang. Adanya kesadaran ini menjadikan kita semakin sadar dalam bertindak dan berperilaku atau merespon sistuasi tertentu. Namun tak jarang yang masih belum berhasil sebab sebagian besar dari kita masih berusaha untuk terlepas dari  sesuatu yang negatif. Namun ini adalah cara awal, kita bisa memanfaatkan ini untuk mengubah emosi negatif menjadi baik. Tentunya ini tidak berarti bahwa kita menghindari atau berusaha menghilangkannya, namun kita akan belajar merasakan dan mengontrol sehingga diri kita tidak dikuasai emosi.

    Langkah latihan lanjutan yakni kita berusaha menjadikan NLP sebagai bagian dari keseharian kita. Kita akan terus berusaha tentang proses pengendalian emosi dan menjaga pikiran untuk terus berpikir positif. Pada awalnya kita akan merasa bahwa secara sadar sepenuhnya kita akan berusaha keras untuk berpikir positif dan berusaha keras mengendalikan emosi, namun lama-lama jika kita rutin praktik maka secara otomatis akan kita lakukan secara tidak sadar karena sudah menjadi kebiasaan.

     

    Korelasi Pikiran dan Tubuh

     

    Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa pikiran manusia memiliki kemampuan untuk memahami bahasa tubuh. Bahkan seringkali manusia melakukan komunikasi tanpa berbicara sepatah kata.Pikiran dilatih sejak tahap awal untuk membaca isyarat fisik tentang bagaimana perasaan seseorang atau seberapa reseptif mereka untuk berbicara dengan sesama. Hal yang menakjubkan adalah pikiran dapat melakukan ini dengan tubuh kita.

    Lalu apa kaitannya dengan NLP?

     

    Tentu saja ini sebagai tanda bahwa kita bisa mengendalikan suasana hati. Cara kita duduk, berdiri, bernapas, dan melihat segala sesuatu pada akhirnya akan memberi isyarat pada tubuh untuk menyesuaikan suasana hati. Misalnya kita merasakan emosi kesedihan atau kemarahan yang ekstrem, perhatikan semua isyarat fisik yang ada pada tubuh.

    Masing-masing unik untuk setiap individu, tetapi kebanyakan orang yang depresi atau sedih akan membungkuk dan bernapas dengan lambat.Coba kita tarik ingatan kembali, bagaimana caramu membawa diri jika sedang marah? Apakah bernapas lebih keras dan lebih berat? Bagaimana ketika kita benar-benar bahagia atau bersemangat?

    Mengubah isyarat yang  diberikan ke otak  dapat langsung mengubah suasana hati. Ini tidak berarti bahwa kita akan langsung merasa bahagia karena kehilangan pekerjaan atau mendapat pemberitahuan pengusiran. Tetapi itu berarti kita tidak harus tinggal di tempat yang tertekan dan gelap dalam emosi kita. Bahasa tubuh atau komunikasi non-verbal, juga merupakan cara utama untuk menyampaikan suatu metode. Menggunakan NLP berarti kita lebih menyadari bagaimana tubuh  bekerja sama dengan kata-kata untuk memastikan bahwa pesan  ini tersampaikan dengan jelas dan otentik.

     

    Bagaimana Mengubah Emosi ?

     

    Untuk mengubah suasana hatidan emosi harus dilakukan dengan  latihan untuk sementara waktu sehingga kita memahami apa yang harus dicari. Lalu bisa memberikan sinyal ke otak tentang apa saja yang perlu diubah. Kita membutuhkan situasi dan  merasa nyaman dalam memahami  isyarat yang ada di pikiran kita dengan keadaan emosi apa pun. Kita bisa memulai dengan latihan berikut:

     

    • Luruskan punggung dan hilangkan sikap bungkuk ketika duduk atau berdiri.
    • Tarik napas dalam-dalam dan terkontrol.
    • Relakskan otot-otot wajah dan berikan senyuman di wajah.
    • Gunakan nada yang tenang dan ceria saat berbicara dengan orang lain.
    • Tutup mata dan bayangkan lingkungan yang tenang dan tenteram jika memungkinkan. (Ini tidak praktis jika kita sedang mengemudi, maka dapat menepikan mobil dan melakukannya) 
    • Anda akan segera merasakan kelegaan dari depresi, kecemasan tinggi, atau bahkan kemarahan.

    Tubuh kita akan mampu menangkap isyarat yang kita kirimkan melalui latihan tersebut. Saat  berlatih, cobalah menempatkan diri  dalam emosi yang turun. Yang harus kita lakukan adalah menggunakan fisiologi normal yang yakni bisa saat merasa sangat lelah atau tertekan. Maka ini akan bekerja dengan baik. Pastikan dan perkenalkan kembali perasaan yang lebih baik dan lebih bahagia sebelum kita melanjutkan aktivitas harian kita!

     

    Praktik Mengelola Emosi

     

    Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat ingin mengelola emosi, yakni:

    Identifikasi emosi: Identifikasi semua emosi kuat yang pernah dirasakan di masa lalu atau apa yang dirasakan saat itu. Tentukan apa yang memicu emosi tersebut. Semua perasaan itu valid, jadi jangan mencoba menilai diri sendiri karena ini bisa memicu lebih banyak emosi negatif, dan kita tidak akan bisa mengelola emosi seperti seharusnya.  Menyadari emosi akan memudahkan Anda mengelola emosi tersebut.

    Gunakan pengalih perhatian jika terjadi emosi yang meluap-luap: Saat emosi negatif meluap, pastikan bahwa kita tidak ingin emosi ini   mengendalikan tindakan, oleh karena itu, carilah cara untuk mengalihkannya. Cara terbaik untuk menghadapi emosi negatif adalah mencoba mengalihkan perhatian  ke aspek lain yang dapat dikelola dari situasi yang sama. Setelah  berhasil mengalihkan perhatian, maka akan dapat menemukan strategi untuk menangani emosi utama tersebut.

    Kelola reaksi: Cobalah sebisa mungkin untuk tidak segera bereaksi terhadap situasi tertentu. Setiap kali  menemukan diri kondisi diri dalam situasi  yang  diliputi emosi, jangan langsung bertindak. Cobalah untuk rileks dan keluarkan emosi. Dengan cara ini, kita dapat dengan mudah menemukan pelampiasan yang sehat untuk semua perasaan negatif yang mungkin dialami saat itu.

     

    Kita bisa mengelola reaksi dengan berbagai cara, misalnya berolahraga dan gunakan teknik pernapasan jika memungkinkan. Bicarakan dengan orang lain sebelum Anda bereaksi terhadap situasi tersebut. Jika tidak ada orang maka dapat mencoba menuliskannya di jurnal. Mengelola reaksi  sangat membantu untuk mengatur   emosi yang  meluap-luap. Kemarahan atau kepahitan paling baik diatasi dengan berolahraga, seni bela diri, atau fisik apa pun yang benar-benar akan menghilangkan perasaan itu.

     

     Membuat jurnal: Menuliskan perasaan  pada akhirnya dapat membantu dalam mengelola emosi. Kita  dengan mudah memahami emosi  dan mengetahui sebab  yangmenjadikan diri sangat emosional. Yang perlu kita lakukan hanyalah membaca apa yang telah ditulis dan mencoba memahami akar emosi. Dengan cara ini dengan mudah menentukan pola emosi  dan menyadari apa yang memicunya, dan pada akhirnya juga mendapatkan kendali atasnya. Membuat jurnal akan membantu menghilangkan stres, memecahkan masalah dengan lebih efektif, serta meningkatkan kesehatan mental.

    Menjauhkan diri dari emosi: Ini sangat penting karena akan sulit mencari solusi saat  berada tepat di tengah-tengah masalah. Akan sulit untuk mengelola amarah saat  sedang marah. Olleh karena itu tunggulah sampai emosi mereda  dan cobalah mencari solusi untuk masalah yang menyebabkan amarah. Saat  sedang marah, cobalah untuk membayangkan saat-saat bahagia dan ini akan membantu  menyadari bahwa kita pernah mengalami saat yang lebih baik. Ketika  mengalami depresi, pikirkan atau tulis tentang hari-hari ketika segala sesuatunya berjalan sesuai keinginan. Niat utama di sini adalah untuk mengalihkan perasaan buruk  ke emosi baik. Dengan cara ini, kita  akan memikirkan hal-hal positif. Akui bahwa emosi yang kita rasakan pada saat itu hanyalah salah satu cara  untuk dapat bereaksi terhadap situasi atau peristiwa tertentu dan bahwa ada cara lain untuk bereaksi terhadap situasi yang sama. Munculkan kemungkinan reaksi positif lainnya terhadap situasi tersebut sehingga Anda dapat bereaksi lebih baik di lain waktu.

    Definisikan emosi: Akui perasaan  dan beri nama; dengan cara ini,  akan mengendalikan perasaan itu. Perasaan  ditentukan oleh proses berpikir, pengalaman indrawi, serta sensasi fisik. Saat mendefinisikan perasaan, kita  harus menunjukkan ketiga komponen ini.  Misalnya  sedang sedih, cari tahu proses berpikir yang membuat  sedih, yaitu pengalaman indrawi yang berujung pada perasaan, serta sensasi fisik di balik perasaan itu. Ini akan membantu  memperhatikan perasaan bahkan sebelum perasaan itu mengendalikan emosi  kita. Begitu kita mampu melakukan ini, maka kita akan selalu bisa mengintervensi emosi  tepat waktu.

    Demikian beberapa cara dan langkah yang bisa dilakukan mandiri. 

    Ikuti tulisan menarik Idatus sholihah lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.