Jawaban Agnostik tentang Eksistensi Tuhan - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

image: painting by Alain Amar

atmojo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 28 November 2022 12:46 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Jawaban Agnostik tentang Eksistensi Tuhan

    Agnostisisme sebagai paham yang mengaku “tidak tahu” soal ada atau tidaknya Tuhan konon juga punya pengikut di Indonesia. Apa sebetulnya agnostisisme ini dan mengapa dia berkembang? Adakah nilai positif yang disumbangkan kaum agnostik dalam kehidupan bermasyarakat?

    Dibaca : 1.568 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Saya agnostik, jawab salah seorang teman dalam percakapan melalui  Whatsup ketika berbicara tentang keberadaan Tuhan. Lalu, dalam sebuah tayangan di TikTok, saya menyaksikan seorang ayah (non-muslim) yang mengatakan bahwa penganut agnostisisme memang ada di Indonesia. Karena itu ia sampai merasa perlu membuat buku untuk meyakinkan bahwa Tuhan memang ada. Saya tidak terkejut. Dalam filsafat ketuhanan, selain kata “ateis” atau ateisme, kata lain yang sangat sering disebut adalah “agnostik” atau agnostisime. Mungkin karena agnostitisme ini lebih mudah dimengerti dan dianggap cocok oleh pengikutnya dalam memandang kehidupan zaman ini. Karena itu, saat ini mudah ditemui kaum muda –apakah mereka sunguh-sungguh mengerti atau tidak -- yang menjawab “saya agnostik” apabila ditanya apakah dia percaya adanya Tuhan atau tidak.

    Apa itu agnostisisme dan mengapa dia berkembang begitu cepat? Tulisan pendek ini akan memberikan gambaran singkat, terutama buat mereka yang sebelumnya kurang memahami. Namun, saya ingatkan di awal, tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai bahan berdebat dengan mereka yang percaya adanya Tuhan (teis). Bagi mereka yang sudah meyakini adanya Tuhan baik secara rasional maupun pengalaman batinnya, agnostisime tetap akan dianggap salah atau tidak memadahi dalam usaha memahami eksistensi Tuhan.

    Konsep dasar agnostisisme sebenarnya sederhana, yakni “tidak tahu”.   Kaum agnostik menegaskan bahwa manusia, karena keterbatasan nalar dan pengetahuannya, tidak dapat mengetahui tentang ada atau tidaknya Tuhan secara pasti. Terasa rendah hati, sebenarnya. Kata mereka, manusia tidak dapat membuktikan, baik adanya maupun tidak adanya Tuhan. Bahkan secara filosofis pun kita tidak dapat mengetahui ada-tidaknya Tuhan. Jadi agnostisime ini tidak seekstrim ateisme. Ia tidak menolak adanya Tuhan, tetapi juga tidak secara gampangan mengakui adanya Tuhan. Bahwa Anda percaya adanya Tuhan, silakan saja. Itu urusan dan selera pribadi Anda. Tetapi, bagi penganut agnostisisme, kepercayaan Anda itu tidak berarti Tuhan benar-benar ada dan manusia wajib menyembahnya. Maka Tuhan—dan tentu saja agama—menjadi urusan pribadi.

    Kaum agnostik merasa diri tidak cukup tahu tentang adanya Tuhan, namun ia juga tidak mengklaim bahwa Tuhan itu tidak ada, karena mereka tidak memiliki bukti kuat untuk memberi justifikasi atas klaim tersebut. Pengetahuan manusia itu terbatas, sehingga meyakini atau menolak tentang suatu hal yang melampaui batas pengetahuan manusia itu sesungguhnya tidak absah.

    Menurut Robin Le Poidevin dalam Agnosticism: AVery Short Introduction (2010), orang pertama yang menggunakan istilah “agnostisime” adalah Thomas Henry Huxley (1825-1895), seorang dokter dan ahli biologi dari Inggris. Kemudian Leslie Stephen (1832-1904) dan filosof Herbert Spencer (1820-1903). Huxley menciptakan istilah itu pada 1869, saat dia aktif sebagai anggota kelompok Masyarakat Metafisika,  namun istilah itu baru populer pada 1878.

    Sebagai “konsep berpikir”, agnostisisme sudah ada sejak zaman Yunani Kuno. Orang biasa  merujuk pada Protagoras, salah satu tokoh kaum Sofis. Menurut Protagoras, manusia adalah ukuran untuk segala-galanya, yakni untuk hal-hal yang ada sehingga mereka ada, dan untuk hal-hal yang tidak ada sehingga mereka tidak ada. Pendirian ini kemudian disebut sebagai relativisme, karena kebenaran sepenuhnya tergantung pada manusia. Manusialah yang menentukan ada-tidaknya, benar-tidaknya, sesuatu. Dengan Sofisme, “pngetahuan” tidak lagi dilandaskan pada otoritas tradisional, melainkan “pengalaman dan pemahaman rasional”. Mengenai mitos adanya dewa-dewi, Protagaras mengatakan: “Saya tidak dapat tahu mengenai ada atau tidak adanya dewa-dewi”. Jadi dia tidak menolak, tetapi hanya mengatakan “tidak mampu mengetahui”. Sikap Protagoras itu dianggap awal dari agnostisisme.

                                                                               ***

    Kini, konon makin banyak kaum muda menyukai agnostisisme. Mengapa? Menurut J. Surdarminta, ada beberapa penyebab. Misalnya, karena terjadi pergerseran budaya berpikir dan berperilaku dari budaya Abad Pertengahan ke budaya Modern-Pencerahan. Perubahan itu membawa pergeseran dari alam pikir yang teosentris (berpusat pada Tuhan) ke alam pikir antroposentris (berpusat pada manusia). Konsep menusia juga berubah dari manusia sebagai peziarah di dunia (viator mundi) ke manusia sebagai tukang yang membangun sendiri hidupnya di dunia (faber mundi). Kalau pada zaman Abad Pertengahan Wahyu Ilahi sebagaimana tercermnin dalam Kitab Suci menjadi penentu utama kebenaran, pada zaman Modern-Pencerahan penentu utamanya adalah rasio atau akal budi manusia. Apa yang benar dan layak dipercaya tidak lepas dari pengujian hipotetisnya dalam pengadilan akal budi manusia. Kitab Suci sebagai dokumen iman kepercayaan umat beragama yang memuat kebenaran Wahyu Ilahi pun, isi kebnenarannya seringkali juga tergantung dari penafsiran manusia atas ayat-ayat yang ada di dalamnya, sehingga dalam satu agama yang sama pun tidak jarang ada perbedaan tafsir. Kita tahu  (atau sepengetahuan saya--KA) dalam satu agama pun ada beberapa aliran atau mazhab yang bisa memberikan tafsir berbeda atas ayat-ayat dalam Kitab Suci.

    Kemajuan sains dan teknologi juga disebut ikut memperngaruhi. Kini, sebuah pernyataan itu disebut ilmiah dan layak dipercaya kalau memiliki kandungan empiris dan dapat diverifikasi (sebagimana ditekankan oleh kaum Positivisme Logis) atau kemudian pada abad ke-20, suatu pernyataan disebut ilmiah apabila dapat difalsifikasi (sebagaimana ditekankan oleh Karl Popper dkk). Pengujian hipotetis ilmiah menjadi pengujian yang krusial atau bersifat menentukan bagi diterima atau ditolaknya hipotetis tersebut.

    Alasan lain, seperti juga sering dikemukakan oleh kaum ateis, adalah adanya kejahatan dan penderitaan orang tak bersalah di dunia ini, suatu kenyataan yang sulit didamaikan dengan kepercayaan tentang adanya Tuhan yang mahakuasa dabn sekaligus mahabaik. Kalau Tuhan itu sungguh ada, mahakuasa dan mahabaik, mengapa ada begitu banyak kejahatan di dunia ini, dan mengapa begitu banyak orang yang baik hidupnya malah menderita di dunia ini, sementara orang yang jahat malah sejahtera. Banyaj orang jujur malah hancur, yang curang malah menang. Kalau Tuhan itu memang ada dan mahakuasa, sunggukah Tuhan itu mahabaik? Berhadapan dengan realitas merajakekanya kejahatan dan banyaknya penderitaan orang yang tak bersalah di dunia ini, secara psikologis memunculkan disonansi kognitif tentang keberadaan Tuhan yang diyakini oleh umat beragama sebagai Yang Mahakuasa dan Yang Mahabaik sekaligus. Daripada meyakini suatu kepercayaan yang kebenarannya tidak dapat dipastikan, tetapi sebaliknya juga tidak dapat membuktikan bahwa Tuhan seperti itu tidak mungkin, maka orang emilih menjadi agnistik.

    ***

    .Jika boleh disebut “sumbangan positif” kaum agnostik adalah mereka menghindari atau terhindar dari perdebatan antar-agama tentang mana yang lebih benar, serta semangat penyebaran agama yang mengklaim dialah yang paling benar.  Dengan begitu tidak terjadi konflik sosial yang bagi kaum agnostik tidak perlu. Kaum agnostik mengakui bahwa agama memiliki nilai-nilai luhur dan itu merupakan sumbangan besar bagi moralitas bangsa. Tetapi, hal itu bukan karena Tuhan memang ada dan manusia wajib menyembahnya. Sekali lagi, kamu agnistik hanya mengatakan “tidak tahu” apakah Tuhan memang ada atau tidak ada karena mereka tidak bisa “membuktikannya”. Jadi kalau Anda tetap mengatakan bahwa Tuhan ada, ya silakan saja. Peganut agnotisime tidak keberatan.

    Kelanjutan dari pendirian kaum agnostik seperti di atas, banyak bidang kehidupan di dunia dapat berlangsung harmonis tanpa acuan agama. Dalam rana publik, afiliasi relijius tidak terlibat. Setiap orang dapat menjalankan profesinya dan berkomunikasi dengan baik tanpa mempermasalahkan keyakinan atau agamanya. Agama tidak menjadi jurang pemisah dalam berbagai kolaborasi kegiatan seni dan kegiatan kreatif lainnya. Agama juga tidak menjadi satu-satunya preferensi dalam memilih pimpinan nasional, misalnya.

    Lalu, apakah agnostisisme bebas dari kritik? Tentu saja tidak. Seperti sudah saya katakan di awal, bagi mereka yang betul-betul yakin bahwa Tuhan memang ada, memandang agnostisime dengan segala argumennya tidak cukup memadahi dalam memahami eksistensi Tuhan. Semoga di lain kesempatan kita bisa lihat lebih jauh melihat bagaimana argumentasi yang lebih serius dari kaum agnostik (misalnya dari Immanuel Kant) dan sekaligus argumen para pengeritiknya.

                                                                           ###

    Ikuti tulisan menarik atmojo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.